SETO: MEDIA MASSA KURANG CERMATI BAHAYA ROKOK

Seto Mulyadi

Jakarta, 11/3 (ANTARA)-Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi, di Jakarta, Kamis, menilai media massa kurang mencermati bahaya rokok yang terkandung dalam iklan-iklan, yang dapat meracuni pikiran anak-anak sebagai generasi muda bangsa.

“Saat ini bujuk rayu rokok dalam media massa semakin mengena pada generasi muda bangsa. Orang yang mulai merokok pada usia remaja biasanya tidak akan berhenti karena di dalam rokok terkandung zat adiktif,” ucap Seto Mulyadi dalam kunjungannya ke LKBN ANTARA.

Ucapannya itu disokong pula oleh penelitian yang dilakukan Komnas Anak tentang pengetahuan anak-anak tentang iklan rokok yang ada selama ini. Sebanyak 100 persen anak ternyata menonton iklan rokok di televisi, dan 87,6 persen anak mengetahui iklan rokok melaui billboard,

Selain itu, 76 persen anak melihat iklan rokok di koran dan majalah, serta 81 persen anak-anak mengetahui iklan rokok dalam berbagai sponsorship sebuah acara.

Komnas Anak, kata Seto, juga tengah berupaya agar Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pengamanan Zat Adiktif bagi Kesehatan diberlakukan. Aplikasi dari RPP tersebut adalah pelarangan iklan dan promosi zat adiktif di semua jenis media massa. Namun, beberapa pihak, seperti petani tembakau dan industri rokok, menentang pemberlakukan RPP tersebut.

Menambahkan keterangan Seto, dalam forum yang sama, Tubagus Haryo dari Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) mengungkapkan, dalam RPP tersebut bukan hanya iklan rokok yang akan dilarang, melainkan juga penyertaan gambar peringatan akan bahaya rokok dan penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Argumentasi yang dikeluarkan untuk menentang RPP ini selalu saja mengenai masalah ketenagakerjaan, kenaikan cukai rokok, dan kesejahteraan petani tembakau,” tukas Tubagus Haryo.

Menurut Tubagus, dengan pemberlakuan RPP tersebut, perusahaan rokok tidak serta merta merugi. Selain itu, petani tembakau juga tidak akan mengalami penurunan kesejahteraan karena umumnya petani tembakau menanam tanam yang bervariasi ketika sudah tidak dalam musim tembakau.

Sementara itu, Koordinator Advokasi Pelarangan Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok Komnas Perlindungan Anak, Dina Kania mengungkapkan, iklan-iklan rokok semakin agresif dengan kurangnya regulasi di Indonesia. Regulasi yang sangat lemah itu, kata Dina, memangsa anak-anak kecil.

Dina mengungkapkan, perusahaan rokok kelas dunia seperti British Tobacco Company dan perusahaan Phillip Morris memiliki kekuatan besar untuk mencari konsumen baru, yakni anak-anak.

Menurut Dina, beberapa merk rokok dengan iklan-iklan modern justru mengarah pada anak-anak dan remaja. Sedangkan untuk rokok-rokok kelas bawah pun langsung turun ke masyarakat untuk mempromosikan rokok mereka, dan sasarannya adalah anak-anak dan remaja.

Anak-anak dieksploitasi oleh rokok, tapi keuntungannya lari ke luar negeri,” tukas Dina.

Pembatasan iklan rokok, lanjut Dina, selama ini tidak berpengaruh. Menurut penelitian yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak, sebanyak 99,7 persen anak-anak melihat iklan rokok dan hafal slogan rokok.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA Akhmad Kusaini mengungkapkan, selama ini permasalahan tentang generasi muda, seperti bahaya rokok, prostitusi, dan anak-anak jalanan, justru luput dari pemberitaan media massa.

Media massa cenderung mengangkat berita-berita besar seperti terorisme dan korupsi, namun justru ada hal-hal yang luput dari pemberitaan,” kata Akhmad Kusaini.

(m.pps)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s