Eksistensi Buku Di Era Digital*

“Sebelum sebagian besar penduduk dunia ini menjadi kutu buku, kita telah sampai pada satu masa ketika dunia melesat ke alam audio-visual, virtual, dan multimedia.” (“Pada Mulanya Sebuah Buku”, dalam Bukuku Kakiku)

Begitulah kekhawatiran yang diungkapkan Melani Budianta, seorang pengamat budaya dan sastra. Kekhawatiran lainnya adalah dengan adanya zaman digital dan virtual, zaman buku pun perlahan akan punah. Mungkin tidak ada lagi tumpukan buku di perpustakaan suatu hari nanti, tergantikan oleh tumpukan CD berisi konten buku-buku.

Dunia telah melalui masa beretorika atau berbicara. Lalu kita pernah masuk ke era percetakan. Tak lama dunia menghadapi era penyiaran yang disajikan oleh televisi. Sekarang kita berada di era digital. Dunia berubah begitu cepat, terutama perubahan teknologi. Itu berpengaruh kepada bagaimana orang berpikir dan bertindak.

Tanpa disadari, setiap hari manusia tak bisa lepas dari terpaan pengaruh digital. Lebih dari satu dekade lalu teknologi Short Message Service (SMS) muncul, lalu disusul dengan surat elektronik (email), messenger, e-book, e-newspaper, e-tabloid, e-magazine, dan e-brochure. Belum lagi blog, microblogging, dan social networking, memudahkan orang untuk mencari informasi, tak perlu sulit-sulit mencari dan membaca buku. Rasanya penggunaan buku atau sesuatu yang tercetak akan semakin jarang dilakukan.

Satu pertanyaan dasar yang kemudian muncul di era digital ini, bagaimanakah nasib industri percetakan atau penerbitan? Apakah mereka akan mati perlahan-lahan?

Di negara maju yang budaya bacanya tinggi, Amerika Serikat contohnya, setiap tahun setidaknya diterbitkan 75.000 judul buku. Di negara berkembang seperti India—yang menduduki peringkat ketiga dunia dalam hal penghasil buku—, jumlahnya mencapai  60.000 judul buku terbit setiap tahun.

Bagaimana dengan Indonesia? Memprihatinkan. Meski sama dengan India sebagai negara berkembang, jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia per tahun jauh lebih sedikit, yakni 7.000 judul.

Lin Che Wei, seorang analis keuangan, mengatakan, “Buku-buku yang laku dan populer cenderung hanya buku fiksi dan novel. Minat orang terhadap buku-buku bersifat teknis seperti buku manajemen, finance, dan nonfiksi sangat terbatas.” (“Peranan Buku dalam Hidup Saya” dalam Bukuku Kakiku)

Kita dapat membayangkan jika era digital sudah mengakar di Indonesia—ditambah lagi buku nonfiksi kurang populer—, maka bukan tak mungkin akan semakin sedikit judul buku yang diterbitkan di Indonesia. Masyarakat akan beramai-ramai membeli e-book melalui internet.

E-book di Era Digital

Kemunculan e-book store pertama di Indonesia dipelopori oleh Papataka.com yang menggunakan Digital Rights Management (DRM), seperti dilansir Kompas.com Februari 2011 silam. Modelnya mirip dengan Amazon.com yang menjual e-book lewat internet. Bedanya hanya Amazon memiliki eReaders sendiri yaitu Amazon Kindle, sedangkan Papataka.com masih menggunakan eReaders dari produk luar negeri.

Tak bisa dipungkiri, kehadiran e-book disukai oleh masyarakat karena kepraktisannya. Diramalkan bahwa adanya e-book akan lebih efisien karena tak perlu lagi ada ongkos cetak dan distributsi. Belum lagi harga yang ditawarkan pasti lebih murah ketimbang buku yang tercetak. Harga sebuah judul e-book bisa 20 persen lebih murah daripada bentuk cetaknya.

Pemerintah Indonesiapun ikut berkontribusi dalam mempromosikan e-book. Untuk buku-buku pelajaran, pemerintah menyediakan setidaknya 37 judul e-book yang sudah dibeli hak ciptanya dan bisa diunduh siapa saja.

Beberapa penerbit buku juga telah mengantisipasi terjadinya penurunan minat masyarakat untuk membeli dan membaca buku. Bisnis percetakan dan media cetak kini pun turut menyediakan format digital untuk buku dan koran, seperti e-book dan koran digital. Gramedia, salah satu penerbit terbesar di Indonesia, pun melengkapi produk-produknya dengan format digital. Setidaknya Gramedia Online menyediakan 60.000 buku.

CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, seperti dikutip Kompas.com, mengatakan industri perbukuan di Indonesia kurang tumbuh baik selama puluhan tahun. Persoalan minat baca, daya beli masyarakat yang rendah, dan distribusi yang tidak merata, hingga soal pajak perbukuan juga tidak mendapatkan solusi.

Dalam berita berjudul “Laju Industri Perbukuan Semakin Berat” tersebut, Agung Adiprasetyo menuturkan, di belahan bumi lain pun industri perbukuan mengalami penurunan. Di era digital, perkembangan e-book diperkirakan lebih besar dari cetak. Tantangan industri perbukuan makin sulit, bisa jadi semakin banyak usaha toko buku dan penerbit yang bangkrut. (http://tekno.kompas.com/read/2010/07/04/17221540/Bisnis.eBook.Store.di.Indonesia..Peluang.Besar.Tantangan.Banyak.

Namun, khusus di Indonesia, penerbit buku tak perlu takut akan ancaman dari dunia digital ini. Hal itu justru menantang penerbit untuk lebih berinovasi dalam menerbitkan buku-buku bagus yang berkualitas. Pasalnya, reading habit dalam masyarakat Indonesia belum merata. Bagi orang-orang yang hidup di perkotaan dan sudah berkenalan dengan internet, buku mungkin menjadi pilihan kedua. Akan tetapi, masyarakat di pelosok yang belum ”akrab” dengan buku, perlu diperkenalkan dengan kebiasaan reading habit dan tentunya buku masih akan sangat dihargai. Peluang itulah yang bisa diambil  oleh penerbit buku di Indonesia untuk membangkitkan kembali usaha percetakan buku.

Buku di Era Digital

Dengan adanya era digital, hampir semua orang berpendapat bahwa banyak kelebihan yang dirasakan. Orang semakin mudah mencari informasi melalui internet. Biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan informasi pun relatif lebih sedikit. Belum lagi efisiensi waktu yang ditawarkan era digital dalam menghimpun informasi.

Namun di balik semua kecanggihan dan kelebihan yang ditawarkan era digital, masih tersimpan kelebihan mendasar yang ditawarkan oleh buku dan hasil cetak lainnya.

Tidak semua informasi berbentuk digital yang disediakan internet terjamin keakuratannya. Siapa saja bisa mem-posting ide dan pikirannya melalui internet. Tantangan yang harus ditaklukkan generasi muda saat ini adalah mereka harus memiliki critical thinking skill untuk memilih dan memilah mana informasi yang benar dan mana yang salah.

Sebuah buku menawarkan informasi yang runut. Pola berpikir penulis buku akan terlihat dalam penyajian bab dan tutur katanya, sehingga membantu pembaca lebih paham akan isi buku. Dalam sebuah buku, ditemukan lebih sedikit kesalahan berpikir dan ketidakakuratan informasi dibandingkan sumber dari internet.

Aktualisasi menyentuh lembar demi lembar sebuah buku membuat pembaca lebih menghayati dalam membaca, dibandingkan menaik-turunkan kursor dalam membaca e-book di komputer atau laptop. Orang bisa membubuhkan catatan dan menggarisbawahi pokok penting dalam buku—yang mana tidak bisa dilakukan saat membaca e-book.

Kita membaca karena banyak alasan: hiburan, pelajaran, dan referensi. Ada banyak cara juga untuk menerbitkan buku. Hal utama yang diberikan revolusi digital kepada kita adalah alternatif pilihan yang banyak dan berkembang. Revolusi ini telah membuka masa depan yang sebenarnya tak terbatas. Media cetak yang ada saat ini—buku, majalah, surat kabar—tidak juga bisa dikatakan kuno. Mereka sekarang didukung, bukan digantikan, oleh media baru, dan media-media baru itu akan memungkinkan kita untuk menerbitkan dalam cara-cara yang baru.

*Dimuat di Dunia Kertas edisi Januari-Maret 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s