Gencar Melakukan Penelitian untuk Mencapai BHP

Anggaran Dana Realisasi Penelitian yang Berkurang

Meski Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) telah diresmikan sejak 17 Desember 2008, Universitas Padjdjaran (Unpad) memutuskan untuk tetap menyandang status Badan Layanan Umum (BLU). Berubahnya status Unpad menjadi BLU ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 260/KMK.05/2008 tentang Penetapan Universitas Padjadjaran. Surat keputusan itu berisi antara lain bahwa Departemen Pendidikan Nasional sebagai instansi pemerintah menetapkan pengelolaan BLU, tertanggal 15 September 2008, ditandatangani oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Perubahan status Unpad ini tentu membawa dampak bagi berbagai sektor kerja di Unpad. Status BLU ini mengharuskan Unpad untuk membentuk lembaga-lembaga di dalamnya agar lebih terstruktur, efisien, ramping, dan kaya fungsi. Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) dan Lembaga Penelitian (Lemlit) adalah dua lembaga yang merasakan dampak tidak langsung dari diterapkannya status BLU ini.  Terhitung mulai bulan Desember 2008, LPM dan Lemlit dileburkan dan berubah nama menjadi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM).

Ir. Chay Ashak, M.Sc, Sekretaris LPPM Unpad berpendapat dengan peleburan antara Lembaga Penelitian Masyarakat dengan Lembaga Penelitian sebenarnya tidak terkait dengan BLU. Ide dari BLU adalah mempercepat proses pencairan dana, maka tidak perlu melalui KPN. Efek dari percepatan proses pencairan dana itu, menurut Chay, diadakannya efisiensi tenaga sumber daya manusia dan keuangan.

“Efisiensi dalam bidang Lembaga Pengabdian Masyarakat dan Lembaga Penelitian yang tadinya berdiri sendiri-sendiri sekarang digabungkan. Saya kira itu keterkaitannya dengan BLU,” kata Chay yang ditemui di Kantor LPPM di Jalan Cisangkuy, Bandung, pada Selasa (24/2).

Chay menjelaskan pembaharuan Unpad melalui status BLU ini terkait dengan masalah mekanisme perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian serta pengawasan keuangan. Dalam tubuh LPPM sendiri tidak terlalu banyak mengalami perubahan secara drastis dalam anggaran. Perbedaannya, mekanisme pemberian anggaran akan dipercepat.

Selain itu, jumlah dana untuk penelitian akan meningkat tetapi lebih banyak berasal dari luar Unpad. Pada tahun 2009, LPPM mendapat alokasi dana 15 milyar rupiah dari DIKTI sebagai akibat kenaikan 20 persen anggaran pendidikan nasional. Sedangkan untuk penelitian Andalan didanai sebesar 2 milyar rupiah dari DIPA Unpad. Dana-dana yang lain kurang lebih berasal dari luar Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), yaitu Kementerian Negara Riset dan Tekologi (Kemeneg Ristek) dan Departemen Sektoral (Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Departemen Dalam Negeri, dan lain-lain). Total alokasi untuk LPPM, baik internal maupun eksternal,  sekitar 20 milyar rupiah.

“Dana untuk penelitian akan turun lebih cepat. Jadi, dana-dana dari Depdiknas yang yang berjumlah 15 milyar rupiah langsung dikirim ke rekening rektor. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan dana yang turun dalam waktu yang lebih cepat ini. Kalau dulu dari keuangan negara melalui KPN (kepanjangannya?) lalu  turun ke rektor, kemudian akhirnya baru akhirnya ke Lemlit,” tambah Chay.

Pada tahun 2008, jumlah total anggaran dana dari usulan penelitian adalah Rp.29.051.228.473,00. Jumlah anggaran usulan penelitian ini berkurang dari tahun 2007 yang berjumlah Rp.34.781.268.000. Padahal sejak tahun 2004, anggaran usulan penelitian terus bertambah secara signifikan hingga tahun 2007.

Sedangkan untuk anggaran realisasi penelitian—yang artinya proposal penelitian yang diterima—pada tahun 2008 adalah Rp.4.212.568.700,00. Jumlah ini juga menurun dibandingkan tahun 2007 yang jumlah anggaran realisasi penelitiannya mencapai Rp.7.094.341.000,00. Sama seperti anggaran usulan penelitian, anggaran realisasi penelitian ini terus meningkat sejak tahun 2004 hingga 2007, tapi jumlah itu menurun pada tahun 2008.

Meski ada anggaran penelitian sebesar 20 milyar rupiah yang berasal dari berbagai sumber, ternyata uang tersebut tidak harus dihabiskan seluruhnya. Dana dari Depdiknas yang berjumalh 15 milyar rupiah itu pun akan itu dievaluasi hasilnya. Jika hasilnya baik, maka aka nada kemungkinan anggaran itu akan ditambah pada tahun 2010. Namun, jika hasilnya tidak baik, maka aka nada kemungkinan jumlah itu didiskredit.

“Tidak lantas kita mengatakan dengan anggaran pendidikan 20%, anggaran penelitian akan besar. Ini akan bergantung pada bagaimana kualitas hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2009. Kita tidak boleh taken for granted karena kalau begitu kita ikuti saja prosedur aplikasi keuangan dengan kualitas yang biasa-biasa saja sehingga tahun depan akan mendapatkan dana dengan jumlah yang sama,” lanjut Chay.

Unpad mengalokasikan dana untuk Penelitian Peneliti Muda (Litmud), Penelitian Khusus (Litsus), dan Penelitian Andalan sebanyak 2 milyar rupiah. Jumlah itu tidak harus dihabiskan semuanya. Penelitian Andalan  berbeda dengan Litmud. Litmud ditujukan untuk mengembangkan dosen muda. Sedangkan Penelitian Andalan ditujuam untuk mencari penelitian terbabaik sehingga sifatnya pun sangat kompetitif. Proposal Penelitian Andalan pun diseleksi.

Menurut Chay, salah satu konsekuensi dari cepatnya pencairan dana penelitian dan besarnya jumlah dana tersebut adalah kualitas penelitian yang harus semakin ditingkatkan. Unpad ingin meningkatkan kualitas tersebut. Salah satu cara meningkatkannya adalah  dengan mengukur haki dan jurnal internasional terakreditasi.

Berharap Jumlah Penelitian akan Lebih Banyak dan Berkualitas

Sebelum Unpad menjadi BLU, banyak penelitian yang terganggu dan tidak berjalan mulus karena dananya tidak diberikan tepat waktu. Ketidaktepatan pemberian dana dari KPN yang terkesan berputar-putar tersebut disiasati Unpad dengan memberikan talangan terlebih dahulu kepada Lemlit. Akan tetapi, pemberian uang talangan tersebut dilakukan belakangan. Chay berharap pada tahun 2009 tidak terjadi lagi seperti itu.

“Semestinya ini akan membawa ketenangan bagi para peneliti  karena peneliti lantas bisa melaksanakan penelitiannya sesuai dengan yang ia rencanakan. Jadi kami membantu mereka dalam proses percepatan pengadaan dana tadi. Pada akhirnya harapannya hasilnya akan lebih baik karena peneliti tidak lagi harus menunggu-nunggu. Meski dulu ada talangan, tapi kan talangan datangnya juga tidak cepat,” kata Chay.

Hal senada juga diungkapkan oleh Prof. Dr. H. Engkus Kuswarno, M.S, salah seorang Dosen Jurusan Manajemen Komunikasi Fikom Unpad. Dengan status BLU ini bukan berarti mempermudah segalanya, melainkan adanya kemudahan untuk pendanaan. Akan tetapi, BLU juga menuntut kinerja yang lebih bagus. Engkus berharap  dengan diberikannya peluang yang lebih besar, penelitian pun semakin banyak dilakukan, jangan hanya mendominasi proses mengajar saja.

”Semestinya ada peningkatan jumlah penelitian karena pencairan dana lebih mudah. Saya menduga apakah dosen lebih fokus pada bidang pendidikan sehingga mengajar terus?” kata Engkus.

Pada tahun 2008 usulan judul penelitian yang masuk ke Lemlit berjumlah 565. Jumlah itu berkurang setelah pada tahun 2007 jumlah usulan judul penelitian yang masuk adalah 688.Padahal usulan judul penelitian terus meningkat sejak tahun 2004 hingga 2007. Jumlah realisasi penelitian pada tahun 2008 pun berkurang dari tahun 2007 yang sebanyak 359, yaitu 164.

Jumlah individu yang melakukan penelitian pada tahun 2008 disinyalir tidak mencapai jumlah 164 orang. Hal itu terjadi karena adanya double counting, yang berarti memungkinkan satu orang terlibat dalam lebih dari satu penelitian. Sebagian dosen  hanya nebeng nama saja sehingga tidak maksimal dalam meneliti. Dosen seperti itu hanya mementingkan kenaikan pangkat. Menurut Chay, semestinya kemauan mereka untuk meneliti sama besarnya dengan kemamuan mereka untuk naik pangkat.

LPPM melakukan upaya-upaya dalam meningkatkan kualitas penelitian di Unpad dengan berbagai macam penelitian-penelitian. Misalnya dengan mengundang  pakar-pakar dalam berbagai bidang dengan memberikan tips dan trik-trik dalam membuat proposal. Setelah ada pelatihan yang kolektif, staf LPPM datang ke fakultas-fakultas untuk menjelaskan hal-hal  yang disebut coaching clinic. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan acceptance rates. Acceptance rates untuk penelitian di Unpad masih di bawah 30% dari keseluruhan jumlah usulan penelitian.

“Kelihatannya tahun ini acceptance rates-nya akan naik, mungkin karena kenaikan dana pendidikan yang 20% tadi. Akan tetapi kita harus meningkatkan kualitas hasil penelitiannya, itulah fokus kita,” kata Chay.

Chay mengharapkan dalam satu tahun setiap Fakultas  dapat membuat satu haki atau paten. LPPM tentu  membuat rencana bahwa jumlah peneliti bertambah. Paling tidak  jumlah peneliti bisa naik sebesar 10 persen  per tahun

“Budaya penelitian itu masih sedang diramu, maka kami (LPPM, red) lebih fokus kepada peningkatan fasilitas bagi peneliti. Setelah 50 tahun, Unpad baru berbicara demikian, tapi itulah faktanya budaya meneliti masih belum seperti yang diharapkan,” jelas Chay.

Engkus termasuk salah satu dosen yang aktif melakukan penelitian sejak tahun 1988. Ia mengakui pertama kali melakukan penelitian adalah untuk menambah penghasilan. Namun, belakangan ia menyadari bahwa keinginan untuk meneliti sesuatu lebih besar.

Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi ini berisi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Engkus menyanyangkan  para dosen terlalu banyak mengajar sehingga penelitian dan pengabdian pada masyarakat pun berkurang.

Bagi Efi Fadilah, Dosen Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad, Tri Dharma Perguruan Tinggi idealnya dilakukan secara seimbang. Evi mengakui kendala yang dipunyainya untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah keterbatasan waktu, terlalu banyak terpakai untuk mengajar.

Efi mengakui sejak dirinya menjadi dosen di Unpad sejak 2003 dan diangkat menjadi pegawai negeri sipil pada tahun 2008, ia baru sekali mengajukan proposal penelitian, yaitu pada awal tahun 2009 ini. Proposal penelitian yang dilakukan dalam tim tersebut sudah masuk ke LPPM, tapi waktu pengerjaan penelitian itu belum diketahui karena harus menunggu persetujuan dari LPPM.

“Terkadang bukan dosen yang tidak mau melakukan penelitian, tapi waktu yang kami punyai sedikit. Kalau hanya mencari alasan untuk tidak meneliti, sih, banyak. Ketika ada dorongan seperti itu, ya kami pergunakan sebaik-bainya untuk  penelitian. Penelitian itu bisa dari interest kami atau bidang kajian kami masing-masing karena berdasarkan kemampuan kami masing-masing,” kata Efi.

Menurut Efi, kalau para dosen membuka pikiran atau lebih fokus, ketika sedang mengajar, mereka  bisa menemukan hal untuk mereka teliti dan menemukan bahan untuk pengabdian masyarakat. Jadi, sebenarnya hal itu bisa bersinergi.

Ine Maulina, Dosen Program Studi Perikana Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), sependapat dengan Efi bahwa hal untuk diteliti bisa ditemukan di dalam kelas. Ine biasa memberikan tugas meneliti bagi para mahasiswanya. Dari situ ia bisa menemukan hal-hal yang bisa ia perdalam untuk diteliti.

Menurut Ine, pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi tidaklah sulit dilakukan. Ine melakukan penelitian karena hal itu sudah menjadi semacam hobi baginya. Sejak dirinya menjadi dosen pada tahun 2002, ia sudah membuat proposal-proposal penelitian. Dua tahun pertama, yakni 2002-2003, penelitiannya selalu ditolak oleh Lemlit. Akan tetapi, mulai tahun 2004-2009, proposal penelitiannya diterima.

Mengenai kinerja Lemlit selama ini, baik Ine maupun Engkus menilai tidak merasakah kendala berarti dalam pengajuan proposal dan dalam melaksanakan penelitian.

“Mereka (Lemlit, red) sudah cukup mengakomodasi karena mereka juga bekerja keras. Sejauh ini saya merasa relatif tidak ada hambatan. Saya sebagai peneliti terkadang diingatkan oleh mereka perihal laporan saya yang belum masuk,” aku Engkus.

Hanya saja terkadang dana penelitian yang diberikan Unpad dirasa kurang mencukupi, ujar Engkus. Pernah suatu saat pada tahun 1993 untuk menyiasati kurangnya dana penelitian Engkus melakukan ‘silaturahmi’ dengan bupati atau walikota di daerah-daerah yang dijadikannya tempat penelitian. ‘Silaturahmi’ ini diartikan sebagai pendanaan yang diberikan oleh para pemimpin daerah berkenaan dengan penelitian yang dilakukan di wilayah mereka.

Engkus berharap agar penelitian-penelitian yang sudah dilakukan dipublikasikan kepada masyarakat agar bisa berguna. “Cita-cita Unpad kan menjadi world class university. Bagaimana mungkin itu terwujud jika tidak melakukan penelitian? Dan penelitian-penelitian itu semestinya dipublikasikan,” imbuhnya.

Penggalangan Dana dari Sektor Swasta

Dana sebesar 20 milyar rupiah tadi sama sekali bukan berasal dari sumber swasta, masih dari pemerintah. Unpad masih belum bisa menggalang dana dari seckor swasta. Padahal di negara-negara maju, dukungan dana terbesar adalah dari swasta. Unpad sudah melakukan penggalangan dana dari sektor swasta, tapi jumlahnya belum seeperti yang diharapkan, utamanya masih dari sumber pemerintah.

Fungsi LPPM masih belum menjadi revenue center (lembaga penghasil keuangan).  Menurut Chay, bila LPPM telah menjadi revenue center, LPMM akan membetuk ‘sayap komersial’. Sayap komersial dapat diartikan sebagai unit kerja komersial. Tahun 2009 ini belum terbentuk, mungkin pada 2010 baru akan terbentuk.

Meski Unpad telah menyandang status BLU, Unpad masih tetap mendapatkan alokasi dana 15 milyar. “Jangankan mantan universitas negeri, unversitas swasta saja mendapat dana bantuan. Hanya untuk membedakan, Unpad belum bisa membuat sayap komersial sehingga penelitian dngan swasta, kita belum bisa ikut tender,” kata Chay.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s