Dipra dan Kegemarannya akan Novel, Film, dan Psikologi

“Kalau kamu penyuka pantai, aku bisa tebak kamu pasti adalah orang yang terbuka,” ujar Muhammad Khairul Sasmitadipraja yang akrab dipanggil Dipra.

Peramalkah dia? Begitulah hal pertama yang muncul di kepalaku saat mengenal Dipra, lelaki berkulit putih dan tampak terawat itu. Selanjutnya kesan yang mampu kutangkap dari sosoknya adalah periang dan mudah bergaul.

Benar saja, setelah berjam-jam mengenal Dipra, ternyata dia mampu membawa siapa pun untuk masuk lebih jauh mengenal dirinya. Lelaki kelahiran 28 September 1986 itu tak pandang bulu dalam bergaul.

Lulusan IISIP tahun 2010 itu mengambil studi jurnalistik. Dan setelah lulus, Dipra sempat bekerja di majalah “Esquire” selama setahun. “Esquire” adalah majalah gaya hidup khusus untuk pria.

Ternyata Dipra bukan peramal. Dia hanyalah wartawan biasa yang menyukai bidang psikologi. Dia gemar membaca buku-buku psikologi karena dia ingin bisa mempelajari pribadi orang lain. Buku psikologi populer yang paling digemarinya berjudul “Blink” karangan Malcolm Gladwell.

Selain suka dengan hal-hal berbau psikologi, Dipra tergila-gila dengan film. Setidaknya minimal seminggu sekali, Dipra menonton film di bioskop. Cobalah tanyakan film-film terbaru dan artis-artis peraih piala Oscar, Dipra akan dengan lancar menjawab pertanyaan itu. Jenis film yang menjadi favoritnya adalah drama percintaan.

“Aku suka film drama karena hidupku adalah drama,” ujar Dipra.

Pria yang sejak dilahirkan hinggi kini hidup di Jakarta itu memiliki dua film favorit, yakni “Cold Mountain” dan “Atonement”. Kedua film itu sudah ditontonnya berkali-kali tanpa merasa bosan. Hal yang dapat dipetiknya dari dua drama percintaan itu adalah bahwa cinta sejati ada di masa lalu dan tidak ada di masa kini. Baik “Cold Mountain” maupun “Atonement” berlatar zaman dulu, jauh sebelum teknologi berkembang. Dan pada saat dulu pula orang mencintai tanpa syarat. Tidak seperti sekarang, orang mencintai karena ada embel-embel lain.

Kecintaannya pada film itulah yang membuat Dipra dipercaya memegang rubrik ‘Cinema’ di “Esquire”. Selain menulis rubrik untuk film, Dipra juga dipercaya untuk menulis berita khas tentang profil komunitas dan pengusaha.

Sebelum Dipra keluar dari Esquire, ada satu pengalaman liputan yang tak bisa dilupakannya, yaitu saat dirinya meliput tentang penjara anak di Bandung. Dia mendapat kesan bahwa seharusnya anak-anak tidak dipenjara, tetapi ditempatkan di panti rehabilitasi. Alasannya, meski anak-anak ditempatkan di blok yang berbeda dengan orang dewasa, saat makan anak-anak akan berbaur dengan napi dewasa dan tak jarang pula mereka mengalami perploncoan yang dilakukan orang dewasa.

Pencapaian yang tertinggi yang ingin diraihnya dalam hidup adalah menjadi penulis dan pad umur 30 tahun dia ingin menerbitkn novel karyanya.

Penulis yang menjadi favoritnya sepanjang masa adalah Truman Capote, yang merupakan pengarang “Breakfast at Tiffany’s”. Namun tulisan Truman yang disukainya berjudul “In Cold Blood”, kisah nyata yang dijadikan novel. “In Cold Blood” bercerita tentang pembantaian keluarga religius di sebuah desa. Sudut pandangnya diambil dari dua pembunuh yang melakukan hal itu. Ternyata dua pembunuh tersebut tak sekeji yang dibayangkan orang. Truman mengambil sisi itu di dalam bukunya.

“Itulah kenapa aku suka Truman Capote. Dia adalah penulis yang mampu menyajikan fakta dan fiksi. Aku akan menjadi jurnalis yang menyampaikan fakta dan novelis yang menghibur dengan fiksinya. Aku akan menjadi penulis yang berarti bisa melakukan kedua hal tersebut,” kata Dipra.

Hobinya pada dunia penulisan membuat pernah ingin mengadakan kelas bahasa di SMA 47 Jakarta. Sayangnya dia tak bisa mengumpulkan cukup banyak orang untuk membuka kelas bahasa. Maka ia terpaksa masuk IPS. Lalu hasratnya menulis disalurkannya dengan berkuliah di jurusan jurnalistik.

Lelaki yang berkepribadian melankolis-plegmatis ini memiliki hal menakjubkan lagi dari dirinya. Dipra ternyata keluar dari Esquire untuk mengikuti pertukaran pemuda ke Jepang pada Oktober-Desember 2011.

Pemerintah Jepang berkolaborasi dengan negara-negara ASEAN untuk mengadakan ‘mutual understanding”. Setiap negara anggota ASEAN mengirimkan 28 dutanya untuk homestay di Jepang. Mereka berlayar menggunakan kapal-kapal pesiar dan mengunjungi negara-negara di ASEAN. Selain itu, mereka berdiskusi tentang permasalahan yang terjadi di tiap-tiap negara dan mencari jalan keluar.

Saat ini Dipra beserta teman-temanya yang ikut pertukaran pemuda itu tengah menyelesaikan proyek pengenalan budaya masing-masing negara dan akan diunggah ke YouTube.

“Nanti setelah jadi, kami akan memberi link YouTube tu kepada sekolah-sekolah,” pungks Dipra.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s