Cerita dari Tengah Lautan

Aku merasa seperti amfibi, hidup di dua alam secara bergantian, darat dan laut. Jika malam tiba dan kebetulan badai datang, kdng ak ketakutan. Angin itu kecepatannya mencapai 60 knot. Dengan kekuatan angin secepat itu, mungkin aku bisa terbawa angin dan terjatuh ke laut bila aku berada di area luar anjungan.Tapi, hey, ini mimpiku, buah dari kekuatan pikiranku. Melihat enam hingga tujuh ekor lumba-lumba meloncat-loncat tiap fajar adalah salah satu kebahagiaan yang kutemukan di tengah laut ini.

Masa-masa cuaca buruk mengundang hiu tutul mendekat ke anjungan tempatku berada di tengah laut entah terbawa dari mana. Lebarnya 1.5 meter dengan panjang 4 meter. Kadang aku merasa hiu tutul itu menjaga anjungan. Hiu itu mengusir nelayan yang datang terlalu dekat ke area penyedotan minyak.Lucu sekali cara mengusir si hiu tutul. Hiu itu akan mengitari perahu nelayan agar nelayan ketakutan, dan meninggalkan anjungan.

Pilar penyangga anjungan ini cukup tebal, 1.5 meter. Namun, betapa pun kokohnya, bangunan ini terlihat ringkih di tengah lautan. Aku selalu berdoa agar saat menjelang kepulanganku, badai urung mengamuk, agar kapalku bisa menjemputku dan berlabuh di daratanmu.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s