Laboratorium Bahasa Bukan Hanya untuk Pelajaran Bahasa Inggris

“Eh, tadi pertanyaan nomor tiga, jawabannya apa? Aduh, aku tadi nggak dengar tentang pernyataan pengidap AIDS,” tanya seorang mahasiswa perempuan.

“Aku juga nggak dengar. ‘Kan tadi kita ngobrol, jadi sama-sama nggak tahu deh,” jawab mahasiswa laki-laki yang duduk di sebelah mahasiswa perempuan itu.

Ruangan kelas itu menampung kira-kira lima puluh orang. Ada yang duduk di kursi yang telah disediakan, ada pula yang duduk dan tidur-tiduran di karpet. Beberapa mahasiswa bergerombol dalam satu meja yang terletak di belakang kelas. Celotehan para mahasiswa ramai terdengar dalam mata kuliah Menyimak di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia (FPBS UPI), Bandung.

“Begitulah keadaan mahasiswa jika  laboratorium bahasa tidak kondusif dan tidak memenuhi standar laboratorium bahasa pada umumnya,” kata Denny Iskandar, Dosen mata kuliah Menyimak di FPBS UPI, Rabu (17/12).

Denny Iskandar, yang baru lulus program pascasarjana (S2) FPBS UPI, memiliki perhatian terhadap rendahnya keterampilan menyimak mahasiswa dan siswa pada umumnya. Salah satu penyebabya rendahnya minat menyimak itu adalah pada saat masih duduk di bangku SMA, para mahasiswa tidak menggunakan laboratorium bahasa dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Denny membuat penelitian dalam thesis yang berjudul “Penggunaan Media Laboratorium dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak”. Denny mengungkap permasalahan menjadi dua hal. Pertama, bagaimanakah hasil pembelajaran menyimak mahasiswa sebelum memperoleh teori-teori dan menggunakan laboratorium bahasa? Kedua, bagaimanakah hasil pembelajaran menyimak setelah mahasiswa memperoleh teori-teori dan menggunakan media laboratorium bahasa?

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan dengan berbagai kesibukan menyimak. Pada semua peristiwa yang dihadapi manusia pun, aktivitas menyimak terjadi. Demikian pula halnya dalam mengikuti pendidikan baik di tingkat SD, SMP, SMA, maupun di perguruan tinggi, kegiatan menyimak harus dilakukan oleh siswa atau mahasiswa.

Belajar berbahasa seorang anak kecil dimulai dengan menyimak. Proses menyimak, mengartikan makna, meniru, dan mempraktikkan bunyi bahasa itu dilakukan berulang-ulang sampai akhirnya anak kecil tersebut lancar berbicara. Hal yang sama juga terjadi saat orang dewasa belajar bahasa asing.

Melalui proses menyimak, orang dapat menguasai pengucapan fonem, kosakata, dan kalimat. Keterampilan menyimak benar-benar menunjang keterampilan berbicara, membaca, dan menulis.

Dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, khususnya pembelajaran menyimak kurang mendapat perhatian sebagaimana halnya keterampilan berbahasa lainnya. Kurangnya perhatian tersebut antara lain, minimnya sarana pembelajaran menyimak yang ada di setiap sekolah.

Tanpa kemampuan menyimak yang baik, akan terjadi banyak kesalahpahaman dalam berkomunikasi antara sesame pemakai bahasa, sehingga dapat menimbulkan berbagai hambatan dalam pelaksanaan tugas serta kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, keterampilan menyimak harus mendapat perhatian dalam proses pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah.

Hipotesis yang dipakai Denny adalah “Dengan menggunakan media laboratorium bahasa, keterampilan menyimak mahasiswa akan meningkat.” Denny melakukan penelitian ini karena pada umumnya mahasiswa belum memahami betul pengertian, tujuan, dan fungsi dati keterampilan menyimak. Media pembelajara menyimak, dalam hal ini laboratorium bahasa merupakan media yang paling baik dan tepat untuk digunakan dalam melatih kemampuan menyimak.

“Sebelum melakukan penelitian, saya juga melakukan observasi dengan bertanya pada mahasiswa bagaimana pembelajaran menyimak di sekolah. Semua menjawab bahwa guru mereka tidak pernah mengajarkan teori menyimak. Semua juga menyatakan tidak pernah praktik di lab dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Bahkan sebagian besar sekolah para mahasiswa ini tidak memiliki lab bahasa,”ungkap Denny yang diwisuda Oktober 2008 lalu.

Sarana pembelajaran menyimak yang selama  ini sangat diperlukan adalah laboratorium bahasa. Melalui laboratorium bahasa, para guru dapat menyampaikan materi pembelajaran menyimak dengan optimal. Selain sebagai media pembelajaran menyimak, laboratorium bahasa diharapkan mampu memotivasi para siswa untuk meningkatkan kemampuan menyimak. Pemanfaatan media laboratorium bahasa sebagai sarana pembelajaran menyimak, bisa juga dijadikan sebagai salah satu model pembaharuan dalam proses pembelajaran menyimak di kelas.

Denny menyayangkan fakta bahwa pelajaran menyimak kurang mendapat perhatian. Alasanyaa, dari pihak sekolah itu sendiri—secara umum sekolah-sekolah belum menyediakan laboratorium bahasa. Kalaupun disediakan laboratorium  bahasa, itu pun hanya dipergunakan untuk pelajaran Bahasa Inggris, untuk pelajaran Bahasa Indonesia jarang atau sama sekali tidak pernah digunakan.

“Tampaknya guru-guru Bahasa Indonesia pada umumnya menganggap bahwa pelajaran menyimak sudah dikuasai oleh siswa, sehingga mereka tidak pernah lagi menyampaikan teori yang berhubungan dengan menyimak,” ujar Denny.

Denny menambahkan, pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas, langsung saja para murid mendegarkan dari tape recorder atau dibacakan oleh gurunya, lalu siswa menjawab pertanyaan. Jadi, tidak dibekali dulu dengan teori, tapi langsung menyimak. Menurutnya,   praktik  akan lebih baik jika kita terlebih dahulu mengetahui teorinya.

Pernyataan Denny  disanggah oleh Jajang Priatna, salah seorang guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 5 Bandung, “Selama ini pembelajaran Bahasa Indonesia cukup di kelas saja. Kreativitas tidak hanya muncul saat siswa belajar di lab bahasa. Pelajaran Bahasa Indonesia belum banyak membutuhkan lab .“

Di SMA Negeri 5 Bandung, pelajaran Menyimak terdapat dalam kurikulum pembelajaran. Metode yang dipakai juga siswa mendengarkan suara dari tape di depan kelas. Jajang mengakui bahawa keadaan kelas yang ramai sangat mempengaruhi perhatian dan konsntrasi siswa. Akan tetapi, menggunakan atau tidak menggunakan laboratorium bahasa tidak terlalu berpengaruh. Di kelas  sudah dilengkapi dengan fasilitas audio visual.

“Tantangan yang ada ketika pelajaran menyimak dilakukan di kelas adalah melihat apakah siswa bisa berkonsentrasi dengan keadaan yang seperti itu. Jika siswa memakai headset, tantangannya justru  tidak ada,” kata Jajang.

Denny  menyayangkan keadaan di mana pelajaran Bahasa Inggris mendapatkan porsi besar dalam pengunaan laboratorium bahasa. Hal senada juga diungkapkan Jajang. Jadwal penggunaan laboratorium bahasa  SMAN 5 sudah padat oleh para guru Bahasa Inggris, apalagi ada Bahasa Jepang dan Bahasa Mandarin juga. SMAN 5 hanya memiliki satu laboratorium bahasa dengan 30 kelas yang masing-masing berisi 30 orang.

Perihal mencontek atau tidaknya siswa di kelas, Jajang menjawab, hal itu tergantung pada sulit tidaknya soal yang diberikan. Jika pertanyaan sulit, maka siswa akan berkemungkinan untuk mencontek. Akan tetapi, jika soal yang diberikan sedang-sedang saja, maka siswa tidak akan mencontek.

Jajang belum pernah menggunakan laboratorium bahasa dalam pelajaran yang ia ajarkan. Ia berusaha menerapkan Uji Kemampuan Berbahasa Indonesia (UKBI). Dalam penerpan UKBI ini sangat dibutuhkann laboratorium bahasa, tapi harus ditelaah lagi. Metode ini sangat komprehensif dan membutuhkan dukungan sekolah, serta membutuhkan kaset yang banyak pula. Kalau mau menerapkan pembelajaran membaca cepat,staf pengajar Bahasa Indonesia harus memiliki CD sejumlah siswa yang ikut dalam pelajaran itu. Sayangnya, hal itu belum dapat direalisasikan di SMAN 5 yang termasuk salah satu SMA favorit di Bandung.

“Jika tersedia waktu yang cukup di lab bahasa, mungkin kami bisa menggunakan lab. Kami sekarang ada pembelajaran membaca cepat, akan lebih baik jika menggunakan media lab bahasa. Masalahnya, pelajaran Bahasa Inggris saja sudah banyak menggunakan waktu. Jadi, kami kesulitan menemukan celah-celah waktu,” ungkap Jajang sambil tertawa.

Denny melakukan penelitian untuk membandingkan seperti apa hasilnya ketika pelajaran menyimak dilakukan di kelas dan di laboratorium bahasa. Kalau para guru maksimal menggunakan tape recorder, Denny  membandingkan jika siswa menggunakan laboratorium bahasa.  Ada tiga siklus penelitian yang ia  jalankan. Pertama, mahasiswa meyimak dengan menggunakan tape recorder kurang lebih 10-15 menit, lalu ada pertanyaan-pertanyaan. Ketika Denny menggunakan tape recorder, otomatis suara yang disimak tidak maksimal karena tape recorder ditaruh di depan, sedangkan mahasiswa berada di belakang. Semakin ke belakang, suara akan semakin samar terdengar.

“Kedua, pelajaran menyimak saya diadakan di kelas. Yang namanya di kelas kan tidak kedap suara, antara ruang satu dan ruang lainnya suara berbaur. Dan ketiga, mahasiswa menggunakan headset di lab bahasa,” ujar Denny.

Objek penelitian Denny adalah mahasiswa tingkat satu Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FPBS UPI. Penelitian ini dilakukan awal semester ganjil lalu. Hasil yang didapakan dari tiga siklus itu adalah pada siklus 1 diperoleh 5 orang atau 11,90 persen yang mendapat nilai tertinggi, yaitu 76, dan 1 orang atau 2,38 persen mendapat nilai terendah, yaitu 62. Pada siklus 2, diperoleh 12 orang atau 29,57 persen yang mendapatkan nilai tertinggi bernilai 86 dan sebanyak 4 orang  mahasiswa atau 9,52 persen mendapat nilai 76 yang berupa nilai terendah. Pada siklus 3 dihasilkan 10 orang atau 23,8 persen mendapatkan nilai seratus, dan 1 orang mendapatkan nilai 84 sebagai nilai terendah. Berdasarkan data hasil siklus 1,2, dan 3 terlihat peningkatan kemampuan menyimak mahasiswa.

Berdasarkan hasil obsevasi di laboratorium bahasa FPBS UPI, terdapat empat laboratorium bahasa yang terletak di lantai 3 FPBS UPI. Tiga laboratorium di antaranya tidak bersekat antara satu meja dan meja lainnya. Ruangan-ruangan itu didesain seperti ruangan kelas biasanya, bahwa dosen berada di depan kelas, sedangkan mahasiswa duduk menghadap dosen. Hanya satu ruangan yang memiliki sekat antarmeja. Desain ruangan itu berbentuk huruf U dan headphone-nya pun aktif.

Menurut Denny, laboratorium bahasa yang tergolong baru dibangun itu kurang memenuhi standar laboratorium bahasa. Seharusnya, laboratorium bahasa tidak memiliki jendela dan dinding serta lanitanya dilapisi dengan kedap suara. Ruangan seharusnya ber-AC untuk menciptakan kondisi yang nyaman dalam menyimak.

Novita, salah seorang mahasiswa FPBS UPI, anak didik Denny, berpendapat fasilitas laboratorium  di UPI sudah cukup bagus karena sudah ada monitor di setiap meja. Intan pun berpendapat sama. Mahasiswa FPBS UPI yang belum pernah tahu tentang laboratorium bahasa yang baik itu merasa laboratorium bahasa UPI cukup memfasilitasi mata kuliah menyimak.

“Di SMA saya, tiap meja sudah ada sekat-sekatnya dan sudah menggunakan headphone. Kalau di UPI, ruangan ini terkesan terang karena jendela-jendelanya terbuka,” kata Novita yang merupakan lulusan SMA Al Ma’Soem, Rancaekek ini.

“Saya bersekolah di Garut. Laboratorium bahasanya tidak per meja. Tapi ada layar di depan ruang kelas, TV, dan DVD player. Kami tidak memakai headphone,” kata Intan.

Ketika ditanya mengenai kenyamanan saat mata kuliah Menyimak berlangsung, Novita dan Indah berpendapat sama bahwa mahasiswa menjadi kurang berkonsentrasi. Mereka berharap bisa bertukar laboratorium dengan laboratorium sebelah yang fasilitasnya lebih lengkap. Selama kurang lebih satu semester ini, Novita dan Indah tidak pernah mendapat jatah menyimak di laboratorium yang menurut mereka bagus.

Menurut Lab bahasa di gedung lama FPBS UPI benar-benar kedap suara, dinding tidak berjendela, lantai dilapisi karpet, dan ruangan ber-AC. Sedangkan lab bahasa yang baru justru berkebalikan keadannya. Ruangan lab bahasa seharusnya nyaman, tidak mendapat gangguan, tidak panas, dan kondusif untuk menyimak. Kurangnya fasilitas di gedung baru FPBS UPI ini akan segera ditambahkan oleh pihak UPI.

Menurut Fuad Abdul Hamied, Dosen Pembimbing Denny, penelitian dalam thesis ini memiliki manfaat bagi tiga pihak, yaitu bagi siswa atau mahasiswa, bagi guru atau dosen, dan bagi sekolah atau perguruan tinggi. Bagi siswa atau mahasiswa, hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman bagi para siswa maupun mahasiswa dalam upaya memotivasi dan meningkatkan keterampilan menyimak. Manfaat bagi guru dan dosen dapat dirasakan untuk meningkatkan proses pembelajaran menyimak melalui media laboratorium bahasa.

“Sedangkan bagi sekolah dan perguruan tinggi, penelitian ini sebenarrnya bisa dijadikan masukan. Penggunaan laboratorium bahasa bisa menarik siswa dalam upaya meningkatkan keterampilan menyimak,” kata Fuad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s