KEMATIAN TKI HARUS DISEJAJARKAN DENGAN PEJABAT

Karawang, 15/3 (ANTARA)- Kematian tenaga kerja Indonesia (TKI) harus disejajarkan dengan kematian salah satu pejabat karena derajat manusia sama.

“Buruh migran atau TKI tidak boleh lagi menjadi korban rekayasa sosial,” kata Ketua Gerakan Pemuda Ansor Karawang Eme Ahmad, dalam acara Pelatihan Advokasi Penghentian Perdagangan Manusia, di Karawang, Senin.

Untuk itu, katanya, tokoh lintas-agama hendaknya bisa duduk bersama, memikirkan dan membicarakan masalah perdagangan manusia yang semakin marak terjadi di Indonesia, yang dirasakan sebagai masalah semua umat manusia dari beragam agama.

“Tiap agama harus bersatu untuk menghadapi masalah yang sama, perdagangan manusia, meski dari golongan yang berbeda,” katanya.

Dia menilai untuk menghentikan masalah perdagangan manusia, ada empat hal yang perlu dilakukan.

“Kita harus meningkatkan perlindungan pada anak-anak, orang cacat, perempuan, dan kaum minoritas dalam perdaban, yang rentan menjadi korban perdagangan manusia,” tegas Ahmad.

Menurut Eme Ahmad yang juga tokoh agama Islam, semua agama pada dasarnya bersifat humanisme dan memberikan penghargaan atas hak asasi setiap orang.
Semua agama, lanjut Eme Ahmad, memiliki konsep pandangan berbeda-beda akan Tuhan. Namun, tujuannya tetap satu, yaitu saling mengasihi antarumat beragama dan selalu menyembah kepada-Nya.

Sementara itu, dalam forum yang sama, Pastur Danny Sanusi  yang merupakan perwakilan umat Katolik berpendapat, masalah perdagangan manusia sudah ada sejak dahulu dan berangsur-angsur berkurang sejak dideklarasikannya piagam Hak Asasi Manusia (HAM).

Namun, lanjut Pastur Danny Sanusi, perdagangan manusia kembali marak terjadi dengan cara-cara lain yang lebih halus.

“Migrasi sebenarnya sudah ada sejak zaman Abraham atau Ibrahim. Dia adalah sosok perantau. Praktik perdagangan manusia telah terjadi pada masa Ibrahim dan dialami bangsa Israel yang diperbudak bangsa Mesir. Itulah bentuk perbudakan pertama kalinya,” kata Pastur Danny Sanusi.

Senada dengan kedua tokoh sebelumnya, anggota Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Wawan Setiawan juga berharap agar semua agama bersatu padu melawan perdagangan manusia.

“Ini urusan bangsa, tidak mungkin hanya satu agama yang memerangi masalah ini. Kita harus bersatu,” tutur Wawan Setiawan.

Menurut Wawan Setiawan, praktik perdagangan manusia salah satunya dipicu oleh pertumbuhan peduduk yang begitu pesat tetapi tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Angkatan kerja begitu banyak, kata dia, namun lapangan kerja tidak memadai.

Selain ketiga tokoh agama tersebut, hadir juga perwakilan dari Gereja Kristen Pasundan dan Majelis Agama Buddha.

Acara Pelatihan Advokasi Penghentian Perdagangan Manusia diprakarsai oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) yang diikuti oleh Keuskupan Bandung, Keuskupan Bogor, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Surabaya, Keuskupan Malang, Pemerintah Daerah Karawang, dan organisasi lintas-agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s