KKN Mahasiswa Dilebur dengan PKM Dosen

Ada yang baru pada Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) tahun ini. KKNM mengalami pembaharuan-pembaharuan di beberapa sisi. Pembaharuan ini dilakukan berdasarkan evaluasi-evaluasi kegiatan KKNM tahun-tahun sebelumnya yang dianggap kurang tepat guna dan tidak ada kontinuitas. Mulai bulan Juli ini, KKNM akan digabungkan dengan Pengadian Kepada Masyarakat (PKM) yang seharusnya dilakukan oleh dosen.

Pihak LPPM pun ingin memunyai program yang berkesinambunganm karena selama ini pembinaan di satu desa tidak ada kontinuitasnya. Diibaratkan dalam KKNM-PPMD, Unpad memiliki desa binaan. Misalkan, satu desa tidak hanya dibina selama satu tahun, paling tidak selama lima tahun. Di dalam satu desa, kali ini tidak akan hanya dilakukan satu kali KKNM.

“Namanya adalah Kuliah Kerja Nyata-Pengabdian kepada Masyarakat Dosen (KKNM-PPMD) Integratif. Hal itu dilatarbelakangi  oleh keinginan kita untuk mendayagunakan KKN sekaligus juga pengabdian masyarakat dosen,” kata Sekretaris LPPM Ir. Sondi Kuswaryan, MS saat ditemui Warta LPPM di kantor lama Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM), di Jl Banda, Bandung.

Mekanisme yang dijalankan saat ini lebih teratur dalam menyukseskan program ini. Awalnya tim KKN mengobservasi desa-desa yang membutuhkan bantuan atau pengembangan untuk masyarakatnya. Setelah tim observasi tersebut mengidentifikasi permasalahan yang ada di tiap desa, LPPM menyosialisasikan permasalahan itu kepada para dosen melalui fakultas. Para dosen tersebut diharapkan agar membuat proposal perencanaan kegiatan PKM yang akan diintegrasikan dengan KKNM. Hal tersebut dilakukan agar ada kesesuaian antara permasalahan masyaraat dengan proposal yang diajukan dosen. Sebetulnya modelnya sama saja dengan KKNM karena KKNM ditujukan agar mahasiswa bisa menyusun suatu program, yaitu melakukan observasi, identifikasi masalah, dan kemudian menentukan program apa yang bisa dilaksanakan.

“Bedanya, perencanaan PKM berasal dari dosen, sedangkan KKN dari mahasiswa. Nah, ini diintegrasikan. Jadi pelaksanannya , dosen melakukan observasi yang dituangkan dalam bentuk proposal, mahasiswa juga melakukan observasi untuk menentukan program apa yang dilakukan di desa itu. Yang berbeda itu, dosen menyusun proposal jauh sebelum pelaksanaan, sedangkan mahasiswa menyusun program ketika sudah di lapangan,” kata Sondi lagi.

Proposal PKM dibuat oleh tim, satu ketua dan dua anggota. Tahun ini ada 134 proposal yang masuk ke LPPM dalam jangka waktu Maret-April 2009. Jumlah masukan proposal itu melebihi ekspektasi awal yang dibuat LPPM sebelumnya, yakni paling tidak sebanyak 40 proposal akan masuk.

Jika dibandingkan dengan jumlah seluruh dosen di Unpad, 134 proposal yang dibuat oleh kurang lebih 402 dosen, maka jumlah tersebut masih sangat sedikit. Sebagian besar dosen Unpad belum ambil bagian dalam membuat proposal PKM ini. Hal ini dimaklumi oleh Sondi karena terbatasnya waktu sosialisasi program baru ini sehingga tidak bisa menjangkau semua dosen.

Meski jumlah proposal yang masuk ke LPPM tergolong banyak, isinya belum sesuai dengan kebutuhan KKNM. “Secara konten, proposal sudah bagus, namun secara operasional belum sesuai untuk KKN. Oleh karena itu, kami mencoba melihat adakah perubahan-perubahan lokasi atau sasaran,” kata Ketua Divisi Pengelolaan dan Pengembangan KKN, Dr. Zainuddin, MS.

Dari 134 proposal itu diseleksi sehingga menjadi 50 proposal saja. LPPM membentuk tim reviewer untuk menyeleksi ke-134 proposal itu. Penilai atau reviewer itu terdiri dari tiga orang; dua adalah dosen yang ditunjuk dan satu adalah juri dari KKN. Tim review ini menilai dari segi konten. Akan ada perubahan, namun perubahan proposal itu akan dinegosiasikan lebih lanjut dengan para pembuat proposal.

Jika proposal yang diajukan tim dosen ini diterima, maka salah satu dari tiga anggota pembuat proposal harus bersedia menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Tiap DPL mendampingi dua kelompok KKNM—satu kelompok berisi 30 mahasiswa—di dua desa yang berbeda.  Baik mahasiswa maupun dosen akan bersama-sama melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan KKNM-PPMD berdasarkan dengan tema yang diusung dalam proposal, namun tidak menutup kemungkinan disesuaikan dengan kondisi setiap desa.

DPL ini menjadi asisten dalam penyusunan program yang dilakukan oleh mahasiswa. Pada prosesnya setiap desa  ditempati oleh 30 orang mahasiswa dengan minimum dari 4 fakultas yang berbeda. Setiap individu dari fakultas yang berbeda itu membuat suatu rencana kegiatan disesuaikan dengan kebutuhan pada waktu observasi.

“Akan tetapi, terkait KKN, tidak seluruh kegiatan KKN tersebut mengisi kegiatan dosen. Sekitar 60 persen waktu KKN mahasiswa dilakukan bersama dengan dosen, 40 persen lagi tetap harus dibuatkan program KKN untuk mahasiswa,” ungkap Zainuddin.

Mulai tahun ini KKNM dilaksanakan di lima kabupaten di daerah selatan, yaitu Cianjur, Ciamis, Sukabumi, Garut, dan Tasikmalaya. Tentunya ada alasan mengapa KKNM tahun ini berbeda tempat dari sebelumnya. LPPM mengamati adanya perbedaan perlakuan dan indeks pembangunan masyarakat antara daerah utara dan selatan. Masyarakat di selatan pada umumnya terisolasi.

Program yang diajukan mahasiswa bisa sebagai penunjang program yang diajukan oleh dosen, namun bisa saja berbeda dari program dosen. Logikanya adalah dosen pembuat proposal berasal dari monodisiplin ilmu, sedangkan peserta KKNM berasal dari multidisiplin ilmu. Jadi tidak bisa dipaksakan agar mahasiswa mengikuti program yang dibuat dosen.

“Pada dasarnya mahsiswa harus mampu menangkap apa yang dibutuhkan masyarakat disesuaikan dengan disiplin ilmunya. Melalui proses urun rembug bersama, setiap individu dari bidang ilmu spesifik sendiri-sendiri berkumpul, kemudian membahas masalah yang diidentifikasikan versi bidang studinya. Itu menjadi bentuk kegiatan yang benar-benar diaplikasikan,” lanjut Zainuddin.

Model KKNM-PPMD ini akan menjadi model KKN selanjutnya.  Untuk selanjutnya KKNM akan dilaksanakan dua kali dalam satu tahun pada akhir semester. KKNM  sebagai mata kuliah yang berdasarkan prasyarat mewajibkan para pesertanya untuk mengikuti minimal 110 sks.

Asumsi mereka menetapkan 110 sks adalah mahasiswa yang memiliki IPK baik, rata-rata bisa mengambil 20 sks setiap semester. Maka dalam 6 semester paling tidak mahasiswa sudah mengantongi 120 sks. Dengan program studi S1 selama 8 semester, berarti mahasiswa diasumsikan sudah 75% menguasai disiplin ilmunya. Mahasiswa  diharapkan bisa melihat segala sesuatu dari disiplin ilmunya.

“Kalau KKN dilakukan jauh di bawah 110 sks, tidak akan bersinggungan. KKN itu merupakan pembelajaran karena bersifat kurikuler dan ada pembelajaran. Maka dengan sifat pembelajaran, sudah bisa dikatakan dia menguasai bidang ilmunya,” kata Zainuddin.

Sejak pendaftaran KKNM online berakhir pada 30 April lalu, LPPM mencatat ada 3.389 orang peserta KKNM. Namun, LPPM belum bisa memastikan apakah 3.389 pendaftar itu akan ikut serta semuanya. KKN Juli-Agustus ini adalah transisi dari segalanya, dari segi pelaksanannya dan dari segi rekrutmen peserta. Dari sini LPPM akan mempelajari apa saja yang kurang.

“Saya kira dengan jumlah  3000 mahasiswa mobilisasinya akan menimbulkan masalah. Teknisnya mungkin kami akan memberangkatkan 3000 mahasiswa berjenjang selama tiga hari. KKN dimulai pertengahan Juli karena ada pilpres, kita tidak bisa mengabaikan hal itu,” jelas Sondi.

Penyelenggaran KKNM di akhir semester genap ini masih menyisakan dilema dalam hati mahasiswa, antara semester pendek atau KKNM. Selain itu, lama penyelenggaraan KKNM selam satu bulan menibulkan masalah bagi mahasiswa kelas khusus. Mereka pada umumnya bekerja dan tidak memungkinkan untuk cuti selama satu bulan. Masalah lain yang timbul adalah adanya ketakutan bahwa pelaksanaan KKNM yang tematik ini akan dianggap membatasi kreativitas mahasiswa.

“Mungkin ada kekhawatiran dari paradigm lama dengan sistem tematik. Takutnya mahasiswa mengganggap kreativitasnya dibatasi, karena mahasiswa melakukan kegiatan yang sebenarnya kegiatan dosennya. Sama sekali tidak begitu karena ada kegiatan yang direncakan oleh mahasiswa,” ujar Zainuddin.

LPPM juga mengimbau agar KKN menjadi lebih baik. LPPM sudah merasakan adanya kritikan-kritikan mengenai KKN. Sekarang LPPM memiliki paradigma baru yang tentunya tidak berhasil jika tanpa dukungan dari berbagai pihak. Baik Sondi maupun Zainuddin meminta para dosen untuk memanfaatkan momen ini untuk secara nyata berpartisipasi dalam kemajuan KKN ini dengan mengajukan PKM.

“Tidak ada kata terlambat untuk memasukkan proposal karena akan dibuka sepanjang tahun,” imbau Sondi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s