Citra Negatif Itu Sudah Terlanjur Melekat

Perempuan Pun  Menolak Disebut ’Feminis’

Oleh:

Purwaningtyas Permata Sari

Agustiyanti

“Diseloeroeh doenia bangsa perempoean beroesaha, soepaja mendapat persama’an bangsa laki-laki. Keada’an ini disebabkan sebagian besar oleh karena kita soedah tahoe harga badan dan tenaga kita… Tanah kita tiada akan selamat, kalau hanja seperdoea bangsa Indonesia jang mendapat kemadjoean dan mendapat perhatian, sedangkan seperdoea lagi ditinggalkan dalam djoerang kebodohan. Berbahaja sekali kalau pikiran ini tiada masoek dalam hati tiap-tiap anak Indonesia, karena oleh sebab yang demikian banjaklah keboeroekan jang timboel lagi bangsa sekarang dan lebih-lebih lagi bangsa jang akan datang.”

Penggalan pidato tersebut diucapkan dalam Kongres Perempuan I tahun 1928 oleh Sitti Soendari, salah seorang penganut pemikiran Soekarno. Keberanian perempuan untuk mengungkapkan kepincangan antara posisi laki-laki pada saat itu dinilai I Gusti Agung Ayu Ratih, Direktur Institut Sosial Sejarah Indonesia (ISSI) sebagai batu loncatan yang luar biasa. Mereka bahkan tidak berpikir tentang kaitan pergerakan mereka sebagai gerakan feminisme. Tentu saja, kongres tersebut melahirkan bibit-bibit feminis pada saat itu.

Harapan Sitti Soendari mengenai kesetaraan pendidikan antara laki-laki dan perempuan sudah cukup terealisasi pada zaman sekarang ini. Namun, permintaannya agar tiap-tiap anak Indonesia mengingat betapa usaha perempuan untuk mendapatkan persamaan bisa berarti perjuangan berpuluh-puluh tahun, tidak terpatri di dalam pikiran generasi saat ini—yang tak lagi menganggap penting usaha persamaan antara perempuan dan laki-laki.

Simaklah diskusi seorang perempuan muda dan lelaki belia berikut ini di sela-sela perjalanan mereka di dalam sebuah bis kota.

Gue bingung kenapa para feminis masih ribut berkoar-koar tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kita diciptakan berbeda dan kita semestinya berjalan di koridor masing-masing. Ya, kalau mau perempuan dianggap setara, tunjukkan saja, tak perlu berkoar-koar seperti itu. Masalah perempuan terlalu ditonjolkan,” kata Si Perempuan.

Si Lelaki mengangguk setuju. “Kalau aku sebagai laki-laki memandang adanya segmentasi antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang natural. Dari zaman purba pun laki-laki diposisikan sebagai seorang pemburu dan perempuan sebagai penjaga nyala api. Jadi itu terbentuk natural walaupun pada masalah-masalah tertentu hak antara perempuan dan laki-laki itu sama. Pada hal tertentu itu tak bisa diganggu gugat antara laki-laki dan perempuan secara utopis.”

“Memang benar bahwa perempuan itu bisa melakukan pekerjaan laki-laki dalam beberapa level tertentu. Tapi  gue juga menyangkalnya karena budaya kita sendiri belum mengizinkan perempuan untuk setara dengan laki-laki. Terkadang perempuan sendiri tak ingin disetarakan. Seperti elo mencontohkan masih adanya kebiasaan ‘lady’s first’. Perempuan terkadang berpikir, mengapa sih laki-laki nggak mau ngalah sama perempuan? Itu kan agak bertolak belakang dengan seruan kesetaraan? Apa sih feminisme? Agak kurang kerjaan para feminis berseru tentang kesetaraan,” ujar Si Perempuan berapi-api.

Ketika percakapan singkat kedua muda-mudi itu sampai di telinga Vivi Asmara, seorang aktivis perempuan yang menjabat sebagai education specialist di Institut Perempuan, ia hanya tertawa sambil mengiyakan bahwa bagi orang-orang yang tidak menggeluti feminisme, mereka acapkali dianggap sebagai orang-orang kurang kerjaan.

“Kalau mau bicara tentang feminis, harus mengerti sejarah dari dulu hingga sekarang karena begitu banyak dan itu belum putus dan berkembang hingga sekarang. Pada tahun ’70-an itu sudah muncul. Memang sih sekarang ini feminis itu dianggap orang kurang kerjaan. Tapi ternyata orang bukan feminis pun tidak lepas dari permasalahan perempuan,” kata Vivi ketika ditemui di Sekretariat Intitut Perempuan, Jl. Dago Pojok No. 85, Bandung, pada Senin (23/11).

Bagi Vivi, feminisme itu muncul berdasarkan pengalaman perempuan dan pengetahuan perempuan yang selama ini tidak muncul ke permukaan. Jika seseorang tidak berbicara tentang pengalaman dan pengetahuannya sebagai perempuan, itu bukanlah feminis. Feminis berarti orang-orang yang berani berbicara mengenai pengalaman perempuan selama ini dan berani menyerukan adanya perubahan.

Rocky Gerung, Pengajar di Departemen Filsafat Ilmu Budaya UI dan Penasihat di Yayasan Jurnal Perempuan sepaham dengan Vivi, bahwa pikiran perempuan identik dengan basis pengalamannya. Pikiran laki-laki tersusun dari konstruksi abstrak, jadi laki-laki bisa berpikir tanpa pengalaman—hal yang tidak bisa dilakukan perempuan. Pikiran laki-laki pun dipaksakan menjadi grammer sehingga perempuan dipaksa berpikir dalam sistem laki-laki.

“Karena perempuan tidak bisa mengucapkan pikiran, karena pikiran kamu itu harus kamu ucapkan lewat gramatika tertentu. Grammer, bahasa, itu grammer laki-laki. Akibatnya perempuan yang tidak sanggup  mengucapkan pikirannya, karena terhalang oleh struktur gramatika laki-laki, dia disebut sebagai tidak mampu berpikir atau mengalami delibium,  sakit jiwa. Padahal bukan sakit jiwa, dia tidak paham dengan strukutur bahasa laki-laki yang hierarkis,” ujar Rocky yang ditemui di sela-sela kesibukannya mengajar di UI Depok pada Kamis (26/11)

Menolak Dilabeli Feminis

Vivi membenarkan bahwa banyak aktivis perempuan tidak mau menganggap diri mereka adalah feminis karena feminis merupakan sebutan dari orang di luar dirinya. Ketidakmauan menggunakan istilah “feminis” sepertinya masih bercokol sampai hari ini. Padahal, perjuangan kesetaraan, keadilan bagi kedudukan, status, serta hak-hak kaum perempuan sebagai manusia penuh telah berlangsung sejak lama. Banyak perempuan aktivis di Indonesia yang membela hak-hak perempuan menolak disebut feminis.

Jajak pendapat Time/CNN Yankelovich di tahun 1989—seperti dikutip Naomi Wolf dalam bukunya Gegar Gender, Kekuasaan Perempuan Menjelang Abad 21—menunjukkan 33 persen perempuan memanggil diri sendiri ‘feminis’ sedangkan 58 persen tidak. Sepanjang tahun 1980-an, jumlah perempuan yang menyebut dirinya ‘feminis’ semakin melorot. Pada akhirnya muncul kelompok feminis dan anti-feminis di kalangan perempuan sendiri.

Salah satu contoh betapa aktivis perempuan menolak dianggap sebagai feminis adalah Kamla Basin, aktivis perempuan dari Indian. Seperti dikutip dalam www.kompas.com dalam rubrik “Swara” (3 Maret 2003), dalam sebuah buku ia menuliskan, “Berabad-abad lamanya kami menderita di negeri ini. Dalam masyarakat kami, baik di India maupun Pakistan, perempuan berada di kelas sosial paling rendah.” Ia pun menjelaskan tentang perlakuan semena-mena terhadap perempuan, kemudian menambahkan, “Tetapi, saya bukan seorang feminis…”

“Tanya aja mereka, saya sih nggak ngerti kenapa orang nggak mau disebut feminis padahal dia memperjuangkan perempuan. Jangan-jangan dia memang nggak tahu apa itu feminsime. Kalau mereka tau, mungkin mereka nggak akan masalah disebut dengan feminis,” komentar Mariana Amiruddin, Diretur Eksekutif Jurnal Perempuan.

Melengkapi Vivi, Mariana memiliki pandangan sendiri tentang munculnya gerakan feminisme. Feminisme muncul apabila ada penindasan terhadap perempuan. Feminisme adalah sebuah perlawanan terhadap penindasan. Feminisme berasal dari kata ‘fem’, yaitu perempuan, dan ‘isme’, sebuah paham Jadi, feminisme adalah kajian  atau perspektif perempuan  yang mengkaji perempuan. Ternyata perempuan memiliki banyak persoalan, mengalami deskriminasi, dan kekerasan. Maka dari itu, Mariana menilai perlu ada kajian tentang perempuan, serta memberi solusi dan rekomendasi kepada perempuan.

Adriana Venny, Ketua Dewan Pembina Lembaga Partisipasi Perempuan (LP2), berpendapat para aktivis perempuan disebut sebagai feminis karena karena terminologi feminisme muncul di negara Eropa dan Amerika, sehingga tak jarang aktivis perempuan yang merasa takut dicap sebagai agen dunia Barat. “Alasan lain, terkadang feminisme dianggap upaya menaklukkan laki-laki, erat dengan free sex, dan lain-lain. Namun, itu adalah stigma, ya, bukan citra,” ujarnya.

Rocky menambahkan, “Ada orang yang ingin jadi feminis, sekedar agar tidak diperolok oleh ilmu pengetahuan, tapi pengetahuan teoritis selalu tidak mampu untuk mengungkapkan keadilan, jika tidak diikuti sikap etis yang revolusioner.”

Seiring berkembangnya pemikiran kaum feminis dunia, pergerakan perempuan memiliki citra lain di masyarakat kebanyakan, tak terkecuali di Indonesia. Jika dahulu pergerakan perempuan adalah hal mulia dan dihormati orang kebanyakan, maka tantangan kaum feminis sejak tahun ’80-an adalah munculnya cibiran bagi feminisme—bahkan dari kaum perempuan sendiri.

Banyak tudingan dialamatkan pada gerakan feminisme. Naomi Wolf berpendapat, “Banyak perempuan tidak tahu arti feminisme; ada yang berpikir bahwa feminisme tidak menghormati pilihan-pilihan yang mereka ambil; lainnya lagi berpikir bahwa feminisme tidak ditujukan pada mereka; sisanya sekadar tidak menyukai citra feminisme yang mereka lihat.”

Naomi juga mengungkapkan bahwa feminisme dianggap sebagai suatu paham dengan pakem-pakem tertentu, memiliki aturan tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan perempuan. Feminis dianggap bersifat anti-keluarga dan anti-lelaki. Penganut feminisme dikenal ‘sulit’ dan keras kepala untuk diajak berkompromi. Hal itulah yang membuat perempuan disingkirkan dari lembaga-lembaga pemerintahan. Kebanyakan perempuan mendukung cita-cita feminisme tapi menolak jati diri sebagai feminis.

Seorang Sosiolog Gender dari Universitas Indonesia, Ida Ruwaida, membenarkan bahwa istilah feminisme memiliki konotasi negatif. Sependapat dengan Venny, Ida mengatakan  citra feminisme menjadi negatif karena berasal dari pemikiran Barat walaupun sebenarnya modernisasi juga berasal dari Barat.

Ida lebih menyukai istilah gerakan perempuan ketimbang istilah feminisme. “Persoalannya adalah perempuan berjuang dan seolah-olah mau melawan laki-laki. Itu dianggap suatu hal yang membahayakan dan menciptakan kekacauan. Istilah feminisme sendiri dianggap negatif, karena dilihatnya perempuan melakukan pemberontakan,” tuturnya.

Menurut Ida, feminisme memiliki cirinya tersendiri. Pertama, ketika orang melihat perempuan adalah kelompok yang termarjinalkan dan tidak diuntungkan. Kedua, dasar dari tidak diuntungkannya perempuan adalah karena tatanan yang tidak adil pada perempuan. Ketiga, perlunya untuk memperjuangkan perempuan. Jika ketiga hal tersebut terpenuhi dan ada upaya melakukannya, maka itu disebut gerakan feminisme.

“Bukan Feminis” pun Merasakan Masalah

Venny menjelaskan masalah yang dialami perempuan masih sama. Semua masih berkisar pada  rendahnya

keterwakilan perempuan di dunia politik, kekerasan dalam rumah tangga, poligami, AKI (angka kematian ibu) yang masih tinggi, terabaikannya hak-hak perempuan, pelecehan seksual, dan kekerasan berbasis gender lainnya.

Vivi mengakui bahwa membuat masyarakat luas belum benar-benar mengerti seperti apa tujuan pergerakan feminisme. Para feminis belum mendapat tempat di dalam masyarakat sebagai suatu perjuangan yang utuh dan memiliki bentuk. Vivi menggambarkan feminisme di Indonesia masih ada di antara gradasi hitam dan putih, meski feminis sudah menentukan ”warna” mereka, namun sebagian besar pola pikir masyarakat belum mengerti perjuangan para feminis.

“Mengubah pemikiran itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Jadi kajian feminis masih dalam proses menuju yang lebih baik. Bisa saja kita memberi pengertian pada satu orang. Namun, orang lain belum mengerti, bahkan ribuan orang lain belum mengerti tentang feminis,” kata perempuan yang hobi mengkaji permasalahan perempuan itu.

Berbicara mengenai feminisme berarti juga membicarakan tentang sosial masyarakat. Sistem sosial dan struktur sosial tidak bisa berubah dengan angka-angka. Pergerakan perempuan tidak bisa diukur dengan membuat grafik fluktuasi. Grafik pembangunan dan perubahan sosial tidaklah sama. Kemungkinan hasil yang didapatkan para feminis dalam lima tahun melakukan riset dan mengeluarkan hasil riset tersebut, belum sampai kepada perubahan. Perubahan sosial terjadi dalam rentang waktu 25 tahun ke atas, begitu pula perubahan mengenai pola pikir terhadap perempuan.

“Perubahan pola pikir ini tidak seperti Repelita V, misalkan, yang sudah ditentukan harus dalam waktu sekian. Sementara perubahan itu tidak bisa direncanakan dengan seperti itu. Jika posisi feminis untuk mengungkapkan sesuatu nggak pas, pasti bungkam, kok. Masih ada semacam ketakutan akan salah langkah,” imbuh Vivi.

Meski zaman sudah semakin maju dan banyak perempuan mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, diskriminasi masih tetap ada. Diskriminasi tersebut diam dalam pikiran masyarakat dan parahnya diterima sebagai anggapan umum ketika diskriminasi ini muncul ke permukaan. Salah satu contohnya adalah anggapan bahwa menyekolahkan anak lelaki adalah hal yang lebih utama dibandingkan menyekolahkan anak perempuan. Jika di dalam sebuah keluarga hanya memiliki dana yang hanya cukup untuk menyekolahkan satu anak, maka lelakilah yang disekolahkan.

Hingga kini, Vivi menilai, masalah utama perempuan tetap berputar pada kemiskinan. Permasalahan perempuan dan laki-laki dalam masyarakat sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Kemiskinan berawal dari development—pembangunan—yang memiliki standar sendiri yang sudah umum dan sudah dunia sahkan. Feminisme hadir untuk membantu memecahkan masalah dengan mengambil sudut pandang sebagai perempuan. Saat ini perempuan tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek. Maka dari itu, perempuan perlu dibela.

Salah satu contoh di mana perempuan selalu berada di garis belakang meskipun telah melakukan lebih banyak hal daripada lelaki terjadi di pedalaman Mentawai, Sumatera Barat. Kebanyakan masyakarat hanya tahu bahwa kehidupan orang-orang pedalaman sangat tertindas, namun ternyata merasa lebih aman hidup begitu. Banyak program yang dikerjakan oleh perempuan, walaupun nilai plus yang muncul, lagi-lagi dialamatkan kepada kepala keluarga. Jika ada kegiatan A-B-C-D, ternyata B-C-D dilakukan oleh perempuan, tapi ternyata tidak ada peran perempuan dianggap lebih tinggi.

“Kita melihat dari sisi-sisi perempuan, membedakan antara perempuan dan laki-laki, karena kita sedang berpihak kepada perempuan. Kalau kita tidak membela perempuan, keadaan tetap nggak balance,” papar Vivi.

Masalah yang paling menonjol adalah isu-isu trafficking. Di Indonesia yang banyak muncul adalah Tenaga Kerja Wanita (TKW) dan buruh migran yang “dijual” ke luar negeri. Banyak orang tidak menyadari bahwa pekerjaan seperti TKW dan buruh migran adalah pencari nafkah utama. Selama ini selalu dipandang bahwa lelaki sebagai pencari nafkah utama, sedangkan perempuan adalah pencari nafkah sampingan. Padahal, penghasilan para TKW ini lebih besar daripada suaminya.

“Peran ganda perempuan dari dulu tidak pernah berubah. Ya, kita kerja, setelah itu ngurus anak di rumah,” komentar Ayu, begitu sapaan I Gusti Agung Ayu Ratih. Ucapan Ayu itu senada dengan pepatah Inggris yang mengatakan man works from rise to set of sun. Woman’s work is never done.

Tertindasnya Perempuan, Bentukan Sejarah dan Agama

Citra bahwa perempuan adalah kaum yang lemah dan seolah derajatnya berada di bawah laki-laki telah terbentuk selama ribuan tahun. Penindasan dalam berbagai bidang terhadap perempuan terjadi secara berlapis-lapis, semakin terpupuk dari generasi-generasi. Bukan tak berarti perempuan tak menyadari akan hal itu, melainkan mereka tak punya kekuatan untuk mendobrak pola pikir yang terlanjur meleat pada diri mereka.

Tak berarti tidak ada lelaki yang menyadari hal tersebut. Adalah Soekarno, pemikir nasionalisme, yang menuangkan permasalahan perempuan di dalam bukunya, Sarinah. “Djanganlah kaum laki-laki lupa, bahwa sifat-sifat yang kita dapatkan sekarang pada kaum perempuan itu, dan membuat kaum perempuan itu, mendjadi dinamakan kaum lemah, kaum bodo, kaum singkat pikiran, kaum nerimo, dll, bukanlah sifat-sifat yang karena kodrat ada terlekat pada kaum perempuan, tetapi adalah buat sebagian besar hasilnja pengurungan dan perbudakan kaum perempuan yang turun-temurun, beratus tahun, beribu tahun.” (Soekarno 1947: 33)

Dalam Sarinah yang merupakan kumpulan perkataan Soekarno dalam kursus-kursus perempuan, dipaparkan bahwa pengukuhan perempuan sebagai manusia tingkat dua setelah laki-laki berlangsung sejak zaman purbakala, saat spesies Homo sapiens belum terbentuk. Pada saat mereka masih menjadi manusia-manusia nomaden—berpindah dari satu tempat ke tempat lain—laki-laki mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap hasil buruan, sedangkan perempuan menjaga nyala api di gua-gua atau di tempat tinggal semi-nomaden mereka.

Lama-kelamaan mereka bosan dengan pola hidup nomaden, berpindah tempat ketika hewan buruan sudah mulai habis. Perempuanlah yang memikirkan cara bahwa mereka bisa bertahan hidup dengan memanfaatkan tanaman, tidak melulu harus memakan daging hewani. Maka dimulailah masa bercocok tanam. Perempuan sangat lihai memilah-milah tumbuhan yang bisa dijadikan bahan pangan. Pola hidup bercocok tanam membuat mereka mulai tinggal secara menetap. Para lelaki tetap melakukan tugas berburu hewan di hutan. Tanpa disadari, komunitas sosial dan kekuasaan perempuan terbentuk karena pandainya mereka mengatur kebutuhan pangan. Perempuan muncul lebih kuat daripada laki-laki dalam mengambil keputusan kala itu.

“… bahwa dulu di zaman purbakala, tatkala hukum masjarakat belum seperti sekarang ini ialah di dalam zaman ‘hukum-peribuan’ alias matriarchat, kaum perempuanlah jang mengemudi masjakarakat, kaum perempuanlah jang kuasa, kaum perempuanlah yang mengepalai peperangan, kaum perempuanlah jang memanggul sendjata, kaum perempuanlah jang mengorbankan djiwanya guna sedjarah,” papar Soekarno. (Soekarno 1947: 30)

Dulu di zaman matriarchat perempuan-perempuan menjadi raja, panglima perang, ketua rapat, kepala rumah tangga, prajurit, hakim, dan kepala agama. Dulu kaum perempuan tidak banyak perbedaan dengan kaum laki-laki, malahan beberapa sifat-sifat melebihi kaum laki-laki, mengalahkan kaum laki-laki.

Hal itu bukan tidak disadari laki-laki. Ketika para lelaki lelah berburu, mereka melihat kegiatan bercocok-tanam lebih berprospek. Maka, mereka pun membantu perempuan dalam bercocok-tanam. Lama-kelamaan, perempuan disuruh mundur lagi untuk menjaga rumah saja. Biarlah pekerjaan di ladang dilakukan oleh laki-laki. Keadaan pun mulai berbalik seperti sebelumnya, di mana lelaki kini kembali memegang kendali.

Iklim kompetitif pun mulai muncul, saling membandingkan hasil ladang antara kelompok satu dengan yang lainnya. Tidak seperti perempuan yang bercocok-tanam bersama-sama dan membagi hasil ladangnya secara sukarela, laki-laki lebih suka memiliki hasil ladang mereka untuk kelompoknya sendiri.

Terpikirlah di benak laki-laki bahwa suatu saat ia akan mati. Hasil jerih payahnya bercocok-tanam mungkin akan jatuh ke tangan orang lain secara bebas. Maka ia mulai menggagas tentang keharusan adanya ahli waris. Perempuan pun diikat untuk menjadi istri yang akan melahirkan anak-anak para lelaki sehingga lelaki bisa mewariskan segala miliknya kepada anak lelakinya lagi. Dimulailah kehidupan perempuan di dalam masa “pemeliharaan” laki-laki. Perempuan harus tunduk pada budaya patriarki. Perempuan tidak memiliki hak apapun lagi, selain ditindas. Dan keadaan itu berlangsung hingga sekarang dan meracuni pola pikir umat manusia.

“Perpindahan dari hukum peribuan kepada hukum perbapaan itu adalah satu kekalahan perempuan yang paling hebat di dalam sejarah kemanusiaan,” kata Friederich Engels. (Soekarno 1947: 60)

Lebih parahnya, hampir semua agama menjadikan perempuan manusia nomor dua, dan patut dihinakan posisinya. Di dalam Islam dan Nasrani, Hawa diceritakan bukan sebagai citra Allah, melainkan berasal dari tulang rusuk Adam. Berkat Hawa pulalah Adam mengenal dosa yang mengakibatkan mereka diusir dari surga. Di Yunani, Dewa Apollo menyebarkan pengetahuan bahwa bukan ibu yang membuat anak, ia hanya menjadi penjaga benih yang ditanamkan padanya. Maka Dewa Apollo membuktikan perkataannya bahwa seorang anak bisa lahir sama sekali bukan dari rahim ibunya, melainkan dari kepala Dewa Apollo sendiri.

Dalam pandangan Hindu pun perempuan dihinakan. Manu dalam kitab Rig Veda bersabda perempuan sebagai orang yang selalu memikirkan nafsu birahi, selalu marah, selalu palsu, dan tidak jujur. Sudah tabiat perempuan bahwa ia selalu menggoda laki-laki, maka laki-laki harus berhati-hati. Jika tidak berhati-hati terhadap perempuan, orang akan kehilangan kehormatan. Maka dari itu, jauhilah perempuan.

Bahkan Buddha yang dianggap sebagai agama yang bijaksana, menjadi tidak adil ketika membicarakan kaum perempuan. Perempuan dianggap sebagai makhluk penuh dosa yang memilki paras elok namun hatinya bagaikan iblis.

Hasil konstruksi sejarah dan pandangan agama seperti dipaparkan di atas diakui oleh Rocky. “Patriarki itu peralatan yang selalu diperbarui oleh kekuasaan. Revolusi yang paling besar adalah revolusi di bidang itu. Patriarki tertanam dalam hukum . Misalnya, pada hukum agama, apalagi agama Islam, seperti hak waris pria yang lebih besar dari perempuan. Itu tertanam dalam hukum syariat, dan juga hukum publik. Misalnya, ketika Anda menandatangani kontrak, bila Anda istri seorang pria, Anda mesti meminta tanda tangan suami.”

Rocky menambahkan, pada perempuan, bisa berlaku beberapa kali diskriminasi sekaligus dalam satu waktu, sedangkan pada laki-laki tidak bisa berubah. Suatur evolusi yang luar biasa jika ingin membuat perubahan. Hal itu harus dengan peralatan yang ada dan di luar peralatan yang resmi ada.

Membangkitkan Citra Positif Feminisme

Vivi mengatakan posisi perempuan akan mencapai kesetaraan pada saat sudah tidak lagi membeda-bedakan. Hal yang membedakan hanyalah kodrat yang diberi Tuhan. Namun, ia juga menyayangkan bahwa banyak perempuan yang tidak ingin “dibela” karena tidak mengerti permasalahan perempuan. Banyak perempuan berkelakuan seperti laki-laki, seperti merokok di sembarang tempat. Terkadang perempuan menyediakan dirinya untuk dilecehkan saat hanya menggunakan pakaian minim bahan.

“Dari satu sisi kita tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, tapi kita terkotak-kotak oleh sistem sosial, budaya, politik, ekonomi,” kata Vivi.

Rocky menyebut gerakan feminisme sebagai usaha menumbuhkan demokrasi. Sebuah bangsa tidak bisa dikatakan menganut demokrasi jika separuh dari warga negara dianggap sebagai nomor dua dibandingkan separuh lainnya hanya karena perbedaan jenis kelamin. Jika negara berbicara mengenai demokrasi namun tidak berbicara mengenai feminisme, maka itu berarti negara tidak menerapkan esensi demokrasi. Ketertindasan perempuan kurang lebih terjadi selama 25 abad. Ketertindasan itu dilakukan laki-lai terhadap warga negara yang berjenis kelamin perempuan.

Orang yang belajar demokrasi harus paham betul-betul perspektif politik feminis, bukan sekedar emansipasi perempuan terhadap laki-laki. Emansipasi berarti emansipasi separuh warga negara untuk memperoleh hak untuk menyamakan kedudukannya di depan pikiran global, di depan pikiran-pikiran yang baru muncul. Itu semua adalah perjuangan keadilan, berbeda dengan perjuangan keadilan hukum. Perjuangan keadilan dibidang hukum adalah upaya untuk sekedar menyamakan hak-hak hukum. Akan tetapi dalam feminisme, ada perjuangan yang sekaligus hukum, ekonomi, politik, kultur, bahkan bahasa.

“Itulah pentingnya ketika kita berbicara mengenai demokrasi dan hak asasi manusia, maka sama saja berbicara mengenai feminisme dan keadilan. Feminisme itu mengumpulkan semua teori ketidakadilan,” papar Rocky.

Soekarno pun berkata, “Kemanusiaan, di atas lapangan soal laki-laki-perempuan selalu pincang. Dan kemanusiaan akan terus pincang, selama saf yang satu menindas saf yang lain. Harmoni hanyalah dapat tercapai, kalau tidak ada saf satu di atas saf yang lain, tetapi dua saf itu sama derajat, —berjajar— yang satu di sebelah yang lain, yang satu memperkuat kedudukan yang lain.” (Soekarno 1947: 15)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s