Unpad Goes To World Class University, Think Global, Act Local

Sambil mengisi jeda waktu antar-mata kuliah, tiga mahasiswa tingkat 4 Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad mereka berjalan menuju Student Center Fikom Unpad, pada hari Rabu (30/9). Mereka merasa nyaman bisa menyantap makan siang di gedung yang tergolong baru itu di Fikom itu. Seraya menikmati makanan, tanpa sengaja mereka mendiskusikan nasib almamater mereka. Diskusi mereka adalah seputar Unpad yang dicanangkan untuk menjadi world class university.

“Sepertinya dengan adanya angan-angan Unpad untuk jadi world class university justru semakin membuktikan Indonesia belum berstatus mendunia, masih di bawah standar. Di sini fasilitas nggak memadai, jalur masuk diragukan kualifikasinya, kualitas dosen juga kurang bagus, bahkan cari buku di perpustakaan pun susah,” ungkap Agustiyanti membuka percakapan.

Merlinda, yang dulu aktif di UKM LPPMD, menimpali pendapat Agustiyanti, “Gue rasa isu Unpad buat jadi universitas kelas dunia ini ada hubungannya dengan rencana penetapan Unpad sebagai BHP (Badan Hukum Pendidikan) beberapa tahun lagi. Sepertinya Unpad ingin membuka investasi, kan status BHP mengharuskan perguruan tinggi untuk memiliki badan-badan usaha.”

“Kok bisa begitu, Mer?” tanya Febriani.

“Dengan status Unpad sebagai universitas internasional nantinya, itu akan berpengaruh pada kuota antara WNA dan WNI. Kalau lebih banyak WNA, otomatis pemasukan Unpad akan lebih banyak,” kata Merlida, menjelaskan pendapatnya.

“Iya, takutnya kalau lebih banyak mahasiswa asing di Unpad, biayanya akan lebih mahal. Calon mahasiswa miskin makin ciut buat masuk Unpad. Mana informasi beasiswa minim lagi,” timpal Agustiyanti.

“Kok kalau menurut gue, persiapan Unpad menuju world class university baru sebatas perbaikan fasilitas-fasilitas, pembangunan sana-sini,” kata Febriani.

“Unpad itu belum mandiri. Kalau dengan status WCU berarti lebih banyak mahasiswa asing yang diterima, malah mencerdaskan bangsa asing daripada WNI. Kita bisa contoh Ahmadinejad deh. Di seluruh universitas Iran, Ahmadinejad menegaskan akan dua fakultas yang sama sekali tidak boleh dimasuki bangsa asing, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Sastra. Alasannya, supaya ilmu kedokteran bisa mencerdaskan dan berguna buat bangsanya, dan juga sastra mereka bisa terpelihara sebagai warisan. Mending kita menyebarkan semangat pendidikan Ki Hajar Dewantara deh,” imbuh Merlinda dengan bersemangat.

“Selama ini Unpad tuh masih jago kandang. Yang penting tuh ya, think global, act local aja, seperti kata Aa Gym,” kata Febriani menyudahi percakapan.

Unpad Bandung

Ternyata topik world class university telah diketahui oleh sebagian besar mahasiswa Unpad, bahkan sesekali menjadi perbincangan hangat. Ada beberapa yang mendukung usaha Unpad untuk menjadi universitas kelas dunia. Namun, tak sedikit pula yang pesimistis akan hal itu. Sindiran tajam pun seringkali mencuat ke permukaan.

Menurut Presiden BEM Unpad Akhmad Fakhruddin Isfron yang ditemuia pada hari Jumat (2/10), sebenarnya persepsi tentang world class university sebagai “sayap-sayap komersil”—imbas dari BHP, seperti yang dikhawatirkan Merlinda, muncul ketika ruang-ruang untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa tidak mampu ditutup. Dari situ muncul persepsi bahwa Unpad sudah mulai komersil dan yang bisa masuk ke Unpad hanya orang-orang yang mampu saja. Untuk bisa menghilangkan persepsi seperti itu, Unpad harus memberikan kesempatan untuk orang-orang yang tidak mampu tetapi punya kapasitas bagus dan mumpuni. Selama kesempatan untuk kaum miskin terbuka lebar, persepsi itu tidak akan terlalu mencuat dan tidak menjadi pandangan negatif untuk Unpad.

“Ketika Unpad nanti tiga sampai empat tahun ke depan menerapkan BHP, maka konsekuensi logis adalah 20% mahasiswa tidak mampu harus diberikan kesempatan untuk masuk Unpad. Itu yang harus berani dieksekusi,” ujar Akhmad.

Mengenai pembangunan infrastruktur yang terlihat signifikan mahasiswa FTIP angkatan 2004 itu berpendapat itu mungkin salah satu strategi dari Rektor Unpad Ganjar Kurnia. Tahapan awal untuk mencapai world class university adalah dengan memperbaiki infrastruktur yang memang dibutuhkan.

“Saya lihat langkah awal Pak Ganjar adalah memperbaiki infrastruktur, namun jangan sampai fokus terlalu ke sana sehingga melupakan hal-hal yang penting, sistem birokrasi, sistem pendidikan, dan sistem jaminan mutu yang menjadi standarisasi proses pendidikan,” kata Akhmad.

Akhmad berpendapat tahapan selanjutnya adalah controlling terhadap semuanya. Fungsi controlling adalah memastikan kebijakan yang baik juga harus ditekankan. Hal itu dapat diaplikasikan pada sistem jaminan mutu yang diterapkan di masing-masing fakultas. Selama ini tidak ada bentuk sanksi yang real ketika itu semua aturan dilanggar.

Pesimisme pun diungkapkan Iwan Yulistriawan, salah satu alumni Unpad. Menurutnya, isu Unpad menuju universitas kelas dunia sudah bukan baru, bermacam-macam sebutannya. Pernah juga Unpad mendengungkan program untuk menjadi research university. Hanya saja, kabar itu hanya di atas kertas saja, tidak ada implementasinya. Iwan mencontohkan bahwa selama ini penelitian dari Unpad tidak terdengar gaungnya hingga ke luar. Hal itu mungkin terjadi karena kurangnya sumber Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Dosen-dosen yang ada rata-rata sudah terlalu tua dan mungkin masih berpikir konservatif daripada progresif. Sementara itu, dosen-dosen muda yang progresif terkadang “dikondisikan” supaya tidak betah.

“Oleh karena itu, melihat kondisi seperti itu, aku jadi berpikir kembali, Unpad kali ini mengeluarkan jargon lagi yang menurut kacamata saya sangat bombastis. Unpad sebagai world class university, ukuran dunia ini bagi aku sangat tinggi sekali alias menjadi ukuran tertinggi karena kita masih hidup di dunia. Apakah memang tahapan sebelumnya sudah dilalui oleh Unpad? Apakah Unpad sudah menjadi yang terbaik di kawasan Jawa Barat? Bagaimana dengan posisi unpad di Indonesia? Lalu dengan posisi Unpad di Asia Tenggara?”

Pertanyaan pria yang kini bekerja di TV One tersebut bukan bentuk skeptisasi terhadap Unpad, melainkan inilah kenyataan yang harus dihadapi. Menurutnya, Unpad masih belum layak menuju dunia, akan lebih relaistis jika Unpad sebagai universitas terbaik di Indonesia.

Taufik Hidayat, salah satu alumni Unpad juga, juga sama pesimistisnya dengan Iwan. Pria yang aktif dalam organisasi kampus semasa jadi mahasiswa itu berpendapat sebaiknya Unpad tidak perlu menjadi world class university terlebih dahulu. Hal yang terpenting adalah menyejahterakan dahulu masyarakat di sekitar univeritas. Hakikat pendidikan adalah menghilankan penderitaan, bukan menjual ide demi mekanisme pasar.

“Dulu saya pikir dengan kuliah di Unpad dapat merubah warga di sekitar lingkungan pendidikan agar mendapat kesejahteraan hidup yang lebih baik. Nyatanya tidak lebih, saya malu akhirnya lulus bersama ilmu yang dapat mengatarkan pada mekanisme pasar saja,” ujar Taufik.

Setali tiga uang dengan pendapat tiga mahasiswa di atas, Iwan juga menyoroti permasalahan mengenai pembangunan infrastruktur  di berbagai sektor. Infrastruktur sekarang jelas sangat berbeda dengan zaman Iwan berkuliah dulu. Sekarang telah banyak perubahan. Namun ukuran sebuah universitas melesat ke jenjang dunia tidak semata dilihat dari kondisi fisik. Suprastruktur yang terbentuk dalam sumber daya manusia juga turut serta menjadi acuan.

“Inilah perbedaan yang sangat mencolok sekali. belum ada tokoh Unpad yang dikenal di dunia internasional layaknya ITB atau UI, misalnya. Justru ini menjadi tantangan bagi unpad, mencetak tokoh-tokoh yang dikenal di dunia internasional,” kata Iwan.

Iwan berpesan, bermimpi memang harus setinggi langit. Namun harus juga realistis dengan kondisi Unpad sendiri. Akan lebih baik konsentrasi dengan perbaikan internal terlebih dahulu daripada berkoar-koar dengan berbagai macam jargon.

“Jelas, sebagai salah seorang alumni Unpad, aku sangat bangga telah menjadi bagian dari keluarga besar Unpad. Akan semakin berlipat kebanggan itu jika melihat tokoh-tokoh Unpad yang berkibar di dunia internasional. Semoga suatu saat ini bukan mimpi di siang bolong tapi menjadi kenyataan,” imbuh Iwan.

BEM Siap Jadi Organisasi Konstruktif

Berbeda dengan tanggapan kedua alumni dan ketiga mahasiswa yang pesimistis, Akhmad tetap optimistis dengan rencana Unpad untuk menjadi world class university, namun tidak mungkin terealisasi dalam waktu dekat. Akhmad tidak bisa memastikan berapa tahun hal itu akan terealisasi karena itu tergantung dari semangat civitas academica—dan dalam hal ini bukan hanya rektorat saja, melainkan juga mahasiswa untuk memang betul-betul punya langkah yang sama untuk menuju ke sana. Kalau itu terjadi, lima tahun ke depan pun bisa terwujud.

Akhmad merasakan beberapa hal di lapangan yang  belum cukup optimal atau layak untuk Unpad dijadikan sebagai world class university. Ada beberapa hal yang bisa jadi bahan perbaikan dan itu butuh waktu. Pertama, belum semua fakultas memiliki gambaran kualifikasi yang jelas tentang lulusannya, hanya sebatas gambaran kurikulum. Kedua, masih ada “orang-orang lama”—yang masih memiliki semangat lama yang tidak open minded— yang masih memandang mahasiswa sebagai objek, sehingga mahasiswa diharuskan mengikuti sistem yang berlaku, tidak menjadi subjek pendidikan.

Disinggung mengenai kriteria yang harus dipenuhi Unpad untuk berkelas dunia, Akhmad menjawab, “Kalau boleh berekspektasi, pertama Unpad harus punya daya saing berskala internasional, yang bagus dan tergambar dari kualifikasi lulusannya. Kemudian untuk mencapai itu, yang kedua, ada banyak hal yang harus dipersiapkan, baik sarana dan prasarananya dan juga sistem yang ada di dalamnya. Beberapa fokus atau prioritas yang menjadi garapan adalah bidang-bidang kajian, tetapi tidak menutup pada pengembangan diri mahasiswa. Itu terkait dengan kualifikasi lulusan.”

Unpad tentu memiliki potensi dan kelebihan untuk berkelas dunia. Pertama, keragaman potensi yang dimiliki Unpad sebagai universitas multidisiplin ilmu. Kedua, mahasiswa Unpad mulai open minded dan ini menjadi salah satu gambaran yang konstruktif untuk menunjang kualifikasi lulusan yang bagus.

“Di samping itu juga, dalam beberapa hal sistem yang sudah ada di Unpad serta semangat untuk menjalankan sistem itu—baik rektorat maupun mahasiswa—menjadi lebih terbuka dan lebih siap menerima kritikan dan masukan yang bagus untuk Unpad ke depannya,” lanjut  Akhmad.

Untuk mewujudkan Unpad sebagai universitas kelas dunia diperlukan budaya organisasi yang kondusif. Namun untuk mengetahui budaya organisasi apa saja yang diperlukan untuk mengembangkan Unpad ini, seluruh civitas akademica Unpad harus menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari Unpad. Jadi, yang diperlukan saat ini adalah integritas masing-masing individu pada universitas itu sendiri. Hal itu diungkapkan Rektor Unpad Ganjar Kurnia seperti dikutip dari website resmi Unpad.

Mengenai hali itu, Akhmad sepakat dengan Ganjar, yakni membutuhkan budaya organisasi yang kondusif. Akan tetapi, ia lebih sepakat apabila membutuhkan budaya organisasi yang konstruktif.

“Kondusif artinya, kan, tendensinya ke arah damai dan aman. Konstruktif itu bagaima pun caranya, juga hal-hal yang sifatnya gesekan atau hal-hal yang tidak sejalan dengan kondisi kita—tapi kalau itu bisa menjadi hal yang konstruktif, saya pikir tidak apa-apa. Hal yang terjadi bukan konotasi negatif, tapi punya tujuan yang jelas dan punya akhir yang betul-betul bagus untuk Unpad ke depannya,” kata Akhmad.

BEM pun sudah mempersiapkan dukungannya pada Unpad dalam hal ini. Pertama, satu hal yang sedang BEM upayakan secara kontinyu adalah budaya kajian, bagaimana kemudian gerakan atau eksekusi yang dilakukan organisasi itu berdasarkan kajian yang jelas dan melibatkan mahasiswa untuk kemudian bisa berpartisipasi aktif. Kedua, BEM juga memfasilitasi beberapa hal yang juga menjadi potensi yang ada dalam mahasiswa, baik itu entrepreneurship, keilmuan, maupun seni dan budaya.

“Yang pasti kita akan mewariskan budaya kajian ini hingga tingkat fakultas. Jadi kita biasakan melibatkan teman-teman dari fakultas dan kemudian bisa melanjutkan ke fakultasnya. Program kerja kami juga mengarah ke mewadahi teman-teman yang punya potensi,” kata Presiden BEM periode 2009-2010 itu.

Dari sisi entrepreneurship BEM memunyai program Unpad Trainer, salah satu program kerja BEM Unpad yang sudah mewadahi beberapa mahasiswa yang lolos kualifikasi dan diberikan dana untuk menjalankan rencana-rencana bisnis mereka. Dari sisi olahraga, BEM akan menyelenggarakan Olimpiade Bandung Raya. Kemudian dari sisi keilmuan BEM memiliki Pekan Ilmiah Mahasiswa yang akan diselenggarakan bulan November. Unpad juga memunyai Student Science Community (SSC) yang sudah cukup produktif. Mereka bekerja di lingkup kajian yang sifatnya ilmiah, beberapa segmen yang diambil dari mulai agro complex, medical complex, dan humaniora.

Akhmad berpesan untuk rektorat sebagai institusi yang mengatur ini semua agar tetap open minded atau terbuka dengan semua pihak. Ruang komunikasi pun harus tetap dijaga dan dibuka lebar-lebar dan tetap memberi kesempatan kepada oranng-orang yang punya kapasitas yang mumpuni walaupun dari kalangan menengah ke bawah.

Khusus untuk mahasiswa, Akhmad berpesan, “Manfaatkanlah semua potensi yang sudah ada dan terlibatlah di organisasi karena itu menjadi sarana untuk melatih soft skill yang bisa jadi tidak didapatkan di bangku kuliah. Cobalah untuk tidak berpikir tentang dirinya, tetapi juga untuk orang-orang luar. Mudah-mudahan masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari keberadaan Unpad, baik sifatnya regional maupun nasionl, nantinya internasional.” (Purwaningtyas Permata Sari)

One Comment Add yours

  1. husna says:

    boleh comentar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s