Ayo Kaum Muda, Sekali Lagi Bangkit

Nyanyian lagu-lagu kebangsaan bergelora di Teater Tertutup Taman Budaya Jabar yang terletak di Jl. Juanda Bandung pada 28 Oktober 2008. Para tamu yang telah hadir masuk ke dalam suasana khidmat. Ruangan besar itu dibiarkan dengan penerangan remang-remang dengan cahaya lampu kuning.

Saat itu segera dilangsungkan Kongres Kaum Muda Jawa Barat 2008, yang bertajuk “Kepemimpinan Kaum Muda dalam Krisis Kebangsaan”. Panitia acara ini adalah Forum Aktivis Bandung (FAB) yang juga terdiri dari mahasiswa-mahasiswa dari berbagai universitas di Bandung.

Delapan puluh tahun lalu kongres serupa pernah ada. Pada tahun 1926, Kongres Pemuda Pertama digagas oleh lima organisasi pemuda yang diketuai oleh Mohammad Tabrani Soerdjowitjitro. Kongres itu pun diselenggarakan pada hari Minggu, 28 Otober 2008.

Waktu pun bergulir hingga pukul 10.00 WIB. Padahal waktu yang ditentukan semestinya Kongres Kaum Muda 2008 dimulai pada pukul 09.00 WB. Semakin siang justru penonton semakin banyak memenuhi ruangan berdesain teater tersebut.

Animo para tamu meningkat ketika akhirnya pembawa acara muncul dan menyapa para tamu. Serentak para tamu berdiri ketika pembawa acara mengajak mereka menyanyikan Indonesia Raya.

Sementara itu di belakang pembawa acara, orang-orang berpakaian hitam khas jawara Sunda mempersiapkan dupa, kemenyan, kecapi, dan suling di panggung.

Properti aneh yang dibawa orang-orang itu membangkitkan rasa penasaran para tamu. Rupanya mereka adalah kelompok teater Lentera Nusantara. Kelompok teater yang berjumlah kurang lebih enam belas orang itu melafalkan semacam mantra dan doa dalam bahasa diiringi dengan petikan kecapi dan tiupan suling. Pembawa acara menyebutnya sebagai rajah pembuka, semacam doa orang tua-orang tua Sunda zaman dahulu.

Setelah doa selesai dibawakan Lentera Nusantara, acara pun bergulir ke pembacaan Pledoi Indonesia Menggugat milik Soekarno. Pada tahun 1930, Soekarno muda membacakan pembelaaannya atas tuduhan pencemaran nama baik Belanda. Pledoi itu dibacakan di sidang yang diselenggarakan di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.

Pembacaan petikan naskah Indonesia Menggugat yang dipidatokan oleh Soekarno 78 tahun lalu dilakukan oleh Wawan Sofwan. Aktor dan sutradara itu seolah memerankan tokoh Soekarno, dengan mengikuti cara bicara dan gerak tubuh Soekarno. Penampilan Wawan membangunkan orang-orang yang berada di tempat itu. Semuanya terpukau seolah melihat Soekarno hadir kembali.

Para tamu yang hadir kebanyakan memang kaum muda dari kalangan aktivis, mahasiswa, pelajar SMA, dan politisi. Sekitar 1000 orang penonton bertepuk tangan riuh dan bersorak kagum mengikuti jalannya acara. Empat belas orator akan  tampil membius tamu dengan buah pikiran mereka. Satu inti dari orasi mereka, yaitu “Ayo Kaum Muda, Sekali Lagi Bangkit!”

Sejarah mencatat Kongres Pemuda Pertama tahun 1928 bertujuan untuk menggugah semangat kerja sama di antara bermacam-macam organisasi pemuda di tanah air kita, supaya dapat diwujudkan dasar pokok lahirnya persatuan Indonesia, di tengah-tengah bangsa di dunia. (Tempo, Edisi Khusus 80 tahun Sumpah Pemuda, 27 Oktober-2 November 2008, halaman 31)

Hal senada diungkapakan Ketua FAB Radar Tri Baskoro dalam pidato sambutannya bahwa kaum muda 80 tahun yang lalu tampil ke depan dan membela bangsanya. Bangsa Indonesia mengalami penjajahan dari kaum elit bagi masyarakat kebanyakan.

“Kita di sini untuk menyalakan lilin. Ini waktunya generasi muda untuk memimpin. Zaman baru bukanlah zaman yang indah, melainkan zaman yang berat. Dengan lilin kita semua, kita bisa menjadi sinar bagi bangsa kita dan bangsa sedunia,“ seru Radar di akhir pidato.

Tepukan riuh kembali bergelora di teater tertutup itu. Berakhirnya pidato Radar menyadarkan para tamu akan tujuan acara hari itu, seperti yang dikatakan Ketua Panitia Kongres Kaum Muda Dadang Sudardja, “Tujuan diselenggarakannya acara ini bukan sekadar rutinitas tetapi kita ingin mengulang sejarah tentang pentingnya semangat kaum muda.”

Pada masa lalu para penggagas dan peserta Kongres Pemuda Pertama terdiri para pemuda, yakni Mohammad Tabrani Soerdjowitjitro, Mohammad Yamin, Bahder Djohan, Sumarto, Paul Pinontoan, dan Jan Toule Soulehuwij. Sedangkan Kongres Kaum Muda 2008 dimeriahkan dengan orasi-orasi dari para kaum akademisi, politisi, seniman, sastrawan, dan aktivis Indonesia.

Sastrawan yang pernah menjadi wartawan Kompas Radhar Panca Dahana menjadi orator pertama yang mendapat kehormatan menyampaikan orasinya. Ia mengatakan imperialisme dan kapitalisme telah membuat bangsa menjadi zombie, hidup tetapi secara substansial mati. Imperialisme dan kapitalisme telah menjelma menjadi diri kita, bukan hanya para pengeruk kekayaan. Hal itu lebih jahat dari  penjajahan, sebab yang melakukannya saudara sendiri.

“Para pejabat hanya korban dan pengikut dari paham imperialisme dan kapitalisme saja. Maka, orang muda munculkanlah narasi baru,” kata kolumnis harian Kompas itu.

Orator sesudahnya, yakni Direktur Eksekutif Walhi Chalid Muhamad mempertanyakan apakah bangsa kita sudah benar-benar merdeka. Hal senada diungkapkan juga oleh Budi Praptono, Mantan Ketua FAB, “Kapan Indonesia akan bangkit mandiri? Mandiri bukan berarti mengisolasi diri.”

Sedangkan Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf mengajak kaum muda agar menjadikan momen ini sebagi momen yang berharga. Menurutnya, saat ini tidak ada yang percaya bahwa kaum muda bisa memimpin. Ia mengimbau agar kaum muda siap membela bangsanya.

Fadjroel Rahman, Aktivis Presidium UI yang mencalonkan diri sebagai presiden 2009, menantang kesiapan kaum muda untuk menjadikan Indonesia 2009 sebagai Republik Kaum Muda. Ia juga menyebutkan pada tahun 2009, kaum muda akan sulit mencalonkan diri menjadi presiden.

“Kalau kita bertumpu pada partai politik, tidak ada satu pun partai politik yang bersedia mencalonkan kaum muda sebagai presiden dan wakil presiden, “ ujarnya.

Aktivis yang pernah dipenjara di masa pemerintahan Orde Baru ini berpendapat seharusnya 171 juta penduduk negeri ini bisa mencalonkan dirinya menjadi presiden secara independen. Ia tengah mengusulkan hal ini kepada Mahkamah Konstitusi.

Fadjroel mengatakan bahwa kaum muda yang bisa menjadi pemimpin, menurutnya, adalah orang yang mau membela 52,1 juta buruh yang berpenghasilan rendah; 5 juta nelayan yang pendapatannya kurang dari $2 per hari; 13, 7 juta petani yang tanahnya kurang dari setengah hektar; dan 9 juta pengangguran.

Orator-orator lainnya yang ikut berpartisipasi dalam kongres ini di antaranya Mantan Anggota MPR Yudi Chrisnandi, Ketua Kontras Usman Hamid, Budayawan Ipong Witono,  Yudi Latief, Heptifah, Presiden Keluarga Mahasiswa ITB Shana, dan Ragil yang masih duduk di bangku SMA.

Sedangkan Pengamat Ekonomi Faisal Basri, Rieke Dyah Pitaloka, Rizal Malarangeng, Rizal Ramli, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Avi T. Hidayat, dan Jumhur Hidayat yang dijadwalkan menjadi orator, malah tidak menghadiri kongres.

Selain menampilkan para orator, para tamu juga disuguhi hiburan dari para pemain teater yang tergabung dalam Lentera Nusantara, nyanyian dari seniman Bandung Mukti-Mukti, Iwan R. A Rachman, dan grup perkutu SMAN 22 Bandung.

Lentera Nusantara di tengah acara kembali tampil membawakan  parodi berjudul “Trang Kolentrang”. Parodi ini menceritakan tentang sindiran kepada para pejabat yang duduk di tahta kekuasaan. Mereka seperti orang-orang yang kehilangan arah untuk melangkah.

Seniman dan penyanyi asal Bandung Mukti-Mukti membawakan dua lagu dengan penuh semangat. Kedua lagu yang ia nyanyikan berisi sindiran kepada bangsa dan penguasa bangsa ini. Kelarutannya menyanyikan lagu membuatnya sempat merebahkan diri di panggung dan berjalan perlahan seperti orang linglung mengitari panggung.

Pencipta Hymne Universitas Padjadjaran Iwan R. A. Rachman yang biasa dipanggil Abah Iwan ikut memeriahkan acara. Ia menyampaikan orasinya sambil bernyanyi. Sesekali ia berdialog dengan Mukti-Mukti dari atas panggung, mengritik syair Mukti-Mukti sambil tertawa. Di akhir lagu Abah Iwan, Mukti-Mukti naik ke panggung sambil membawa bendera merah-putih dan berdiri di sebelah Abah Iwan.

Kongres Kaum Muda Pertama tahun 1928 menghasilkan ikrar pemuda yang hingga sekarang diperingati menjadi Sumpah Pemuda. Di akhir acara Kongres Kaum Muda 2008,  juga dihasilkan ikrar kaum muda yang dideklarasikan Jaringan Kaum Muda Jabar (Jaka Jabar). Pembacaan ikrar diwakilkan oleh Nopriandi, salah seorang panitia penyelenggara.

“Ikrar kami bukan akhir dari sejarah, tapi awal dari sejarah. Kaum muda dengan ini berhimpun dalam pergerakan kesejahteraan. Saatnya kaum muda memimpin!” (Purwaningtyas Permata Sari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s