08.00 am

Hari kedelapan, pukul delapan pagi… Tetap saja pemandangan itu tak berubah. Haris selalu datang tepat waktu dan selalu dilihatnya sang kekasih memakai baju putih, duduk di depan jendela. Hanya satu hal yang berbeda, jika biasanya gadisnya hanya melamun, kini wajahnya berseri-seri. Satu tangannya memegangi botol infus, tangan lainnya membalik-balik album foto yang diletakkan di pangkuannya.

“Wow Haris! Senang kamu datang lagi. Aku lagi lihat album foto yang kita buat tahun lalu. Di foto-foto ini, aku belum terlihat sekurus sekarang,” kata Marissa sambil tersenyum.

Haris mengecup puncak kepala Marissa seraya menyodorkan satu buket bunga lily putih. Tanpa berkata, Haris menarik kursi ke sebelah Marissa, dan ikut memandang foto-foto yang menjadi bukti keceriaan mereka dulu.

“Ini waktu ulang tahun kamu ke-25, Haris. Kamu dikerjain, disuruh pakai baju nenek-nenek, tapi kamu tetap ganteng kok,” tutur Marissa tulus.

Haris berusaha tersenyum manis. “Kamu yang punya ide gila itu, kan? Demi kamu, aku rela lakukan apapun.”

“Sekarang pun kamu mau lakukan apapun untuk aku meski aku sudah tidak cantik lagi?” kata Marissa sambil menggigit bibir bawahnya.

“Kata siapa kamu tidak cantik lagi? Dalam keadaan apapun kamu tetap terlihat cantik, Rissa.” Kata-kata itu sama sekali tak benar. Haris hanya berusaha menghibur Marissa.

Senyum merekah lagi di wajah Marissa. “Jawab aku, apa kamu masih mau lakukan apapun untuk aku?”

“Sure.”

“Marry me, please.”

Haris tersentak mendengar penuturan Marissa itu. Ia sama sekali tak siap jika harus menikahi Marissa. “Rissa, kita menikah kalau kamu sudah sembuh, ya.”

Mata Marissa semakin berbinar, mata yang beberapa bulan terakhir kehilangan warnanya. “Aku akan sembuh untuk kamu, aku janji.”

Hati Haris pedih mendengar penuturan Marissa itu. Lebih pedih lagi ketika ia harus berbohong untuk menikahi Marissa. Penyakit itu menggoyahkan segala keyakinan dan meruntuhkan kebahagiaan Haris secara perlaham. Bahkan dirinya tak tahu apakah ia bisa bertahan menemani Marissa melawan penyakitnya hingga entah kapan.

Marissa menghirup wangi bunga lily yang sejak tadi digenggamnya “Kenapa setiap hari kamu bawakan aku bunga yang berbeda-beda?”

“Aku cuma mau kamar rumah sakitmu ini terlihat lebih ceria dan berbau harum,” kata Haris.

“Tapi kamu nggak pernah bawakan aku mawar putih. Itu kan kesukaanku,” kata Marissa manja.

“Nanti ada waktunya…” Nanti ada waktunya jika keajaiban benar-benar datang dan kamu sembuh, Marissa, katanya dalam hati.

Raut wajah Marissa tiba-tiba menjadi sedih. “Maaf, aku nggak bisa membahagiakan kamu seperti dulu. I lost my left breast…” Marissa mulai terisak. “Dan mungkin sebentar lagi, aku nggak punya rambut lagi. Besok aku mulai kemoterapi.”

Haris menarik tubuh Marissa ke dalam pelukannya. “Ssstt, jangan menangis, Marissa. Kebahagiaan seperti apa yang kamu maksudkan?”

“You know, we used to make love long time ago,” tutur Marissa gugup.

Haris mendengus. “Apa kamu pikir hanya itu yang bikin aku bahagia? Aku bahkan nggak memikirkan itu sekarang. Yang aku mau hanya kamu sembuh.”

“Aku tahu kadang aku terlihat bodoh. Aku pikir kamu akan pergi ninggalin aku. Kamu kenal aku sebagai Marissa yang cantik dan menarik. Itulah kenapa dulu kamu suka aku, kan? Sekarang bentukku begini, apa kamu masih menyayangiku dengan cara yang sama?” kata Marissa dalam tangisnya.

Mulut Haris membuka-menutup, Marissa tak melihat itu. Namun, kata-kata Marissa mendekati kebenaran. Haris sebenarnya tak mampu menerima kondisi fisik dan mental Marissa saat ini. Marissa selalu menjadi kekasih kebanggaannya. Ia senang ketika orang memuji kecantikan paras dan keelokan tubuh Marissa. Itu membuatnya bangga. Dan sekarang, Haris bahkan tak mengerti mengapa perasaannya berubah.

“Sayang, jangan berpikiran seperti itu. Kamu harus tetap tenang, ya. Besok kemoterapi pertamamu, pikirkan hal baik supaya semuanya berhasil.” Diusapnya bulir-bulir air mata dari kelopak mata Marissa. Haris mengecup puncak kepala Marissa sekali lagi. “Aku harus pergi, Rissa, thesisku harus diselesaikan sesegera mungkin.”

Haris beranjak berdiri dan Marissa segera meraih tangan Haris. “You don’t kiss me?”

Marissa sudah hendak memagut dan melumat bibir Haris, namun Haris hanya memberikan satu kecupan singkat sebelum akhirnya beranjak pergi. Haris tak menatapnya lagi ketika menghilang dari balik pintu. Marissa menggigit bibir bawahnya, air matanya keluar lagi. Hal yang paling ditakutkannya sedang terjadi sekarang. Tidak, ia tidak takut mati, ia hanya takut Haris meninggalkannya.

***

“Marissa, kamu nggak bisa terus diam di sini. Sebentar lagi kamu harus menjalani kemoterapi,” kata Ibunya dengan lembut sambil membelai rambut Marissa.

Marissa hanya menggeleng. “Aku nggak mau dikemoterapi sebelum Haris datang ke sini. Ini udah jam delapan, tapi dia belum datang.”

“Mungkin Haris sedang sibuk, belum sempat kabari kamu. Atau sebenarnya dia sedang dalam perjalanan ke sini, tapi terjebak macet. Nanti kamu bisa ketemu dia setelah kemoterapi selesai, Sayang,” kata Ibunya sabar.

“Hubungi dia sekarang, Ibu. Aku mau tahu di mana dia, jam berapa dia akan ke sini.”

Ibunya menghela nafas panjang. “Sudah sepuluh kali Ibu meneleponnya, tapi tidak diangkat.”

“Coba lagi, please.”

Ibunya mengambil ponselnya dan berjalan menjauhi Marissa. Ia menelepon Haris untuk puteri tercintanya.

“Halo Nak Haris. Di mana sekarang? Marissa nunggu Nak Haris datang….” Ibunya terlihat menyimak perkataan Haris di seberang telepon. “Oh, mendadak ada pertemuan dengan dosen ya?” Hening menyusul perkataan Ibu. “Ya, Ibu akan bilang ke Marissa nanti siang Nak Haris baru akan ke sini.”

Senyum tersungging di bibir Ibunya ketika menghampiri Marissa. “Apa kata Ibu, Haris hanya sedang sibuk. Dia akan ke sini setelah kamu selesai menjalani kemoterapi siang nanti.”

Marissa tersenyum cerah mendengar kabar itu. Ia mengizinkan Ibunya mendorong kursi rodanya ke ruang kemoterapi. Senyum Ibunya memudar ketika mendorong kursi roda Marissa. Sebenarnya tadi dia tidak berbicara dengan siapa-siapa melalui telepon. Usahanya sia-sia, Haris tetap tak mengangkat telepon itu.

***

Hari kedua puluh tiga, pukul delapan pagi… Haris memandang ratusan daftar panggilan tak terjawab di ponselnya dua minggu terakhir ini. Ia mengurung dirinya di kamar, berkutat di depan laptop, berusaha menyelesaikan thesis-nya. Ia mau melakukan apapun untuk mengenyahkan segala pikiran tentang Marissa. Memikirkan Marissa hanya membuatnya sengsara.

Selama ini Haris menerima kenyataan bahwa Tuhan baik kepadanya, memberikan segala kebahagiaan kepadanya. Namun, mengapa Tuhan sepertinya saat ini hendak merenggutnya. Tak inginkah Tuhan hanya melihat hambanya bahagia suatu saat menikah dengan gadis sempurna. Ya, Marissa-lah gadis sempurna itu. Siapa yang tak akan jatuh cinta kepada gadis cantik yang memiliki segudang prestasi, nyaris menyelesaikan program doktornya? Haris hanya ingin hidup normal, menikah dengan perempuan normal tanpa penyakit, lalu memiliki keturunan. Mimpi-mimpi yang dibangunnya bersama Marissa sangat jauh dari kenyataan sekarang.

Suara deham tertahan membuyarkan lamunan Haris. Ia menoleh dan dilihatnya Ayahnya duduk di kasur, di belakang meja kerja Haris.

“Kamu yakin sangat ingin menyelesaikan thesis-mu saat ini? Kamu yakin kamu bukan hendak melarikan diri dari kenyataan?” kata Ayahnya tanpa basa-basi.

“Apa maksud Ayah?” tanya Haris, berpura-pura tak paham.

“Marissa.”

Haris memutar kursinya lagi ke arah laptop. “Tetap tak mengerti maksud Ayah.”

Ayahnya berjalan dan duduk di sisi meja kerja Haris. “Ayah tahu kau sedang bimbang, kau menyesali keadaan Marissa sekarang. Tapi hanya sebesar itukah rasa cintamu?”

“Ayah tidak tahu apa-apa.”

“Ya, Ayah sangat tahu apa yang kaupikirkan. Coba sadari bahwa selama ini kau hanya mencintai Marissa karena atribut yang melekat pada dirinya. Kau mencintainya hanya karena dia cantik dan hebat. Kau hanya mencintai kelebihannya, tapi kau menolak melihat kekurangannya. Sekarang ketika kekurangan paling dasyat itu mencuat ke permukaan, kau tak bisa terima itu dan memutuskan untuk meninggalkannya perlahan.”

Mata ayahnya memandang tajam ke dalam mata Haris. Ia tahu perkataan itulah kebenarannya. Haris malu mengakui hal itu, maka ia pun mencari berbagai macam alasan untuk tak membenarkan pemikiran sebenarnya itu.

“Nak, Ayah tak membesarkanmu untuk menjadi seorang pecundang. Cintailah dia layaknya seorang perempuan. Buatlah dia sempurna, bukan karena kelebihannya, melainkan karena kekurangannya.”

Seraya berkata demikian, Ayahnya menepuk pundak Haris dan berjalan keluar dari kamar Haris.

***

Hari kedua puluh empat, pukul delapan pagi… Haris berjalan di depan rumah sakit tempat Marissa dirawat dengan perasaan riang. Semalaman ia mengalami pergolakan batin yang amat hebat sejak mendengar perkataan ayahnya. Ia tak lagi peduli pada fisik Marissa sekarang, yang pedulikannya hanyalah kecantikan hati Marissa.

Dilihatnya kekasihnya itu duduk di balik jendela, melamun. Tatapan matanya semakin sengsara dan wajahnya jauh dari kategori cantik dengan kepala botaknya sekarang. Namun, hal itu tak lagi mengusik perasaan Haris. Ia melambaikan tangannya ke arah Marissa yang berada di lantai lima, namun gadis itu tak melihatnya.

Haris memutuskan untuk memberinya kejutan. Hari ini ia membawa sebuket mawar putih kesukaan Marissa. Janjinya dua minggu lalu, ia akan membawa mawar putih ketika Marissa sembuh. Namun, sekarang ia tak peduli, baginya Marissa selalu sehat. Setidaknya Haris-lah yang sembuh dari “sakit” mentalnya. Marissa pasti akan senang jika sekarang Haris mengutarakan niatnya untuk menikahi Marissa, tak peduli Marissa sudah sembuh atau belum.

Dengan jantung berdegup kencang, Haris terdiam sejenak sebelum mengetuk pintu ruang rawat Marissa. Ia berpikir mungkin sekarang Marissa membencinya, bahkan mungkin akan muak melihat wajahnya. Haris tak berpikir panjang lagi, ia berniat menerobos masuk tanpa mengetuk, dan langsung memeluk tubuh kekasihnya itu.

Marissa tak lagi duduk di kursi, di depan jendela. Tempat tidurnya pun kosong. Haris bertanya-tanya apa mungkin suster membawanya keluar kamar untuk melakukan pemeriksaan tertentu atau sekedar untuk berjalan-jalan. Dilihatnya jendela itu terbuka lebar, kordennya berkibar-kibar tertiup angin.

Haris melangkah ke kursi tempat Marissa beberapa saat lalu duduk, dan menemukan album foto yang masih terbuka. Di belakang sampul depan album foto itu tertera tulisan tangan Marissa.

I’ve loved you from the first day I met you. I love you not because you are a great man.

I love you just the way you are. But then I found that you don’t love me that way.

I love you because I can’t live without you.

I love you until I die, Haris…

Mendadak dingin merayapi tubuhnya. Tangan Haris bergetar hebat saat ia memberanikan diri memandang ke bawah jendela. Banyak orang berkumpul mengerumuni sesuatu. Haris hanya melihat darah tercecer di sekitar kerumunan orang itu. Seketika jerit mengerikan keluar dari mulut Haris.

Ia sudah terlambat sejak dua minggu lalu, dan Marissa tak akan pernah mendengar ketulusan cinta Haris. Kali ini, Haris menyadari kebahagiaannya yang sebenarnya telah direnggut dari dirinya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s