Di Sana Gedung Megah, Di Sini Perkampungan Kumuh…

3 10 2009

Jalan Braga adalah salah satu tempat terkenal di Bandung yang banyak didatangi pengunjung dari luar Bandung. Daya tarik Braga terletak pada bangunan lawasnya yang sudah “disulap” menjadi toko, café, dan tempat berbelanja. Banyak karya lukisan yang dijual di trotoar Braga. Selayang pandang tidak ada yang cacat di sepanjang jalan ini, pemandangannya memanjakan mata setiap orang.

Namun, pendatang dari luar Bandung tak akan menyangka bahwa di balik kemegahan toko-toko itu terdapat perkampungan kotor dengan rumah berpetak-petak yang dihuni orang-orang yang rata-rata tidak memiliki penghasilan tetap per bulannya. Di sepanjang jalan itu ternyata terdapat gapura yang berdiri diapit toko-toko; yang menjadi jalan penghubung menuju perkampungan kumuh tadi.

Saya tertarik memasuki salah satu gapura yang di atasnya bertuliskan “Jalan Apandi”. Awalnya saya melihat jajaran rumah sederhana yang masih layak huni. Semakin masuk ke dalam gang, rumah-rumah semakin berdempetan dan terkadang hanya menyisakan jalan setapak. Dari kali kecil di ujung gang, kita bisa melihat Hotel Aston berdiri di depan perkampungan kotor itu.

Ketika saya berjalan menyusuri gang, Jumat (14/11), warga melihat ke arah saya dengan pandangan bertanya-tanya. Karena saya orang asing di tempat itu, saya selalu menyungingkan senyum dan berucap “punten” setiap waktu. Mereka pun menjawab saya. Dalam perjalanan itu, saya menghampiri seorang bapak setengah baya yang sedang mengobrol dengan segerombolan ibu-ibu.

Bapak itu merespon saya dengan baik ketika saya mengatakan ingin mewawancarainya. Ia mempersilakan saya memasuki rumahnya. Bapak itu bernama Ujang dan berusia 60 tahun. Rumahnya berukuran 8×9 meter, itupun bersekat-sekat. Empat keluarga menempati rumah itu. Pak Ujang menempati bagian depan dan bagian atas rumah.

Sejak kecil Pak Ujang sudah tinggal di daerah Braga. Zaman dulu, pemukiman itu tidak sepadat sekarang; masih ada tanah lapang untuk bermain sepak bola. Kepadatan itu disebabkan keturunan orang-orang daerah itu yang semakin banyak dan tidak pindah dari tempat itu.

Pak Ujang tidak sempat menamatkan SMP pada tahun 1963 karena kehidupan orang tua Pak Ujang semakin miskin. Sejak itulah Pak Ujang mulai bekerja sebagai tukang atau kuli bangunan. Ia turut serta membangun Hotel Aston yang melindungi perkampungan itu dari pandangan. Penghasilannya dikumpulkan bersama penghasilan ayahnya untuk menghidupi delapan orang adik mereka.

Pekerjaan seperti kuli bangunan tidak memiliki pendapatan yang tetap setiap bulan. Jika ada job, sehari bisa mendapatkan Rp. 35.000,00 hingga Rp. 40.000,00. Itupun tidak mungkin bekerja selama sebulan penuh, paling banyak dua minggu. Jika proyek bangunannya jauh dari rumah, pendapatan itu dipotong dengan ongkos naik kendaraan umum.  Pendapatan terbesarnya sebanyak Rp. 240.000,00.

Pak Ujang mengaku bahwa ia tidak pernah mendapat pekerjaan dari toko-toko di sepanjang Jalan Braga. Beberapa kali ia pernah ditawari bekerja sebagai kuli jika ada yang membangun atau merenovasi toko. Tawaran seperti itu pun sangat jarang.

Meski pendapatannya hanya sebesar itu, Pak Ujang tidak menerima pendataan sebagai penerima BLT. Menurutnya, Ketua RT setempat tidak menganggapnya sebagai orang miskin. Ia tidak merasa sebagai orang yang mampu, bahkan jika tidak ada uang terpaksa meminjam dulu di warung.

“Daripada pemerintah ngasih BLT, mendingan perbanyak saja lapangan pekerjaan. Uang BLT pasti akan langsung habis terpakai,” ucapnya.

Semakin tua usia Pak Ujang, semakin ia kehilangan tenaga untuk bekerja.  Apalagi saat ini kesehatannya tidak begitu baik akibat penyakit asam urat yang dideritanya. Sudah dua bulan ini ia tidak mendapatkan pekerjaan sebagai kuli bangunan.

Pak Ujang merasa beruntung karena salah satu anaknya yang sudah bekerja masih mengiriminya uang. Walau taraf kehidupan Pak Ujang rendah, ia berpendapat anak-anaknya harus menamatkan SMA. Dua anaknya sudah lulus SMA dan bekerja, salah satu di antaranya menikah. Anaknya yang terakhir masih bersekolah.

Jika ada yang menawarinya untuk menjadi kuli bangunan, ia akan menerima pekerjaan itu. Inginnya jadi mandor, tapi apa daya para pemborong tak akan mempercayainya. Mereka akan lebih memilih mandor yang bersertifikasi. Padahal Pak Ujang sangat mengetahui permasalahan bangunan. Ia akan mengetahui mana mandor yang korupsi dan yang jujur. Menurutnya, bangunan-bangunan zaman sekarang banyak yang rapuh karena bahan-bahannya berkualitas rendah. Uang untuk membeli bahan berkualitas bagus sudah dikorupsi terlebih dahulu. Berbeda dengan zaman dulu yang lebih mementingkan kualitas bangunan.

“Saya lagi mau usaha jualan makanan keliling untuk mencari uang tambahan. Tapi belum ada modal, baru ada gerobaknya saja,” ujarnya sambil tertawa.

Pak Ujang memiliki cita-cita menjadi pemborong, namun cita-cita itu tak pernah kesampaian karena terbentur modal. Harapannya hanya agar harga-harga barang pokok dan BBM diturunkan. Ia merasa sudah tidak memiliki “rasa” terhadap pemerintah. Pernah suatu kali ia check up ke rumah sakit dan menunjukkan kartu Askeskin. Pelayanan yang diberikan rumah sakit itu hanya sekadarnya saja, berbeda dengan orang-orang yang memiliki uang. Ia kecewa dengan pelayanan itu. Katanya pemerintah memberi bantuan untuk kesehatan orang miskin, tapi ke mana uang dari pemerintah itu larinya?

“Buat makan aja susah sekarang. Nggak kebayang kalau saya sakit, cari nafkah berhenti tapi biaya makin besar,” keluhnya.

Mendengar kisah Pak Ujang yang tinggal di belakang Jalan Braga, Antropolog Selly Riawanti mengategorikan kehidupan Pak Ujang sudah termasuk miskin materi atau ekonomi. Ia mendefinisikan kemiskinan sebagai keadaan kekurangan materi. Orang dikatakan miskin biasanya karena berhubungan dengan materi dari segi ekonomi.

Dari kekurangan materi itu, bisa dilihat apa saja akibatnya. Akibatnya tidak bisa membayar pendidikan, tidak bisa membayar pelayanan kesehatan, dan tidak punya akses ke lembaga-lembaga yang penting karena kekuasaannya kecil. Tapi semuanya itu sebenarnya intinya adalah kekurangan materi.

“Ada juga orang mengatakan jika berpendidikan rendah, maka ia miskin. Tapi mengapa pendidikannya rendah ? Kebanyakan, sih, karena dia miskin maka pendidikannya pun rendah,” kata Selly.

Ketua Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu menjelaskan bahwa kemiskinan bukan karena dari dulunya seseorang miskin tapi karena dampak yang ada. Akan tetapi banyak sekali manusia di dunia yang terlahir dalam keadaan miskin, tiga generasi misalnya, seolah-olah itu memang sudah takdirnya. Ia mengajak kita berpikir mengapa ada nasib miskin yang seolah-olah merupakan warisan itu. Hal itu ada kaitannya dengan struktur yang lebih luas, bukan hanya dari keluarga itu sendiri.

Berdasarkan analisis Selly, miskin  biasanya terdapat pada masyarakat yang mengenal sistem perekonomian kapitalis. Kalau semua masyarakat meramu dan berburu makanan, maka tidak ada yang disebut miskin. Akan tetapi kalau mereka masuk ke dalam sistem kapitalis, maka mereka akan mulai membandingkan kehidupan mereka dengan orang-orang yang memiliki materi berlebih.

Ia melanjutkan, perbandingan itu bisa membuat suatu perubahan  pola pikir orang-orang terpinggir itu atau sama sekali tidak berpengaruh. Orang-orang yang hidup di pedalaman mungkin sebelum bertemu dengan manusia penganut kapitalis, tidak akan mempermasalahkan gaya hidupnya. Akan tetapi jika mereka bertemu manusia kapitalis, mereka mungkin akan merasa berkekurangan.

Selly menegaskan, “Kemiskinan ada dalam masyarakat yang memiliki keanekaragaman atau heterogen. Kalau semua masyarakat bersifat homogen, maka kekurangan materi tidak akan menjadi masalah. Perbedaan itu bukanlah dosa karena dalam masyarakat paling egaliter pun ada perbedaan, hanya tidak terlalu besar.”

Pemberian beras miskin (raskin) dan Biaya Langsung Tunai (BLT) dinilai Selly bukanlah upaya pemberantasan kemisikinan, melainkan hanya kompensasi kenaikan BBM. Umumnya BLT langsung habis dipakai, baik untuk membeli barang-barang yang diinginkan maupun hanya untuk membayar utang. Hidup orang-orang miskin umumnya berkutat kepada gali-tutup lubang.

Menurutnya, “memberantas” bukanlah sebuah tindakan, bukan kegiatan satu kali menyapu langsung lenyap. Pemerintah punya program-program, tetapi terbatas. Upaya dan program yang diberikan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan pun biasanya didelegasikan kepada pemerintah-pemerintah daerah yang kemudian didelegasikan kembali pada jabatan-jabatan di bawah mereka, baru sampai ke tangan rakyat.

“Pemerintah kita sudah berupaya banyak, tetapi masih belum memadai. Jadi pemerintah perlu bekerja sama dengan orang-orang lain dan memanfaatkan pranata sosial dan ekonomi yang ada dalam masyarakat, “ ujar Selly.

Ketika ditanya mengenai para pemilik modal di Braga yang tidak menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduk Braga, ia menjawab bahwa hal itu sangat manusiawi. Setiap pemilik lahan pekerjaan tidak akan sembarangan menerima pegawai, paling tidak mereka mengajukan syarat dan melihat latar belakang pendidikan. Sedangkan apa yang dipunyai para penduduk di belakang Braga?

Para pemilik modal di Braga akan sulit memberikan bantuan secara langsung kepada penduduk. Mereka bisa menyalurkan bantuan itu melalui pemerintah. Ia mempertanyakan  sudahkah ada lembaga atau institusi yang mengorganisasikan bantuan itu.

“Kelompok-kelompok agama ada yang memiliki organisasi penyaluran bantuan bagi orang-orang tidak mampu. Contohnya saja Gereja Katolik, mereka bahkan memiliki data lengkap umat mereka yang hiudp susah.”

Selly berpendapat, seringkali orang-orang yang tinggal di bantaran kali itu bukan orang asli daerah situ, biasanya mereka adalah pendatang. Biasanya orang-orang desa yang merasa berkekurangan secara ekonomi, akan mencari alternatif dengan datang ke kota. Akan tetapi  mereka sendiri tidak punya kerabat di kota. Pemerintah kota juga tidak mampu megakomodasi pendatang itu. Jadi mereka pilih keadaan seadanya.  Perpindahan penduduk itu terjadi karena adanya ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara di desa dan di kota. Jika keadaan ekonomi di desa sudah baik, maka mereka tidak akan meninggalkan desa. (Purwaningtyas Permata Sari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s