Sejarah Surat Kabar dan Perwajahannya

Sebelum ditemukannya mesin pencetak, orang-orang di jaman dahulu kala menyebarkan berita dari mulut ke mulut, surat tertulis, atau papan pengumuman. Kemudian orang-orang mulai memikirkan kebutuhan sebuah laporan berita tertulis. Bangsa Romawi kuno menemukan sistem yang cukup mengesankan dalam menyebarkan berita tertulis tersebut. Sistem itu disebut dengan nama acta diurna (kejadian-kejadian harian), sebuah lembaran berita ditulis tangan yang diterbitkan oleh pemerintah untuk umum dari tahun 59 sebelum masehi sampai setidaknya tahun 555 masehi yang memberitakan tentang politik, skandal, persidangan, kampanye militer, dan eksekusi.

Di China, pada pemerintahan awal mereka telah membuat lembaran berita yang disebut dengan nama tipao, yang diedarkan pada masa kekuasaan dinasti Han (202 sebelum masehi sampai dengan 220 masehi). Pada suatu waktu di masa kepemimpinan dinasti Tang (tahun 618 s.d. 907 masehi) bangsa China memakai blok kayu yang diukir untuk mencetak tipao, dan kemudian dicatat sebagai lembar berita pertama yang dicetak.

Mesin pencetak pertama kali dikembangkan oleh orang-orang Eropa di tahun 1450, dan menggunakannya untuk mempublikasikan berita. Dan surat kabar terus berkembang sebagai media penyebar informasi hingga saat ini.

  • SEJARAH SINGKAT SURAT KABAR
  1. Di jerman, Prototipe pertama surat kabar diterbitkan di Bremen Jerman pada tahun 1609.
  2. Di Inggris, surat kabar pertama yang masih sederhana terbit pada tahun 1921.
  3. Di Amerika, surat kabar yang pertama di Amerika Serikat adalah Pennyslvania Evening Post dan Daily Advertiser yang terbit pada tahun 1783.

Di Amerika

  • The Penny Press :

Perkembangan teknologi percetakan telah mengakibatkan proses percetakan semakin cepat, sehingga surat kabar semakin memasyarakat karena harganya murah

  • Newspaper Barons

Pada akhir abad 19, surat kabar di Amerika mengalami kejayaan karena surat kabar melakukan promosi yang sangat agresif.

  • Yellow Journalism

Surat kabar di Amerika pada akhir abad 19 menjadi bisnis besar, karena sirkulasinya yang semakin besar dan banyak persaingan antarpenerbit surat kabar.

  • Jazz Journalism

Tahun 1919 terbit surat kabar New York Daily News yang ukurannya lebih kecil, banyak menggunakan foto terutama pada halaman pertama, dan menampilkan satu atau dua headline, serta menekankan unsur sex dan sensasi.

Surat kabar pertama kali dibuat di Amerika Serikat, dengan nama “Public Occurrenses Both Foreign and Domestick” di tahun 1690. Surat kabar tersebut diusahakan oleh Benjamin Harris, seorang berkebangsaan Inggris. Akan tetapi baru saja terbit sekali, sudah dibredel. Bukan karena beritanya menentang pemerintah, tetapi hanya karena dia tidak mempunyai izin terbit. Pihak kerajaan Inggris membuat peraturan bahwa usaha penerbitan harus mempunyai izin terbit, di mana hal ini didukung oleh pemerintah kolonial dan para pejabat agama. Mereka takut mesin-mesin cetak tersebut akan menyebarkan berita-berita yang dapat menggeser kekuasaan mereka kecuali bila usaha itu dikontrol ketat.

Kemudian surat kabar mulai bermunculan setelah negara Amerika Serikat berdiri. Saat itu, surat kabar itupun tidak sama seperti surat kabar yang kita miliki sekarang. Saat itu surat kabar dikelola dalam abad kegelapan dalam jurnalisme. Sebab surat kabar telah jatuh ke tangan partai politik yang saling bertentangan. Tidak ada usaha sedikitpun untuk membuat berita secara objektif., kecuali untuk menjatuhkan terhadap satu sama lainnya. Washington dan Jefferson dituduh sebagai penjahat terbesar oleh koran-koran dari lawan partainya.

Presiden John Adams membreidel koran ”The New Republik”. Selama koran tetap dikuasai oleh para anggota partai politik saja, maka tidak banyak yang bisa diharapkan.

Kemudian kecerahan tampaknya mulai menjelang dunia persurat kabaran. James Gordon Bennet, seorang berkebangsaan Skotlandia melakukan revolusinisasi terhadap bisnis surat kabar pada 1835. Setelah bekerja di beberapa surat kabar dari Boston sampai Savannah akhirnya dia pun mendirikan surat kabar sendiri. Namanya ”New York Herald” dengan modal pinjaman sebesar 500 dollar. Percetakannya dikerjakan di ruang bawah tanah di Wall Street dengan mesin cetak yang sudah tuam dan semua pekerjaan reportase dilakukannya sendiri.

Sejak itulah berita sudah mulai dipilah-pilahkan menurut tingkat kepentingannya, tapi tidak berdasarkan kepentingan politik. Bennet menempatkan politik di halaman editorial. Isi korannya yang meliputi soal bisnis, pengadilan, dan kehidupan sosial masyarakat New York memang tidak bisa dijamin keobyektifatnya, tetapi setidaknya sudah jauh berubah lebih baik dibandingkan koran-koran sebelumnya.
Enam tahun setelah ”Herald” beredar, saingannya mulai muncul. Horace Greely mengeluarkan koran “The New York Tribune”. Tribune pun dibaca di seluruh Amerika. Pembacanya yang dominan adalah petani, yang tidak peduli apakah mereka baru sempat membaca korannya setelah berminggu-minggu kemudian. Bagi orang awam, koran ini dianggap membawa perbaikan bagi negara yang saat itu kurang terkontrol dan penuh bisnis yang tidak teratur.

Koran besar yang ketiga pun muncul di New York di tahun 1851, ketika Henry J. Raymond mendirikan koran dengan nama “The New York Times”, atas bantuan mitra usahanya, George Jones. Raymond-lah yang mempunyai gagasan untuk menerbitkan koran yang non partisan kepada pemerintah maupun perusahaan bisnis.

Setelah serentetan perang saudara di Amerika usai, bisnis persuratkabaran pun berkembang luar biasa. Koran-koran pun mulai muncul di bagian negara-negara selain New York dan Chicago. Di selatan, Henry W. Grady dengan koran “Konstitusi Atlanta”. Lalu, muncul koran “Daily News” dan “Kansas City Star” yang mempunyai konsep pelayanan masyarakat sebagai fungsi dari sebuah sebuah surat koran.

Di New York, surat kabar dianggap sebuah bisnis yang bakal menjanjikan. Charles Dana membeli surat kabar ”Sun” dan menyempurnakannya. Editornya, John Bogart punya cerita sendiri tentang berita. Menurutnya ”kalau anjing menggigit manusai, itu bukan berita. Tapi kalau manusia menggigit anjing, itu baru namanya berita”.

Pulitzer adalah yang pertama kali menerbitkan koran mingguan, di mana isinya ditulis oleh para penulis terbaik yang pernah ada. Setelah Pulitzer meninggal, ”New York World” malah menjadi yang terbesar di dunia. Orang menyebut Pulitzer sebagai ”wartawannya surat kabar”.

Dalam perkembangannya, surat kabar berangkat sebagai alat propaganda politik, lalu menjadi perusahaan perseorangan yang disertai keterkenalan dan kebesaran nama penerbitnya, dan sekarang menjadi bisnis yang tidak segemerlap dulu lagi, bahkan dengan nama penerbit yang semakin tidak dikenal.

Perubahan ini memberikan dampak baru. Ketika iklan mulai menggantikan sirkulasi (penjualan langsung) sebagai sumber dana utama bagi sebuah surat kabar, maka minat para penerbit jadi lebih identik dengan minat para masyarakat bisnis. Ambisi persaingan untuk mendapatkan berita paling aeal tidaklah sebesar ketika peloporan. Walaupun begitu, perang sirkulasi masih terjadi pada tahun 1920-an, tetapi tujuan jangka panjang mereka adalah untuk mencapai perkembnagn penghasilan dari sektor iklan. Sebagai badan usaha, yang semakin banyak ditangani oleh para pengusaha, maka surat kabar semakin kehilangna pamornya seperti yang dimilikinya pada abad ke-19.
Namun, surat kabar kini mendapatkan sesuatu yang lain yang lebih penting. Surat kabar yang mapan kini tidak lagi diperalat sebagai senjata perang politik yang saling menjatuhkan ataupun bisnis yang individualis, melainkan menjadi media berita yang semakin obyektif, yang lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pihak-pihak tertentu saja.

Kenaikan koran-koran ukuran tabloid di tahun 1920-an yang dimulai oleh ”The New York Daily News”, memberikan suatu dimensi baru terhadap jurnalisme. Akhirnya memang menjadi kegembiraan besar bagi kehidupan surat kabar, terutama dalam meliput berita-berita keras. Perubahan lain yang layak mendapat perhatian adalah timbulnya sindikasi. Berkat adanya sindikat-sindikat, maka koran-koran kecil bisa memanjakan pembacanya dengan materi editorial, informasi, dan hiburan. Sebab kalau tidak, koran-koran kecil itu tentu tidak dapat mengusahakan materi-materi tersebut, lantaran biaya untuk itu tidaklah sedikit. Sindikat adalah perusahaan yang berhubungan dengan pers yang memperjualbelikan bahan berita, tulisan atau bahan-bahan lainuntuk digunakan dalam penerbitan pers.

Di Indonesia

Surat kabar mulai terbit di Indonesia pada pertengahan abad 18 dan umumnya diterbitkan oleh orang-orang Belanda dan berbahasa Belanda pula namun seiring dengan perkembangan mulai banyak surat kabar yang diterbitkan dalam bahasa Melayu namun kebanyakan masih beraksara Arab, Jawa atapun campuran dengan aksara Latin.

Yang dimaksud dengan surat kabar pertama di Indonesia ialah surat kabar dengan bahasa Melayu dan murni beraksara Latin dan memiliki redaksi orang Indonesia asli serta diterbitkan oleh orang Indonesia asli.

  • Zaman Belanda

Menurut catatan sejarah, penerbitan media cetak di Indonesia sudah dimulai
sejak penguasaan VOC (1619-1799), tepatnya tahun 1676. Awalnya hanya
kalangan penguasa dari Eropa - terutama Belanda dan Inggris -- yang
diizinkan menerbitkan media cetak. Namun, kaum Tionghoa dan kalangan
bumiputra (pribumi) akhirnya juga diizinkan mengelola media cetak sendiri.

Dr De Haan dalam buku "Oud Batavia" (G. Kolf Batavia 1923) mengungkap, tahun
1676 di Batavia sudah muncul sebuhh terbitan berkala bernama Kort Bericht
Eropa (berita singkat dari Eropa). Terbitan berkala yang memuat berbagai
berita dari Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Inggris, dan
Denmark ini, dicetak di Batavia oleh Abraham Van den Eede tahun 1676.
Setelah itu terbit Bataviase Nouvelles pada bulan Oktober 1744. Kala itu,
Bataviasche Nouvelles hanya memuat berita tentang acara resepsi pejabat,
pengumuman kedatangan kapal, stok barang dagangan, atau berita dukacita.

Media cetak yang berbentuk surat kabar baru muncul tahun 1800-an.
Bataviasche Koloniale Courant tercatat sebagai surat kabar pertama yang
terbit di Batavia tahun 1810. Ketika armada Inggris menaklukkan Jawa, Thomas
Stamford Raffles - yang diangkat sebagai Gubenur Jenderal - juga sempat
menerbitkan koran mingguan bernama Java Government Gazette pada tahun 1812. Pada tahun 1825 muncul De Locomotief di Semarang

Pada tahun 1828, di jakarta diterbitkan Javasche Courant yang isinya memuat berita-berita resmo pemerintahan. Di surabaya (1835) terbit Soerabajasch Niew en Advertentiebland. Sedangkan di semarang terbit Semarangsche Advertentiebland dan De Searangsche Courant.

Pers yang melayani masyarakat pribumi baru lahir tahun 1855 di Solo dengan
nama Bromomartani. Kemudian disusul Selompret Melajoe di Semarang tahun
1860. Pada era ini, di luar Jawa, juga lahir sejumlah surat kabar. Antara
lain Celebes Courant dan Makassar Handelsblad di Ujungpandang, Tjahja Siang
di Manado, Sumatra Courant dan Padangsch Handelsblad di Padang. Sementara di
Batavia juga lahir sejumlah koran. Yang paling popular adalah Bintang
Betawi. Hanya saja, koran-koran yang terbit pada masa awal sejarah pers
tersebut kebanyakan dikelola kaum kolonial.

Sampai akhir abad ke-19, koran atau terbitan berkala yang dicetak di Batavia
hanya memakai bahasa Belanda. Karena surat kabar di masa itu diatur oleh
pihak Binnenland Bestuur (penguasa dalam negeri), kabar beritanya boleh
dikata kurang seru. Yang diberitakan cuma hal-hal yang biasa dan ringan,
dari aktivitas pemerintah yang monoton, kehidupan para raja, dan sultan di
Jawa, sampai berita ekonomi dan kriminal.

Pers lokal baru bangkit awal 1900-an setelah kolonial Belanda mengizinkan
kaum Tionghoa mengelola media cetak. Ketika Tionghoa mulai menerbitkan surat
kabar, orang-orang bumiputra juga mulai belajar mengelola koran. Tahun 1900
Dr Wahidin Soedirohoesodo menangani surat kabar Retno Dhoemilah dalam dua
bahasa; Jawa dan Melayu. Melalui media ini Wahidin mulai mengkampanyekan
nasionalisme, pendidikan masyarakat, persamaam derajat dan budi pekerti.
Hanya saja, surat kabar Retno Dhoemilah ini juga didirikan oleh orang
Belanda, FL winter, dengan perusahaan penerbit milik kolonial H Bunning
Co.

Pada tahun 1901, Datuk Sutan Marajo bersama adiknya bernama Baharudin Sutan Rajo nan Gadang menerbitkan dan memimpin sendiri sebuah surat kabar yang diberinya nama Warta Berita yang merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang berbahasa Indonesia (bahasa Melayu dengan huruf Latin) dimiliki dan redakturnya orang Indonesia.

  • Zaman Jepang

Ketika jepang datang, surat kabar yang ada di Indonesia diambil alih secara pelan-pelan. Tujuan sebenarnya adalah agar pemerintah jepang dapat memperketat pengawasan terhadap isi suratkabar.

  • Zaman Kemerdekaan

Pada masa awal kemerdekaan, Indonesia pun melakukan perlawanan alam hal sabotase komunikasi. Surat Kabar Berita Indonesia yang diprakarsai oleh Eddie Soeraedi ikut melakukan propaganda agar rakyat berbondong-bondong pada rapat raksasa di lapangan Ikada Jakarta tanggal 19 September 1945.

  • Zaman Orde Lama

Setelah Presiden Soekarno mengumumkan dekrit kembali ke UUD 1954 tanggal 5 Juli 1959, terdapat larangan kegiatan politik, termasuk pers. Situasi seperti ini dimanfaatkan oleh PKI yang pada saat itu menaruh perhatian pada pers.

  • Jaman Orde Baru

Sejalan dengan tampilnya orde baru, surat kabar yang tadinya dipaksakan untuk mempunyai gantolan, kembali mendapatkan kepribadiannya.

  • Zaman Reformasi

Berakhirnya Orde Baru mengalihkan kebebasan berekspresi melalu media atau kebebasan pers.

  • PERKEMBANGAN PERWAJAHAN (LAY OUT) SURAT KABAR

Sebelum surat kabar muncul, ada yang disebut newsletter. Newsletter dan gazette (lembaran negara) pada mulanya ditulis oleh sekelompok bankir atau trading company bagi kelompok klien yang membutuhkan informasi spesifik yang bisa menarik minat mereka. Dengan cara yang sama, satu dari salah satu penyedia servis paling awal, Reuteurs, dari Inggris, fokus kepada penyediaan berita keuangan dan ekonomi untuk semua klien privat.

Mesin fax telah muncul sebagai media “cetak” yang yang memungkinkan pesan bisa dikirim secara instan ke mesin fax dan computer lainnya yang dituju. Kehadiran mesin fax  bisa membuka banyak topik, dari stok persediaan obat olahraga hingga pasar peralatan telekomunikasi di Asia. Gazette ini bisa dikirim harian, mingguan, bulanan, atau sewaktu-waktu.

Untuk sebagian tingkat, ini adalah sesuatu yang baru, lebih cepat, dan mungkin lebih murah dalam arti pengiriman newsletter, tetapi itu memungkinkan kesempatan terbuka untuk pendistribusian potongan-potongan yang lebih visual, format lebih kreatif, dan lebih sedikit teratur. Ini berarti newsletter bisa dikirimkan dari computer para pengirim ke daftar orang-orang yang ingin mereka kirimi.

Metode ini juga menawarkan kemungkinan baru pengiriman di tempat di seluruh situasi di mana telepon menawarkan akses yang lebih baik daripada moda transportasi kuno, dan di mana internet bahkan belum ditemukan.

Surat kabar pertama kali dikembangkan sebagai kertas-kertas berita yang luar biasa di Belanda, Britania Raya, dan Perancis untuk membawa berita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar negeri, seperti Tiga Puluh Tahun Peperangan di Jerman (1618-1648).

Kertas-kertas berita ini, yang disebut corantos, secara besar-besaran tergantikan keberadaannya oleh laporan harian, atau diurnos, yang terfokus pada peristiwa-peristiwa lokal, seperti berita tentang raja dan parlemen antara tahun 1640 hingga 1650 di Britania Raya.

Karakteristik terpenting yang membedakan surat kabar dari buku dan majalah adalah pada pendeknya waktu yang dibutuhkan surat kabar untuk proses produksi dan distribusi. Kecepatan adalah esensi utama dalam pencarian berita, penerbitan, dan penyebaran berita.

Perwajahan media massa, sesuai dengan fungsi dan tujuan penerbitannya, bersifat aktual yang tetap menjawab aspirasi medianya (falsafah, konsepsi) dan karakter sasaran pembacanya.

Meskipun media massa mengemban fungsi : informasi, opini dan hiburan, bentuk sebuah media tertentu sangat beragam tergantung pada penitikberatan arahnya:
• Positioning, identitas yang menjadi ciri media tersebut.
• Sasaran pembaca yang dituju.

Hal tersebut kemudian akan menentukan gaya visual suatu media, tercermin melalui pilihan foto/gambar, headline, cara bertutur dan perwajahannya.
Dua hal yang menjadi pertimbangan dalam menentukan gaya visual/perwajahan media :
Ciri yang tetap dalam perwajahan, agar secara selintas dapat dikenali identitasnya (konstanta). Dalam ciri yang tetap ini dimungkinkan mencapai variasi untuk mengungkap aktualitas isinya, hingga selalu tampak baru (variabel).

Koran “masa hidupnya” lebih pendek dari majalah, hanya sehari. Karena itu koran lebih menekankan pada berita, sedang majalah pada wawasan dan feature. Dengan demikian wajah koran berusaha lebih berteriak baik melalui headline maupun foto, untuk merangsang pembelinya.

Padahal koran hanya terdiri dari 16 halaman (di Indonesia), dan satu halaman koran ditempati oleh berbagai berita, rubrik dan artikel. Yang dianggap penting diletakkan di bagian depan. Masalahnya, bagaimana mengatur teriakan di halaman depan agar tetap terasa prioritasnya tanpa mengurangi kepentingan berita yang lain, dan mengalirkan sisa berita dengan baik ke lembar berikutnya. Majalah lebih leluasa dalam mengatur, karena tiap muka dapat berdiri secara individual. Tiap artikel dapat dirancang secara menarik dan runtun.

Baik koran maupun majalah, menghadapi masalah : mengatur emosi pembaca selama membalik-balik halaman. mengatur irama adalah mengalirkan perasaan pembaca sampai halaman terakhir.

Pada koran, tekanan selalu diletakkan di halaman pertama, halaman tengah (spread) dan halaman terakhir, halaman lain perlu diatur agar kadar menariknya tetap sinambung.

Rubrikasi biasanya ditandai dengan penempatan yang tetap dan desain khusus kepala rubrik. Pada koran penempatan yang tetap sangat membantu pembaca, membina kebiasaan dalam menemukan rubrik favoritnya.

Headline dan subhead pun biasanya ditentukan dengan jenis huruf yang tetap, dan beberapa jenis lain untuk yang khusus. Pada koran, umumnya variant jenis hurufnya lebih sederhana, karena soal waktu dan tekanan kepentingan pada bunyi/verbal katanya. Pada kasus tataletak gaya “circus” memang hal ini relatif, karena keseragaman akan mengurangi keunikan. Yang penting adalah memilih jenis-jenis huruf dan aplikasi yang selaras.

Banner Headline adalah headline yang berukuran sangat besar. Pada koran, biasanya terletak di halaman muka, sedang pada majalah pada awal artikel yang diunggulkan.

Teaser biasanya digunakan dalam majalah pada muka yang hanya berisi bodytext, tanpa head dan foto. Teaser yang merupakan cuplikan dari artikel digunakan untuk menarik pembaca pada artikel tersebut.

Initial, huruf pertama sebuah alinea, saat ini digunakan tidak hanya pada awal artikel. Initial yang disebar pada sebuah artikel dapat mempunyai kesan bahwa artikel tak terlalu panjang/melelahkan untuk dibaca. Selain itu dari segi perwajahan dapat menghidupkan halaman.

Sumber Literatur:

http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme/message/23003

www.kuliahkomunikasi.com

http://www.geocities.com/tile32puisi/artikel.html

bachtiarhakim.wordpress.com

Straubbar, Joseph dan Robert LaRose. 2000. Media Now: Communication Media in The Information Age. Wadswort.

9 Comments Add yours

  1. Song eun cha says:

    Hai, thank you untuk infonya yah.
    kebetulan saya lagi mau nulis cerita yang berhbungan dengan surat kabar, dan tulisan ini jadi referensi buat saya. Ijin bookmark yaa😀

  2. Casimira says:

    This is certainly the second blog, of urs I really read.
    Nonetheless I really like this 1, “Sejarah Surat Kabar dan Perwajahannya | Elisabetyas’s Weblog” the most. Cya -Lina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s