Menjelajahi Paradise Island, Bintan

Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi baru, hasil pemekaran dari provinsi Riau. Dengan jumlah pulau besar dan kecil mencapai 2.408 pulau, dapat dibayangkan bahwa masyarakat di sana akrab dengan kehidupan laut.  Selain menjadi sumber mata pencaharian sehari-hari, laut di sekitar Kepulauan Riau menawarkan keindahan alam yang layak dikunjungi.

Pulau Bintan termasuk bagian dari Kepulauan Riau, bahkan mungkin menjadi pulau teramai di provinsi itu. Pasalnya, ibukota provinsi Kepulauan Riau terletak di Tanjungpinang, Bintan.  Segala kegiatan perdagangan terpusat di Tanjungpinang, selain di kota Batam.

Bagi masyarakat Indonesia, berwisata di Pulau Bintan belum menjadi favorit, meski wisata di Pulau Bintan sudah terkenal hingga mancanegara.  Jika ingin mengunjungi Pulau Bintan, turis domestik bisa melalukan perjalanan udara langsung ke bandara Raja Haji Fisabilillah di Bintan. Namun, untuk turis mancanegara, perjalanan menggunakan pesawat terbang harus terlebih dahulu  transit di Singapura, lalu lanjut ke bandara internasional Hang Nadim, Batam. Setelah itu, perjalan dilanjutkan melalui Selat Riau dan Teluk Bintan dengan menumpang kapal ferry dari pelabuhan Telaga Punggur di Batam menuju Sri Bintan Pura di Tanjungpinang.

Namun, jika turis domestik ingin melihat pemandangan laut penghubung Batam dengan Bintan, bisa mencoba menggunakan kapal ferry. Rasanya tidak lengkap bila pergi ke Bintan tidak menyeberangi laut menggunakan kapal ferry. Perjalanan melalui laut menawarkan pemandangan indah pulau-pulau berpasir putih yang terlewati antara Batam dan Bintan. Tak jarang juga ditemukan pulau tak berpenghuni yang dipenuhi tanaman Bakau hingga ke tepiannya. Sedikit merapat ke pelabuhan Sri Bintan Pura, akan terlihat pulau kecil berpasir cokelat yang bisa hilang-timbul saat air laut pasang dan surut. Dulu ada pohon di atasnya, jadi ketika laut pasang, akan terlihat sebatang pohon melayang di lautan.

Ketika Anda telah menyempatkan diri untuk setidaknya mengitari Tanjungpinang dan sekitarnya, Anda akan melihat laut di mana pun Anda berada. Tanjungpinang sendiri memiliki kontur tanah yang tidak rata permukaannya, membuatnya memiliki dataran-dataran yang lebih tinggi hingga masih memungkinkan untuk melihat lautan. Banyak taman dibangun di dataran yang merupakan tebing, yang berbatasan dengan laut, menjadikannya tempat yang asyik untuk disinggahi pada waktu sore hari bersama kerabat atau teman sekedar untuk bercengkerama.

Kawasan Wisata Laut

Bintan merupakan pulau yang menjanjikan pemandangan alam yang elok di sepanjang garis pantainya. Salah satu pantai yang terkenal berada di kawasan Lagoi, di sebelah barat daya Bintan. Pengunjung di kawasan Lagoi belum membeludak seperti tempat wisata pantai pada umumnya. Bagi Anda yang ingin berelaksasi dan mengusir penat dari pikiran Anda, berwisata ke Lagoi patut dicoba.

 Memasuki kawasan wisata Lagoi, tiap mobil dikenakan biaya sebesar 5.000 rupiah. Sebelum menemukan pantai, wisatawan akan disambut dengan pemandangan patung-patung binatang-binatang asal Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan keanekaragaman fauna kita kepada turis dari mancanegara.

Di sepanjang garis pantai Lagoi akan banyak ditemukan resort yang memiliki private beach. Itu berarti hanya penghuni resort yang bisa menikmati indahnya pantai. Nirwana Resort merupakan salah satu resort yang memiliki private beach. Pantai di Bintan sangat bersih, nyaris tidak ada kotoran non-organik. Pasirnya luar biasa putih, halus, dan tak berkarang. Selain Nirwana Resort, banyak resort yang bisa kunjungi di Lagoi sepertin Bintan Resort dan Banyan Tree.

Di Lagoi terdapat bukit-bukit yang bersandingan dengan laut. Kondisi itu dimanfaatkan oleh para wirausaha untuk membuka resort. Jadi dapat dibayangkan, Anda akan bisa melihat laut terhampar di bawah penginapan yang Anda singgahi saat berkunjung ke Bintan.

Pantai di Lagoi sebenarnya adalah laguna atau segara, bukan laut. Ada karang-karang tak terlihat dan pulau yang mengelilingi laguna kawasan Lagoi . Melalui pencitraan dari satelit, barulah terlihat bahwa pantai di kawasan Lagoi adalah laguna.

Air laut di Lagoi berwarna biru kehijauan. Rasa air lautnya pun tidak begitu asin. Itu disebabkan karena laguna di Lagoi merupakan air payau, pertemuan antara air laut dan air tawar. Aktivitas berenang pun menjadi sangat mengasyikkan karena ombak di Lagoi tidak besar.

Satu kompleks kawasan Lagoi sebenarnya berisi pantai, danau buatan, track off road untuk mobil dan motor. Danau buatan di Lagoi dalamnya kira-kira 40 meter dan terlihat luas. Mulanya danau itu adalah tambang. Setelah kegiatan penambangan tak lagi dilakukan, tempat itu pun dibuat ceruk, lalu dialiri air laut. Di danau buatan Lagoi, kita bisa bermain sepeda air, kano, dan jetski. Orang yang bermain jetski di Danau Lagoi tidak perlu memiliki lisensi. Akan tetapi, bagi sudah memiliki lisensi, bermain jetski di laut tentu lebih mengasyikkan.

 Makanan Khas

 Masyarakat Bintan pada umumnya suka bersosialisasi  satu sama lain. Tempat terfavorit untuk nongkrong adalah di kedai kopi sederhana, yang bukan hanya menyajikan kopi, melainkan juga makanan kecil lainnya.  Di kedai kopi di Bintan, ibaratnya, orang hanya pesan satu cangkir kopi, namun boleh nongkrong seharian.

Cita rasa masakan Bintan umumnya tak jauh berbeda dengan masakah khas Melayu atau Sumatra. Contohnya saja roti prata, yang menjadi menu andalan untuk sarapan di kedai kopi. Dari bentuknya, roti prata terlihat seperti martabak dan  roti cane khas Aceh.  Roti prata biasa disajikan dengan isian ayam atau daging sapi, ditemani dengan kuah kari yang disajikan terpisah. Roti prata juga bisa dinikmati tanpa isi alias hanya adonannya saja yang digoreng.

Bagi yang tidak begitu suka kopi, teh adalah minuman yang bisa dipilih. Berhatilah-hatilah ketika memesan teh di kedai kopi di Bintan karena para pelayannya tidak familiar dengan istilah teh tawar dan teh manis. Di Bintan, orang menyebut teh tawar sebagai teh kosong, sedangkan teh manis disebut teh obeng.

Menjelang siang, lebih banyak menu makanan yang bisa dipilih.  Makanan khas Bintan lainnya yangg unik adalah mie lendir. Mie kuning direbus lalu diberi kuah kacang atau sambel kacang, dicampuri taoge. Ada pula sup tulang yang rasanya mirip sup buntut Sup tulang berisi iga sapi, berkuah bening, dan ditaburi daun bawang di atasnya. Tak ketinggalan, ada pula sup ikan yang biasanya berisi ikan kakap merah. Boleh dicoba, sup ikan khas Bintan atau Batam lebih enak rasanya dibandingkan buatan pulau lainnya.

Tidak lengkap rasanya jika ke Bintan namun tidak menikmati seafood, apalagi di malam hari. Ada restoran  yang bangunannya menjorok ke laut—sehingga kita bisa merasakan angin dari laut—yang menyajikan  aneka seafood. Restoran itu bernama Sei Enam. Selagi makan seafood, kita bisa menikmati indahnya pemandangan laut.

Di restoran Sei Enam, hampir semua makanan hasil laut tersedia di sini. Makanan yang patut dicoba adalah gonggong atau siput laut. Gonggong ini hanya berada di perairan Batam dan Bintan, sulit ditemukan di daerah lain. Cara memasak gonggong adalah dengan cara merebusnya. Setelah matang, gonggong yang masih di dalam cangkang itu disajikan dengan sambal kacang encer terpisah. Cara memakannya adalah dengan mengambil daging gonggong dari dalam cangkang, setelah itu dicelupkan ke dalam sambal kacang encer. Selain itu, ada pula kepiting yang dimasak dengan beragam bumbu. Namun, yang menjadi favorit adalah kepiting masak lada hitam. Yang membuat kepuasan makan kepiting bukan terletak pada bumbu yang diberikan, melainkan ukuran kepiting yang relatif besar. Mungkin ukuran kepiting sebesar itu hanya ditemukan di daerah dekat pantai.

Hal unik yang menjadi kebiasaan restoran di Bintan, para pramusaji selalu menyajikan otak-otak sebagai makanan pembuka. Terkadang otak-otak itu sudah tersedia di meja, layaknya kerupuk yang selalu tersedia di restoran pada umumnya. Otak-otak di Bintan tidak hanya dibuat menggunakan daging ikan putih, tapi juga daging ikan merah. Pembungkusnya pun bukan daun pisang, melainkan daun kelapa yang seratnya lebih padat. Konon, daun kelapa menambah kekhasan rasa dari otak-otak khas Bintan tersebut.

Sebagai penyeimbang makanan laut, biasanya masyarakat Bintan gemar mengonsumsi sup keladi. Keladi ini lebih dikenal dengan sebutan talas di tanah Jawa. Keladi, jika dibuat sup, akan menjadi lembut, rasanya pun mirip kentang, namun lebih gurih. Makanan ini cocok untuk menjadi makanan penutup setelah seafood.         

 Senggarang

Senggarang adalah titik tertinggi di Bintan. Kantor walikota  berada di sini. Walikota beserta jajarannya bisa menatap kota yang dipimpinnya dari kantornya. Dari Senggarang pula nyaris seluruh Tanjungpinang bisa terlihat. Jika malam tiba, akan terlihat pemandangan kerlip lampu menakjubkan di kota Tanjungpinang.

Masyarakat Bintan percaya bahwa Senggarang merupakan tempat singgah imigran dari China berpuluh tahun lalu. Di sana ada klenteng dan vihara yang dianggap sakral oleh umat Budha. Namanya Vihara Dharma Sasana. Letak Vihara Dharma Sasana langsung menghadap ke laut.  Mulanya tidak sembarang orang boleh datang ke klenteng ini, apalagi hanya untuk berwisata. Namun, lama-kelamaan pendatang pun boleh singgah ke tempat ini untukmelihat kemegahan klenteng itu.

Setiap Imlek tiba, warga keturunan Tionghoa dari seluruh Bintan, bahkan Batam, berkumpul di vihara yang memiliki gerbang besar berwarna merah-emas. Ada patung Budha berukuran raksasa di bagian belakang dan juga pohon besar, menambah kesan sakral vihara ini

 Pulau Penyengat

Pulau Penyengat letaknya terpisah dari Pulau Bintan dan bisa ditempuh dengan perahu boat dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit, berjarak 6 km dari Bintan. Di Pulau Penyengat ini terdapat makam-makam para raja Kerajaan Indera Sakti dan juga sebuah masjid megah bernama Masjid Sultan Riau Penyengat. Wisata mengelilingi Pulau Penyengat bisa dilakukan dengan menumpang becak motor.

Masjid Raya Sultan Riau Penyengat tersebut dibangun sebagai mahar kepada Engku Putri dari Raja Haji dari Tanjungpinang saat hendak menikahi sang puteri. Engku Puteri bernama asli Raja Hamidah. Pembangunan di Pulau Penyengat konon ditujukan untuk melamar Engku Puteri. Warna masjidnya kuning-hijau cerah, sesuai warna favorit warga Bintan. Mimbarnya pun terbuat dari emas asli.  Percaya atau tidak, masjid ini dibangun tidak menggunakan semen, namun menggunakan  tumpukan batu dan direkatkan oleh putih telur.

Di dalam Masjid Raya Sultan Riau itu tersimpan Al-Qur’an tulisan tangan Abdurrahman Stambul. Dia adalah seorang penduduk Penyengat yang diutus oleh raja untuk memperdalam ilmu agama Islam di Mesir. Al-Qur’an Musyhaf diselesaikan Stambul pada tahun 1867.

Yang tersisa dari Kerajaan Indera Sakti itu hanyalah puing-puing bangungan kerajaan, kantor pusat pemerintahan, dan tempat tinggal raja. Menurut penduduk sekitar, pada masa kependudukan Belanda, Kerajaan Indera Sakti dihancurkan. Beberapa tempat direnovasi sehingga bisa dijadikan objek wisata. Salah satunya yang terpelihara adalah Masjid Raya Sultan Riau.

Di Pulau Penyengat ini pulalah terdapat makam salah satu pahlawan nasional di bidang Bahasa Indonesia, yakni Raja Ali Haji. Ia dinobatkan menjadi Bapak Bahasa Melayu-Indonesia dan Budayawan di gerbang abad XX. Karya sastra Raja Ali Haji yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas.

3 Comments Add yours

  1. oh this is it. thanks for writing about my place, baby.

  2. mia says:

    Hi Elisabetyas,
    Kalau explore Pulau Bintan 2 hari cukup gak ya?Kalo mau sewa mobil kira kira pasaran berapa harganya untuk sehari?Tolong infonya ya.Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s