Finally, I Wake Up!

Tadi siang di twitter, gue berkata, “Saya berniat meninggalkan “dunia” media massa, but it’s sad to be told, saya masih tetap peduli dengan tetek bengek tentang pemberitaan jurnalisme.” Menyedihkan rasanya bagi seseorang untuk akhirnya memilih tidak ingin terjun di bidang media massa padahal mulanya itu adalah idealismenya. Ya, idealisme gue terkikis, gue nggak mau menjadi wartawan. Kebanyakan orang yang kenal gue menyayangkan hal itu.

 And guess what? Gue berhenti menulis setidaknya enam bulan terakhir (kecuali skripsi gue). Bahkan untuk cerpen pun, gue gak punya hasrat untuk menulis. Ada kekecewaan besar yang bikin gue sementara menolak untuk berimajinasi. Gue bikin sebuah novel dan sudah gue kirimkan ke penerbit. Setelah delapan bulan penantian apakah karya gue akan di-publish atau tidak, akhirnya gue mendapat kabar dari penerbit itu bahwa novel gue ditolak. Itu saat di mana gue merasa jatuh ke dasar jurang, rasanya lebih menyakitkan daripada gue pernah nyaris nggak lulus sidang komprehensif.

Gue nggak besar kepala dengan mengatakan karya gue bagus—setidaknya teman-teman gue menyukai cerita yang gue tulis itu—tapi I keep asking why they rejected my novel. Gue hanya mampu mengumpulkan jawaban bahwa mungkin gue kurang qualified. CV gue kurang keren dipajang di bagian belakang novel seperti novelis metropop lainnya. Gue saat itu hanya mahasiswa. Mau bersaing dengan penulis-penulis keren yang punya background pendidikan atau pekerjaan yang hebat, gue belum mampu.

Oke, singkirkan segala kepicikan pikiran itu. Gue terima bahwa novel gue mungkin belum cocok untuk diterbitkan. Gue berusaha bangkit untuk memulai menulis lagi. Pernah gue bilang, kerja apapun gue nanti, cita-cita gue ya jadi penulis fiksi. Dan itulah yang ingin gue kejar lagi sekarang. Writing is my passion, although I never become a journalist I’ll still love writing.

My mom is the only one person who read my entire novel. Teman-teman juga baik tetap memberi dukungan, setia membaca lewat Facebook (sekarang sudah di-locked). Entah kenapa hari ini gue seperti disadarkan bahwa gue harus mulai menulis lagi. Sudah cukuplah gue timbun rasa sakit hati itu. I’ll try another publisher then.

Kesadaran itu muncul setelah ada seseorang yang gue kagumi me-reply tweet gue di atas. She wrote, “Nulis lagi, Dek =)” She’s a great woman, in process to get PhD degree in China. Dan kalau nggak salah, dia menang kompetisi blog dan tulisannya dimuat di Kompasiana. She’s adorable, amazing, fascinating. Hanya dari mention sederhananya di twitter, gue merasa sadar bahwa gue harus tetap menekuni apa yang menjadi keinginan gue. I think I love you, C…😉

2 Comments Add yours

  1. afnurghani says:

    kadang saya mikir, manusia itu mutlak bebasnya sampe bisa satu waktu rajin nulis, waktu lain malas nulis, dan itu wajar, kan, ya? cuma pikiran itu sering berbenturan sama ungkapan kalo konsistensi adalah salah satu jalan menuju kesuksesan. hmm

  2. elisabetyas says:

    Bener sih beneeer banget… Tapi buntu juga membuat frustasi, saat ide ga mampir ke pikiran. Yah masih untung jari-jari saya masih suka nari-nari di keyboard komputer untuk nulis apa saja yang bisa ditulis. Menulis, sarana penyaluran hobi dan kepenatan sebenarnya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s