Travel Around Japan (Day # 7) : The Beautiful Cherry Blossoms at Chureito Pagoda and The Stunning Evening at Marunouchi.

*I wrote this post in two languages. Scroll down after the English version if you want to read this post in Bahasa Indonesia .* 

After eight hours of sleep, on the seventh day we woke up earlier in the morning to head to Chureito Pagoda. It was me who woke up earlier than my husband to pack our stuff and buy something to eat. Two onigiris seemed enough to fulfill our tummies this morning. Why onigiris? It was so simple so that you could eat it while at the train to Chureito Pagoda. At 06.00 am I stepped out from our hotel to go to 7/11. At that time, the sun had already risen, the roads at Kawaguchiko were still empty. The view Kawaguchiko Station without the crowd of people and buses looked stunning with Mount Fuji as the background. I stopped for a while to enjoy the view while Mountain Fuji didn’t hide behind the clouds (it was a rare event). And of course, I took picture of it.

Setelah istirahat yang cukup malam kemarin, pada hari ketujuh ini kami bangun cukup pagi untuk menuju Chureito Pagoda. Saya bangun lebih pagi dari suami untuk packing dan membeli sarapan. Saya memutuskan untuk membeli onigiri saja sebagai sarapan karena bisa dimakan saat kami di kereta menuju Chureito Pagoda. Jam 06.00 am saya sudah keluar dari hotel ke 7/11 dan matahari sudah terbit. Jalanan di sekitar area Kawaguchiko masih sepi. Kawaguchiko Station yang sepi dari kendaraan lalu lalan dan lautan orang terlihat memukau dilatarbekalangi Gunung Fuji pagi itu. Saya berhenti sebentar untuk mengambil pemandangan cantik itu.

IMG_6425
Kawaguchiko Station and Mount Fuji in The Morning

We departed at 07.00 am. Just because Cherry Blossoms were in full bloom in the middle of April 2016 at Chureito Pagoda, there would be so many visitors at there. And I was right. It was 07.30 am, there were so many photographers who were already standing at the best spots to take clear view of Mountain Fuji, Chureito Pagoda, and Cherry Blossoms. 

Kami berangkat pukul 07.00 am karena pada musim semi pertengahan April 2016, Sakura sedang full bloom di sini sehingga kemungkinan semakin siang akan semakin banyak pengunjung di Chureito Pagoda. Sebelum jam 07.30 am saja sudah banyak fotografer memadati Chureito Pagoda. Wajar saja banyak fotografer di sana karena terdapat spot di mana mereka bisa mengambil gambar Chureito Pagoda dan Sakura yang dilatarbelakangi Gunung Fuji.

Chureito Pagoda is not included in Retro Red Line Bus’ route. To get there, visitors have to take train from Kawaguchiko Station to Shimoyosida  Station for about 13-15 minutes. When you stepout from Shimoyosida Station, don’t be confused of getting lost because there will be flags everywhere as the marks how to get to Chureito Pagoda. You just have to follow the flags along the road. It took 10-15 (depend on how you walk) to get to Chureito Pagoda from Shimoyosida Station. 

Chureito Pagoda tidak termasuk jalur yang dilewati Retro Red Line Bus. Menuju ke sana, wisatawan perlu naik kereta dari Kawaguchiko Station ke Shimoyosida Station sekitar 13-15 menit. Saat keluar dari Shinoyosida, Anda tak perlu khawatir akan tersesat karena ada bendera yang ditancapkan di tanah sebagai penanda jalur yang harus ditempuh ke Chureito Pagoda. Diperlukan waktu 10 – 15 menit untuk berjalan dari Shimoyosida Station ke Chureito Pagoda.

Chureito Pagoda was located on the top of the hill. There are two options to reach the top. First choice, visitors can go to the top by climbing the stairs. It has the nearest distance but it will be tiring to climb the stairs uphill. Second choice, visitors can take the longer distance by walk through the side of the hill without stairs. This route will make you “less-tired”.  Me and my husband took the first choice because the view in the both sides stairs were so beautiful, where so many Sakura trees were laid there.  

Chureito Pagoda berada di puncak bukit. Kita bisa mencapai ke atas dengan menaiki anak tangga yang jaraknya tidak terlalu jauh atau mengambil jalan memutar yang lebih jauh namun tidak terlalu melelahkan. Saya memilih menaiki anak tangga karena pemandangan di sisi kanan kiri tangga sangat indah, dipenuhi pohon-pohon Sakura. 

Sakura in The Both Sides of The Stairs
 

In the half of first route to the top, Mount Fuji was clearly seen as the background of Sakura flowers at Chureito Pagoda area. When we arrived at the top, where Chureito Pagoda was standing, we’re sort of disappointed because it was so crowded, flooded by photographers. Another disappointment came when we saw the clouds blocked the view of Mountain Fuji. But, it was okay, we still could see the view of Kawaguchiko area and theSakura everywhere from the top. We were still blessed. Thank you God. 

Pada saat saya separuh perjalanan menaiki anak tangga, Gunung Fuji terlihat jelas melatarbelakangi bunga-bunga Sakura di area Chureito Pagoda. Ketika kami tiba di puncak, tempat di mana Chureito Pagoda berada, kami cukup kecewa karena tempat itu sudah dipenuhi fotografer sehingga spot-spot menarik sudah habis diambil para fotografer. Kekecewaan kami bertambah saat melihat Gunung Fuji sudah tertutup awan. Tapi tidak apa-apa, kami masih bisa menikmati pemandangan area Kawaguchiko di kejauhan dan lautan Sakura di mana-mana. We were still blessed. Thanks God.

   

At 09.00 am we went back to Kawaguchiko Station to go to Shibazakura Festival. Shibazakura Festival is pink moss or phlox moss festival which was held in the middle of April to the end of May every year. People say, when you get there, you will see an enormous garden which is covered by pink and purple carpets with Mountain Fuji as the background. 

Pukul 09.00 kami menyudahi pesiar kami di Chureito Pagoda dan bergegas menuju Shibazakura Festival. Shibazakura Festival adalah festival bunga pink moss atau phlox moss yang diselenggarakan dari pertengahan April hingga akhir Mei setiap tahunnya. Konon katanya saat tiba di sana Anda akan melihat taman yang luas seperti terhampar karpet merah muda dan ungu di atasnya dilatarbelakangi Gunung Fuji.

At that time, April 16th 2016 was the first day when Shibazakura Festival started. We visited Kawaguchiko right on time as planned so that we could see those phlox moss flowers. But, the Shibazakura Liner ticket officer told us that phlox moss flowers hadn’t bloomed yet, it only bloomed 10% at that time. It would be disappointing if we went there because the view wouldn’t be so spectacular. 

Kala itu 16 April 2016 merupakan hari pertama diselenggarakannya Shibazakura Festival. Saya memang merencanakan kunjungan saya ke Kawaguchiko agar tepat pada saat bunga-bunga phlox moss ini bermekaran. Betapa kecewanya saya ketika penjaga tiket loket bus Shibazakura Liner mengatakan bahwa bunga-bunga di Shibazakura itu baru tumbuh sekitar 10% saja, maka akan sayang sekali bila kita menuju ke sana karena pemandangannya belum terlalu bagus.

Kami pun menuruti saran penjaga loket tiket bus itu. Dalam hati saya bertekad akan kembali lagi ke sana apabila Shibazakura Festival berada di puncaknya, yaitu sekitar awal bulan Mei. Bagi Anda yang ingin mengunjungi Shibazakura Festival, ada baiknya datang di akhir bulan April hingga pertengahan Mei. Tiket masuk ke Shibazakura biasanya dibanderol dengan harga pulang-pergi naik Shibazakura Liner, yaitu JPY 2.000. Cukup mahal, bukan?

Karena tidak ada lagi tempat di Kawaguchiko yang ingin kami kunjungi, kami pun menuju Tokyo lebih awal dari jadwal kami sebelumnya. Mengingat tubuh kami sudah terlalu lelah, kami memutuskan ke Tokyo menggunakan highland bus seharga JPY 1.750 dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Memang rugi sih naik bus karena kami memiliki JR Pass. Namun, bila dihitung-hitung kerugian kami hanya sekitar JPY 610 (perjalanan kereta dari Kawaguchiko Sta ke Otsuki Sta tidak dicover JR Pass), selain itu sepanjang perjalanan kami bisa tidur—hal yang tak bisa kami lakukan apabila kami naik kereta dengan transit berkali-kali.

Tiba di Tokyo Station hari masih sore. Kami pun langsung menuju ke hotel kami, Flexstay Inn di Higashi Jujo, sekitar lima belas menit naik kereta dari Tokyo Station. Sampai di hotel, kami mandi dan beristirahat sejenak. Jam 06.00 pm kami memutuskan untuk pergi ke Akihabara, mau melihat Gundam Café, AKB 48 Shop, dan pertokoan eletronik di daerah itu. Pemandangan area Akihabara sungguh mencerminkan kota gamers dan eletronik karena sebagian besar gedung-gedung di sana dihiasi lampu neon berwarna-warni dengan banyak electric billboard yang menayangkan beragam iklan. Kalau tidak ingat kantong uang kami yang sudah menipis, mungkin kami akan memborong beragam alat elektronik yang dijual di sana. Kami hanya membeli koper ukuran kabin di Don Quijote.

Selesai eksplor Akihabara, saya memohon ke suami saya agar ke Tokyo Station dulu sebelum kembali ke Higashi Jujo. Alasan saya simple, saya ingin melihat penampakan Tokyo Station dari Marunouchi District di malam hari karena katanya Tokyo Station terlihat seperti istana yang megah di sekeliling gedung bertingkat. Ternyata memang demikian. Jadi bila ada kesempatan ke Tokyo Station pada malam hari, sempatkanlah keluar di gate Marunouchi Exit untuk sekedar menikmati pemandangan Tokyo Station.   

Tokyo Station Dilihat dari Marunouchi District
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s