DPR SULIT GUNAKAN HAK MENYATAKAN PENDAPAT

Jakarta, 12/3 (ANTARA) – Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR Andi Rahmat mengemukakan, DPR sulit untuk menggunakan hak menyatakan pendapat dalam Kasus Bank Century, karena Partai Demokrat menempati 26 persen kursi DPR yang berarti tidak akan ada kesepakatan.

“Langkah selanjutnya yang mungkin dilakukan adalah mengawal berlangsungnya proses hukum atas kasus Century itu. Kemungkinan minggu depan, saya dan beberapa teman akan mengadakan kunjungan informal ke KPK untuk pengusutan kasus itu,” katanya dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Jumat.

Andi Rahmat meragukan peristiwa penyelidikan kasus Bank Century di DPR oleh Panitia Angket akan membahayakan koalisi yang telah terbangun.

Menurut dia, gesekan-gesekan antarpartai koalisi kerap terjadi sebelumnya, dan tak pernah  membahayakan koalisi.

Menurut Andi, pidato Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) pasca pengumunan hasil angket Century, mencerminkan kuatnya posisi presiden di Indonesia. “Presiden bisa menolak hasil angket,” tutur Andi.

Saat ini, lanjut Andi, partai koalisi sedang dirayu-rayu oleh SBY untuk tetap memberikan dukungan pada penyelenggaraan pemerintahan saat ini. PKS percaya Presiden tidak akan mengambil langkah dramatis untuk membongkar koalisi.

Sementara itu, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR Maruarar Sirait mengungkapkan bahwa tim sembilan atau inisiator hak angket kasus Bank Century akan mengeluarkan buku yang berisi proses penggunaan hak angket di dalam kasus Century, sebagai pertanggungjawaban kepada rakyat.

Maruarar Sirait menyayangkan munculnya tekanan-tekanan terhadap petinggi-petinggi partai atau panitia hak angket pada dua minggu sebelum hasil angket diumumkan.

“Kenapa masalah lima sampai enam tahun lalu baru muncul sekarang? Ada kasus pajak Aburizal Bakrie, Setya Novanto, Idrus Marham, dan lain sebagainya,” kata Maruarar Sirait.

Secara khusus, Maruarar berpesan kepada pengelola media massa untuk melakukan investigasi dalam kasus-kasus yang janggal dan mengawasi DPR dengan lebih ketat lagi.

“Kami berjanji akan tuntaskan masalah Century,” kata Maruarar.

3 Comments Add yours

  1. Ibu Ida Surabaya says:

    Permainan melelahkan orang-orang Golkar. Panjang dan panjang. Kemenangan mafia Golkar. Elshinta semalam diskusi kekosongan caketum PSSI saat ini. Diperlukan harusnya perombakan total, tak hanya Nurdin Halid yang harus dibekukan, PSSI dan seluruh cabangnya di daerah-daerah harus dibekukan/dibubarkan karena semua yang strategis masih dikuasai Golkar. Inilah ketika Golkar tak dibubarkan sedari awal ketika pelengseran Soeharto 1998. Mahasiswa waktu itu mabuk euporia dan hanya menerima lengsernya Soeharto, padahal sampai saat ini orang-orang Golkar tetap bercokol dimana-mana ngrecoki pemerintahan SBY. Selama SBY dan Menpora tak tegas dan tak membubarkan PSSI, jangan harap situasi berubah. Nurdin boleh pergi, tapi kalau masih banyak orangnya bercokol di cabang-cabang di daerah, percuma.

  2. Agustin says:

    Terlihat dari tv-tv asing, Libia warganya berdarah-darah. Lebih dari 2000 pengunjuk rasa dibantai brimobnya Kadapi, pemimpin gila Libia itu. Tapi TVOne dan MetroTV bisu, ada apa? Pemred mereka mungkin disuap pemerintah supaya tidak memberitakan revolusi di Timur Tengah, takut merembet ke Indonesia! Tidak menayangkan dan tak lagi diskusikan seperti saat Mubarak digulingkan. Sementara, pemerintah tak lagi evakuasi warganya. Kalau begitu evakuasi Mesir kemarin lebih tepat disebut untuk pencitraaan dong!

  3. Huo Huan says:

    Hak Interpelasi,angket, dan menyatakan pendapat? Itu tidak mungkin bisa. Ada banyak orang licin mirip belut mirip Akbar Tanjung dimana-mana. Sudah membudaya di negeri terkutuk itulah. Juga terutama karena TV-TV berita di Indonesia bukan milik organisasi independen. Ambil satu contoh saja. Soal macam mana untuk membuat sudut pandang bagus dan mempesona, mereka tidak mampu. Ambil contoh, televisi yang mengklaim number one itu? Ahaa! Selepas dikritik sebagai bisu akhirnya pada siang tadi Metro TV berakhir membuat tayangan sedikit tentang revolusi Timur Tengah khususnya Libia. Tapi sudut pandang dia-dia orang di televisi Indon itu pro Gadafi. Dilansirnya kata-kata Gadafi yang akan membagi senjata-senjata pada milisi pro rezimnya untuk bunuhi habis pengunjuk-rasa pro demokrasi. Rupanya dia-dia orang editor Metro TV ikut gila, atau mungkin dapat uang angpao dari Gadafi! Lagipun sudut pandang untuk uraian Yemen dibuat damai. Media TV memegang peranan utama dalam setiap perubahan pada demokrasi yang benar dan bukan demokrasi palsu seperti di Indonesia, dimana rakyatnya dibuat miskin-miskin, pejabat-pejabat juga presiden di Indonesia kaya-kaya! Ada bonus dan uang macam-macam, tidak hanya murni gaji poko. Ahaa! (Hou Huan, Singapore)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s