Mewujudkan Produk Kertas yang Ramah Lingkungan *

Pernahkah Anda bertanya berapa banyak kertas yang manusia pergunakan selama satu tahun? Menurut data yang dihimpun oleh The Bureau of International Recycling, rata-rata penduduk Amerika Utara mengonsumsi 323 kg kertas/ capita, sedangkan penduduk Eropa 125 kg kertas/ capita. Penduduk Asia memiliki data yang beragam dalam konsumsi kertas per capita. Jepang menduduki peringkat tertinggi di Asia dalam konsumsi kertas, yakni 247 kg/ capita, diikuti oleh Singapura (228 kg/ capita), Malaysia (106 kg/capita), Taiwan (51 kg/ capita), dan China (42 kg/ capita). Sedangkan konsumsi kertas oleh penduduk Indonesia tercatat 22 kg/ capita. Tak bisa dipungkiri, konsumsi kertas oleh masyarakat dunia diprediksikan akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Confederation of European Paper Industry memperkirakan permintaan dunia untuk kertas akan meningkat 25 persen pada tahun 2020.

Hal yang menjadi kekhawatiran kebanyakan orang di dunia adalah semakin bertambahnya konsumsi terhadap kertas, maka hutan dan lingkungan hidup manusia akan semakin rusak. Asumsi dari kekhawatiran tersebut berdasarkan fakta bahwa pembuatan pulp (bubur kertas), bahan dasar kertas, menggunakan virgin fiber dari pohon. Maka, pohon harus ditebang untuk mendapatkan virgin fiber tersebut. Namun, benarkah demikian, bahwa penggunaan kertas lah yang berkontribusi terhadap perusakan hutan?

Industri kehutanan dunia mengelola lahan konsesinya dengan mengacu kepada prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management) yang diatur oleh pemerintah negara masing-masing. Prinsip pengelolaan hutan lestari ini mempertahankan dan meningkatkan ‘kesehatan’ ekosistem hutan dalam jangka panjang, dan pada saat yang sama juga menyediakan peluang-peluang sosial, lingkungan, ekonomi dan budaya untuk generasi-generasi sekarang dan masa depan. Di Indonesia, pengelolaan hutan lestari ini tertuang dalam skema pengelolaan hutan yang diatur oleh Kementerian Kehutanan, yang disebut dengan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL).

Hutan yang digunakan untuk kepentingan industri disebut sebagai Hutan Tanaman Industri (HTI). Pemerintah Indonesia memberikan ijin konsesi HTI di daerah-daerah hutan yang rusak atau telah terdegradasi, dan mewajibkan para pemegang konsesi untuk melakukan berbagai macam audit pada lahan konsesi tersebut sebelum dimulainya suatu operasi HTI, untuk memastikan bahwa tidak ada hutan dengan nilai konservasi tinggi yang diubah menjadi HTI.

Dalam hal industri pulp dan kertas, HTI-nya biasanya terdiri dari satu jenis tanaman (hutan homogen), yang biasanya berupa tanaman berjenis Acacia Mangium, Acacia Crassicarpa dan Eucalyptus, yang merupakan bahan utama untuk pembuatan pulp. Hutan Tanaman Industri yang dikelola secara lestari memiliki berbagai fungsi positif, diantaranya menghijaukan kembali lahan rusak dan penyerapan karbon.

Selain sertifikasi pengelolaan hutan lestari yang diwajibkan pemerintah masing-masing negara, dalam tingkat internasional terdapat juga dua badan sertifikasi hutan utama, yaitu PEFC (Programme for the Endorsement of Forest Certification Scemes) dan FSC (Forest Stewardship Council). Kedua sertifikasi kehutanan ini pada dasar memiliki konsep dan prinsip yang sama, yaitu memastikan bahwa kawasan hutan yang ada dikelola secara lestari dan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa keuntungan lingkungan, sosial dan ekonomi dari hutan tersebut dapat dinikmati oleh para penduduk dunia. Sedikit perbedaan antara PEFC dan FSC adalah bahwa PEFC mendukung dan mengakui skema sertifikasi nasional suatu negara yang sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan PEFC, sementara FSC menetapkan satu jenis skema yang diberlakukan untuk seluruh negara di dunia.

Industri di Indonesia, termasuk industri pulp dan kertas, berkomitmen tinggi untuk tidak menggunakan kayu hasil dari illegal logging. Dalam menghindari masuknya illegal log dalam rantai produksinya, berbagai industri kehutanan melakukan audit yang disebut Chain of Custody (CoC) pada sisi operasional produksinya. Chain of Custody merupakan sebuah proses pemantauan step by step yang dapat menelusuri asal muasal sebuah produk sampai ke hasil akhirnya. Dalam hal produk kertas, Chain of Custody terentang mulai dari saat masih berupa pohon di HTI sampai ketika menjadi produk kertas.

Selain sertifikasi CoC, dalam sisi produk akhir juga terdapat berbagai macam sertifikasi yang menyatakan bahwa produk berbahan baku kayu ini berasal dari kayu yang legal dan dari HTI yang dikelola dengan lestari. Sertifikasi pada produk ini memiliki parameter spesifik sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasar, seperti US Green Seal untuk pasar Amerika Serikat, Eco Mark untuk pasar Jepang, dan European Ecolabel untuk pasar Eropa. Pada umumnya suatu produk kayu bisa masuk ke pasar-pasar tersebut jika memiliki sertifikasi produk yang diharuskan oleh pasar tujuan.

Isu lain yang menjadi perhatian masyarakat adalah mengenai pemanasan global (global warming). Pemicu pemanasan global adalah naiknya temperatur di muka bumi yang terjadi ketika emisi gas rumah kaca (gas karbon dioksida, metana, dan sebagainya) meningkat sehingga energi panas matahari terperangkap dalam atmosfer bumi, dan menyebabkan penumpukan panas di permukaan bumi.

Pada dasarnya, segala jenis aktivitas yang dilakukan manusia di muka bumi akan menghasilkan emisi CO2. Bahkan hanya bernafas pun, manusia juga menghasilkan gas CO2. Dalam hal dunia industri, yang sering kali dianggap sebagai salah satu penghasil emisi gas karbon terbesar, belakangan ini mulai banyak dilakukan usaha penghitungan carbon footprint (jejak karbon). Carbon footprint ini merupakan usaha sebuah pelaku industri untuk menghitung jumlah karbon yang dihasilkan dalam operasinya. Hasil dari penghitungan carbon footprint ini akan dijadikan landasan bagi pelaku industri tersebut untuk merencanakan program-program usaha penurunan emisi karbon selanjutnya.

Industri pulp dan kertas juga merupakan salah satu industri yang banyak menggunakan produk kertas bekas (used paper products) sebagai bahan baku produksinya, untuk kemudian dijadikan kertas daur ulang. Penggunaan used paper products dapat menghemat penggunaan kayu pulp dalam pembuatan pulp. Menurut data dari Environmental Paper, penggunaan used paper products bisa menghemat virgin paper dari 12-24 batang pohon dalam membuat satu ton bubur kertas. Jika penggunaan virgin fiber untuk membuat satu ton pulp adalah 2,2 hingga 4,4 ton, maka hanya diperlukan 1,4 ton used paper products untuk membuat satu ton recycled pulp (bubur kertas daur ulang).

Dari data yang dihimpun The Paper Task Force, dapat terlihat penggunaan used paper untuk diolah menjadi recycled pulp mengalami peningkatan pada tiap dekade. Sebanyak 27 persen kertas didaur ulang menjadi recycled pulp pada tahun 1985 dan 40 persen pada tahun 1994. Pada tahun 2000 persentase itu meningkat menjadi 50 persen.

Daur ulang bukanlah satu-satunya jawaban untuk perbaikan lingkungan, namun berkontribusi dalam pengurangan dampak buruk bagi lingkungan. Daur ulang mampu mengurangi tuntutan akan penggunaan sumber daya alam berupa kayu, air, dan energi; mereduksi perubahan iklim; mereduksi pelepasan emisi dan gas ke udara; serta mengurangi pembuangan limbah padat.

Isu mengenai lingkungan memang sangat kompleks. Kerusakan lingkungan tak hanya disebabkan oleh industri pulp dan kertas semata. Namun, setidaknya ada upaya dari industri pulp dan kertas dunia untuk menjaga lingkungan. Dibutuhkan komitmen yang kuat, bukan hanya dari produsen kertas melainkan juga dari customer (pengguna kertas). Produsen kertas berkomitmen untuk mengurangi penggunaan virgin fiber dengan membuat recycled pulp dan mengharamkan illegal logging. Customer-lah yang bertugas menjadi pengontrol produsen kertas. Caranya adalah dengan memastikan bahwa setiap produk kertas yang mereka gunakan berasal dari sumber yang legal dan ramah lingkungan.

*) Dimuat di majalah “Dunia Kertas” edisi September-November 2011

2 Comments Add yours

  1. Dhani says:

    makin banyak kertas, makin banyak merusak lingkungan ya?

    1. elisabetyas says:

      Halo Dhani… Gak bisa dipungkiri kan kalau kita nggak bisa melepaskan diri dari penggunaan kertas? Yang perlu kita manage adalah cara kita menggunakan kertas, gak perlu boros, kalau bisa beli kertas hasil recycled.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s