KWI PELOPORI PELATIHAN ADVOKASI HENTIKAN PERDAGANGAN MANUSIA

Karawang, 15/3 (ANTARA)- Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) memelopori pelatihan advokasi berbasis Hak Asasi Manusia (HAM), yang diikuti peserta dari keuskupan seluruh Jawa dan organisasi lintas-agama, untuk menghentikan praktik perdagangan manusia.

“Masalah migran bukanlah masalah yang baru dan pada awalnya bukanlah hal yang jahat. Migran pertama adalah Adam dan Hawa yang bermigrasi dari Taman Eden menuju dunia,” kata Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau (KKP-PMP) KWI Mgr. Agustinus Agus di Karawang, Senin.

Menurut Mgr. Agustinus, migrasi dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan umum. Setiap migran adalah manusia yang memiliki Hak Asasi Manusia (HAM). Tak ada siapa pun yang berhak melarang hak-hak para migran.

Namun, lanjut Mgr. Agustinus, lama-kelamaan dampak migrasi membuat manusia menjadi srigala bagi sesamanya. Perlakuan tidak adil bagi para buruh migran merupakan bentuk dari keserakahan. Kejahatan perdagangan manusia bukan hanya kejahatan yang dilakukan kepada sesama, melainkan juga pada Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut data dari PBB, perdagangan manusia merupakan kejahatan terbesar ketiga di dunia setelah penjualan senjata dan narkoba. Pada tahun 2009 bisnis perdagangan manusia meraup untung sebesar 7-10  miliar dolar AS.

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan praktik perdagangan manusia dalam jumlah terbesar di dunia. Ini merupakan duka bangsa yang merupakan duka Gereja Katolik pula,” tutur Mgr. Agustinus.

Mgr. Agustinus berpendapat, manusia merupakan ciptaan Allah di atas segala-galanya. KWI berusaha mengembalikan kembali harkat manusia, lewat berbagai upaya dan mengajak berbagai elemen bangsa untuk turut serta menghentikan perdagangan manusia.

Senada dengan Mgr. Agustinus, Sekretaris Eksekutif KPP-PMP Pastur Danny Sanusi mengatakan, KWI menaruh perhatian besar terhadap kasus perdagangan bebas karena hal itu merupakan bentuk perendahan terhadap martabat manusia sebagai citra Allah dan bertentangan dengan sila ke-2 Pancasila.

“Manusia tidak lagi dilihat sebagai pribadi, tetapi sebagai
‘sesuatu’ atau alat dan sarana untuk pencapaian kekuasaan golongan tertentu,” kata Pastur Danny Sanusi.

Sejauh ini, kata Pastur Danny, Gereja Katolik mengadakan seminar dan pelatihan bagi para buruh migran, berusaha mendekati pemerintah agar megubah kebijakan publik berkenaan dengan TKI, serta mengupayakan adanya peraturan daerah anti-human trafficking dan perda tentang pengiriman TKI ke luar negeri.

Karawang
KWI memilih Karawang sebagai tuan rumah dari penyelenggaraan acara ini karena Karawang merupakan salah satu penyuplai terbesar buruh migran atau tenaga kerja dari Indonesia menuju luar negeri.

Sejak tahun 2007 hingga awal tahun 2010, Karawang menyuplai TKI sebanyak 12.399 orang. Dari hasil suplai TKI asal Karawang ke luar negeri, Indonesia mendapatkan cadangan devisa sebesar Rp25 miliar.

“Perdagangan manusia banyak terjadi di Karawang. Hal itu disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia di Karawang sehingga kalah bersaing dengan SDM dari luar sini,” kata Kepala Dinas Sosial Karawang Banuara Nadeak, dalam kesempatan yang sama.

Modus operandi dari perdagangan manusia ini adalah penipuan, manipulasi data, kekerasan, pemaksaan. Selain itu faktor yang menyebabkan terjadinya perdagangan manusia terdiri dari rendahnya pendidikan, kemiskinan, keinginan untuk cepat kaya, dan budaya.

“Karawang yang terletak di wilayah Pantai Utara itu punya ciri khas tersendiri. Karawang bisa jadi lahan empuk bagi para calo perdagangan bebas,” tutur Banuara.

Dari 30 kecamatan yang ada di Karawang, tutur Banuara, beberapa di antaranya merupakan tempat terjadinya praktik perdagangan manusia. Kecamatan tersebut di antaranya Batujaya, Pakisjaya, Cilebar, Pedes, Tempura, Cbuaya, dan Rawamerta.

“Fenomena perdagangan manusia ini seperti analogi gunung es di lautan. Yang terlihat hanya puncak gunung es, yaitu sebesar 15 persen saja. Sedangkan yang tertutupi air laut, artinya tidak diketahui praktiknya, sebesar 85 persen,” jelas Banuara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s